Senegal Siap Ulang Kejutan 2002: Hadapi Prancis di Laga Perdana Piala Dunia 2026
Baca dalam 60 detik
- Senegal akan membuka Piala Dunia 2026 melawan Prancis pada 16 Juni di New Jersey, mengulang duel legendaris edisi 2002 yang berakhir dengan kemenangan 1-0 untuk tim Afrika.
- Tim berjuluk Singa Taranga ini masih diliputi kontroversi gelar Piala Afrika yang dicabut CAF, namun tampil perkasa di kualifikasi dengan 22 gol dan hanya kebobolan tiga kali.
- Dengan 20 pemain dari lima liga top Eropa, Senegal dinilai sebagai salah satu wakil Afrika terkuat dan berpotensi menembus perempat final seperti debut mereka 24 tahun lalu.

Senegal akan mengulang skenario bersejarah saat berhadapan dengan Prancis pada laga pembuka Grup B Piala Dunia 2026, 16 Juni mendatang di Stadion MetLife, New Jersey. Pertemuan ini mengingatkan pada kejutan monumental 24 tahun silam ketika Singa Taranga—kala itu debutan—menaklukkan juara bertahan Prancis 1-0 di Seoul.
Tim asuhan Pape Thiaw datang ke Amerika Serikat dengan status juara Afrika yang masih disengketakan. Pada Januari lalu, Senegal memenangi final Piala Afrika melawan Maroko melalui drama panjang—termasuk aksi walk-off pemain setelah hadiah penalti kontroversial di masa injury time. Namun, Konfederasi Sepak Bola Afrika (CAF) kemudian mencabut gelar tersebut, dan Senegal mengajukan banding ke Pengadilan Arbitrase Olahraga (CAS).
Meski gelar belum jelas, performa Senegal di kualifikasi tak terbantahkan. Mereka memuncaki Grup B tanpa kekalahan, dengan tujuh kemenangan dalam sepuluh pertandingan, mencetak 22 gol dan hanya kebobolan tiga kali. Catatan ini menunjukkan soliditas yang sulit ditandingi tim Afrika lain di turnamen ini.
Kekuatan utama Senegal terletak di lini tengah yang digalang kapten Idrissa Gueye, didukung opsi serang sayap seperti Sadio Mané, Iliman Ndiaye, dan Ismaila Sarr. Namun, masalah klasik tetap ada: ketiadaan pencetak gol haus gol di pos ujung tombak. Nicolas Jackson, yang musim ini mencetak 11 gol untuk Bayern Munich, baru mengoleksi lima gol dalam 23 penampilan bersama timnas—sebuah rasio yang perlu ditingkatkan di panggung terbesar.
Pelatih Pape Thiaw, yang menggantikan Aliou Cissé pada 2024, sempat bereksperimen dengan formasi tiga bek di laga uji coba Maret. Namun, skema 4-3-3 yang terbukti efektif saat mengalahkan Inggris 3-1 tahun lalu diperkirakan menjadi andalan. Thiaw sendiri masih dibayangi kontroversi final Piala Afrika, di mana ia memicu aksi walk-off yang berujung pencabutan gelar.
Dari sisi pemain muda, perhatian tertuju pada Ibrahim Mbaye, remaja PSG yang menjadi pencetak gol termuda Senegal saat debut melawan Kenya November lalu. Ia disebut-sebut sebagai pewaris tahta Mané. Sementara itu, Sadio Mané—yang cedera menjelang Piala Dunia 2022 dan tak tampil di Qatar—kembali menjadi motor serangan setelah menjadi top skor kualifikasi.
Bagi Indonesia, perjalanan Senegal menarik dicermati sebagai contoh bagaimana negara Afrika membangun tim kompetitif melalui diaspora pemain di Eropa. Dengan jumlah pemain dari liga top yang setara Argentina, Senegal menunjukkan bahwa investasi pada pemain naturalisasi dan pembinaan usia dini bisa mendongkrak prestasi. Keberhasilan mereka di Piala Dunia nanti bisa menjadi inspirasi bagi pengembangan sepak bola nasional.
Pertanyaan besarnya: mampukah Senegal mengulang kejutan 2002, atau justru terjerat kontroversi di luar lapangan? Dengan skuad bertabur bintang dan rekor tak terkalahkan yang mengesankan, Singa Taranga layak diperhitungkan sebagai kuda hitam yang bisa melangkah jauh—bahkan mungkin melampaui capaian perempat final pertama mereka.


:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8062508/original/005179000_1780906904-7.jpg)