Badai Petir Mengintai Piala Dunia 2026: Aturan Ketat dan Potensi Kekacauan Jadwal
Baca dalam 60 detik
- Piala Dunia 2026 di AS, Kanada, dan Meksiko berlangsung pada puncak musim badai petir, meningkatkan risiko penundaan pertandingan secara massal.
- Aturan ketat mewajibkan evakuasi stadion jika sambaran petir terdeteksi dalam radius 13 kilometer, dengan hitung mundur 30 menit yang dapat berulang.
- FIFA belum memiliki batas waktu maksimal penundaan, sehingga pertandingan bisa berlangsung hingga dini hari atau dijadwal ulang keesokan harinya.

Piala Dunia 2026 yang akan digelar di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko menghadapi ancaman serius dari cuaca ekstrem: badai petir yang lazim terjadi pada musim panas di kawasan tersebut. FIFA, sebagai penyelenggara, tidak memiliki kewenangan untuk membuat aturan sendiri dan harus mengikuti rekomendasi otoritas setempat, termasuk standar ketat dari National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) yang mewajibkan penghentian pertandingan jika sambaran petir terdeteksi dalam radius 13 kilometer dari stadion.
Pengalaman turnamen sebelumnya, seperti Piala Dunia Antarklub 2024 di Charlotte, Carolina Utara, menjadi gambaran nyata. Pertandingan Chelsea melawan Benfica dihentikan pada menit ke-86 karena badai petir dan baru dilanjutkan setelah hampir dua jam, sehingga total waktu pertandingan mencapai 4 jam 38 menit. Enam pertandingan lain di turnamen yang sama juga mengalami nasib serupa. Dengan 48 tim dan 104 pertandingan di Piala Dunia 2026, potensi gangguan cuaca menjadi momok bagi jadwal yang sudah padat.
Aturan yang diterapkan cukup ketat. Begitu petir terdeteksi dalam radius aman, semua pemain dan penonton harus meninggalkan lapangan dan tribun menuju tempat berlindung. Hitung mundur 30 menit dimulai, tetapi setiap sambaran petir baru dalam radius tersebut akan mengatur ulang waktu menjadi 30 menit lagi. Jika tidak ada sambaran selama 30 menit penuh, pertandingan dapat dilanjutkan setelah pemanasan singkat. Tidak ada batas waktu maksimal penundaan; keputusan diambil berdasarkan kasus per kasus dengan mempertimbangkan keselamatan dan jam pulang penonton.
Kota-kota tuan rumah di wilayah tenggara AS dan pesisir Teluk, seperti Atlanta, Boston, Dallas, Houston, Kansas City, Miami, dan New Jersey, menjadi titik rawan. Meksiko juga tidak luput, dengan Mexico City dan Monterrey yang rentan terhadap badai petir. Namun, beberapa stadion seperti di Atlanta, Dallas, dan Houston memiliki atap tetap atau retractable yang dapat mengurangi dampak. Pertandingan Inggris melawan Kroasia di Dallas akan berlangsung di dalam ruangan, tetapi laga berikutnya melawan Ghana di Boston dan Panama di New Jersey tetap terbuka terhadap cuaca. Skotlandia, yang akan bermain di Boston dan Miami, juga berpotensi mengalami penundaan.
Jika pertandingan terpaksa dihentikan dan kondisi tidak membaik, FIFA memiliki opsi untuk menjadwalkan ulang sisa pertandingan pada hari berikutnya, dimulai dari menit yang sama saat pertandingan dihentikan. Misalnya, jika laga berhenti pada menit ke-76, maka hanya 14 menit sisa yang akan dimainkan. Namun, skenario ini menjadi rumit jika beberapa pertandingan grup terakhir yang seharusnya dimainkan bersamaan harus dihentikan, atau jika babak knockout memerlukan perpanjangan waktu dan adu penalti.
Perubahan iklim turut memperparah situasi. Suhu global yang meningkat menyebabkan udara lebih hangat dan lembap, meningkatkan frekuensi dan intensitas badai petir. Dibandingkan 30 tahun lalu, Amerika Serikat kini mengalami lebih banyak cuaca ekstrem. Hal ini kontras dengan Eropa, di mana penundaan akibat badai petir jarang terjadi karena sepak bola umumnya dimainkan di musim dingin. Contoh langka adalah laga Jerman melawan Denmark di Euro 2024 yang terhenti 25 menit akibat petir.
Bagi penggemar sepak bola di Indonesia, Piala Dunia 2026 mungkin akan menjadi tontonan yang unik. Pertandingan bisa berlangsung hingga larut malam waktu setempat, atau bahkan tertunda hingga keesokan harinya. FIFA harus menyiapkan rencana kontinjensi yang matang agar turnamen bergengsi ini tidak tercoreng oleh kekacauan jadwal akibat ulah alam. Akankah Piala Dunia pertama yang digelar di tiga negara ini justru dikenang karena badai petirnya?

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8062508/original/005179000_1780906904-7.jpg)

:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/4941410/original/042676400_1725975688-20240910BL_Indonesia_vs_Australia-14.JPG)