Paraguay Kembali ke Panggung Piala Dunia 2026: Perjalanan dari Mimpi Buruk ke Harapan Baru
Baca dalam 60 detik
- Paraguay lolos ke Piala Dunia 2026 setelah 16 tahun absen, finis di peringkat keenam kualifikasi CONMEBOL dengan kemenangan atas Brasil dan Argentina.
- Pelatih Gustavo Alfaro, yang ditunjuk pada Agustus 2024, membalikkan performa tim yang sempat terpuruk hanya dengan satu kekalahan dalam 12 laga kualifikasi.
- Tim berjuluk La Albirroja akan menghadapi Amerika Serikat, Turki, dan Australia di fase grup, dengan ambisi melampaui pencapaian terbaik mereka: perempat final 2010.
Setelah absen selama tiga edisi, Paraguay akhirnya memastikan tiket ke Piala Dunia 2026. Kepastian itu diraih berkat finis di peringkat keenam babak kualifikasi zona CONMEBOL, sebuah pencapaian yang terasa dramatis mengingat posisi tim sempat terpuruk di awal kualifikasi. Kini, La Albirroja bersiap menulis ulang sejarah di Amerika Utara, tempat mereka akan berhadapan dengan Amerika Serikat, Turki, dan Australia di fase grup.
Kunci kebangkitan Paraguay ada di tangan Gustavo Alfaro. Pelatih asal Argentina ini mengambil alih tim pada Agustus 2024 saat Paraguay baru mengumpulkan lima poin dari enam laga. Dalam debutnya, ia memetik hasil imbang tanpa gol melawan Uruguay di kandang lawan. Hanya satu kekalahan tipis dari Brasil yang mewarnai 12 pertandingan kualifikasi di bawah asuhannya. โSaya ingin Paraguay menjadi tim yang tak ingin dihadapi siapa pun,โ ujar Alfaro saat diperkenalkan, menegaskan ambisinya untuk membentuk skuad dengan mentalitas baja.
Perjalanan kualifikasi Paraguay diwarnai kejutan-kejutan besar. Mereka menaklukkan Brasil 1-0 dan Argentina 2-1, dua raksasa Amerika Selatan. Format baru Piala Dunia 2026 yang memperluas jatah otomatis CONMEBOL menjadi enam negara memang membantu, tetapi kemenangan atas tim-tim papan atas membuktikan bahwa tempat ini layak diperjuangkan. Bagi pengamat sepak bola Indonesia, kisah Paraguay menjadi pelajaran tentang pentingnya konsistensi dan keberanian mengambil risiko di bawah tekanan.
Pencapaian terbaik Paraguay terjadi pada 2010, saat mereka melaju hingga perempat final. Di Afrika Selatan, mereka memuncaki Grup F setelah menahan Italia 1-1, mengalahkan Slovakia 2-0, dan bermain imbang tanpa gol melawan Selandia Baru. Di babak 16 besar, adu penalti yang menegangkan melawan Jepang berakhir dengan kemenangan setelah Paraguay mengonversi seluruh lima tendangan. Namun, langkah mereka terhenti oleh Spanyol yang akhirnya menjadi juara. David Villa menjadi mimpi buruk setelah mencetak gol tunggal di menit ke-83, setelah sebelumnya Oscar Cardozo gagal mengeksekusi penalti dan Justo Villar menggagalkan tendangan Xabi Alonso.
Sejarah panjang Paraguay di Piala Dunia menyimpan banyak cerita heroik. Mereka termasuk peserta edisi perdana pada 1930. Setelah absen 28 tahun, mereka kembali pada 1986 dan langsung lolos ke babak gugur. Pada 1998, kiper legendaris Josรฉ Luis Chilavert menjadi pahlawan di bawah mistar, meski akhirnya harus mengakui keunggulan tuan rumah Prancis lewat gol emas Laurent Blanc. Dua kemenangan terbesar mereka terjadi saat mengalahkan Slovenia 3-1 pada 2002 (setelah tertinggal dan kehilangan satu pemain) dan Slovakia 2-0 pada 2010.
Bagi Indonesia, perjalanan Paraguay memberikan gambaran bahwa sepak bola tidak selalu linier. Tim yang sempat dianggap mati suri bisa bangkit dengan kepemimpinan yang tepat dan keberanian merekrut pelatih asing. Alfaro, yang sebelumnya menangani Ekuador dan Kosta Rika, membawa pengalaman dan pendekatan baru yang langsung berdampak. Pertanyaan besarnya: akankah Paraguay mampu melampaui capaian 2010? Atau justru menjadi tim kejutan seperti Kosta Rika pada 2014? Jawabannya akan mulai terlihat pada Juni 2026.



