Carlos Cuesta, Pelatih Termuda di Liga Top Eropa yang Pernah Jadi Asisten Arteta
Baca dalam 60 detik
- Carlos Cuesta, 30 tahun, menjadi pelatih kepala termuda di lima liga top Eropa setelah menangani Parma di Serie A dan membawa tim finis ke-13.
- Mantan asisten Mikel Arteta di Arsenal selama lima tahun, Cuesta membangun fondasi permainan pragmatis dengan formasi 5-3-2 yang mengutamakan soliditas pertahanan.
- Filosofi kepelatihannya menekankan prinsip kolektif dan adaptasi terhadap karakter pemain, bukan sekadar sistem taktik kaku.

Di usia 30 tahun, Carlos Cuesta resmi menjadi pelatih kepala termuda di lima liga top Eropa setelah menangani Parma di Serie A musim 2025/26. Pria asal Spanyol ini bukanlah nama asing di dunia kepelatihan: ia menghabiskan lima tahun sebagai asisten Mikel Arteta di Arsenal sebelum memutuskan mengambil tantangan pertamanya sebagai manajer utama di Italia.
Cuesta memulai karier kepelatihannya sejak usia muda. Setelah pensiun sebagai pemain di usia 18 tahun, ia mengambil gelar ilmu olahraga dan nekat menghubungi staf Real Madrid serta Atletico Madrid melalui media sosial. Langkah berani itu membawanya menjadi sukarelawan di tim muda Atletico, yang kemudian menjadi batu loncatan penting. "Saya sangat beruntung menemukan orang-orang yang membuka pintu pengetahuan mereka," ujarnya.
Di Arsenal, Cuesta belajar langsung dari Arteta, yang ia sebut sebagai "manusia, pemimpin, dan pelatih yang luar biasa". Meski meninggalkan klub London utara pada Juni 2025, ia yakin masa terbaik Arsenal masih akan datang. Kini, di Parma, ia membangun tim dari nol dengan pendekatan yang berbeda.
Musim perdananya di Serie A berbuah hasil yang menjanjikan. Parma finis di peringkat ke-13 dengan 11 kemenangan dari 38 pertandingan. Meski hanya mencetak 28 gol—terendah ketiga di liga—efektivitas gol mereka luar biasa: setiap gol bernilai rata-rata 1,68 poin, tertinggi di lima liga top Eropa. Cuesta mengakui bahwa timnya lebih mengandalkan soliditas pertahanan dan efisiensi ketimbang penguasaan bola, yang hanya 44,4 persen.
Filosofi Cuesta tidak kaku. Ia lebih suka menyesuaikan prinsip dengan karakter pemain yang ada, bukan memaksakan sistem tertentu. "Saya tidak terlalu fokus pada formasi. Saya lebih melihat karakteristik pemain, lalu memutuskan prinsip mana yang paling cocok," jelasnya. Pada paruh pertama musim, ia berganti-ganti antara empat dan lima bek, sebelum akhirnya mantap dengan formasi 5-3-2 pada Februari. Formasi ini memberi perlindungan ekstra di area tengah dan memungkinkan serangan balik cepat.
Bagi Cuesta, taktik bukan sekadar penempatan ruang, melainkan juga waktu dan kebiasaan. Ia percaya bahwa panduan makro justru memberi ruang kreativitas, bukan mengekang. "Tanpa referensi yang jelas, permainan menjadi kacau," katanya. Pendekatan pragmatis ini ia ibaratkan seperti memilih warna hitam atau putih: "Kamu harus memilih satu warna, tapi warna itu bisa memiliki gradasi berbeda sesuai kebutuhan."
Ke depan, tantangan Cuesta adalah mengembangkan model permainan Parma agar lebih dominan. Ia membayangkan tim yang "lengkap, sangat dominan dalam penguasaan bola, mampu menyerang ruang terbuka dengan kecepatan, dan tanpa lelah saat kehilangan bola". Namun, semua itu butuh waktu. Setelah musim perdana yang solid, perhatian terhadap Cuesta kini beralih dari usianya yang muda ke arah evolusi pendekatannya yang terus berkembang. Akankah ia mampu membawa Parma kembali ke kejayaan era 1990-an? Hanya musim depan yang bisa menjawab.



