Carles Martínez Ingin Tiru Jejak Xabi Alonso di Bayer Leverkusen
Baca dalam 60 detik
- Pelatih anyar Bayer Leverkusen, Carles Martínez, menjadikan kesuksesan Xabi Alonso sebagai acuan untuk membangun tim.
- Martínez, yang berpengalaman mengembangkan bakat muda di Barcelona, bertekad membawa Leverkusen kembali ke Liga Champions.
- Direktur olahraga Leverkusen, Simon Rolfes, menilai Martínez cocok dengan filosofi klub yang mengutamakan pengembangan pemain muda.

Carles Martínez, pelatih baru Bayer Leverkusen, secara terbuka menyatakan akan menjadikan prestasi Xabi Alonso sebagai tolok ukur dalam membangun tim. Dalam perkenalan resminya, Jumat lalu, Martínez menegaskan bahwa warisan Alonso—yang membawa Leverkusen meraih gelar Bundesliga pertama dan tak terkalahkan semusim penuh—akan menjadi inspirasi utama.
Leverkusen finis di posisi keenam Bundesliga musim 2025/26, yang berujung pada pemecatan Kasper Hjulmand. Martínez, yang sebelumnya menukangi Toulouse, dianggap sebagai sosok tepat untuk mengembalikan kejayaan klub. Ia mengakui bahwa Alonso, yang kini melatih Chelsea, telah menunjukkan filosofi sepak bola yang diyakininya. “Apa yang dia lakukan di sini luar biasa. Itu adalah referensi. Banyak hal yang akan kami coba tiru karena itu adalah ide kami sebagai pelatih Spanyol,” ujar Martínez.
Pelatih asal Catalan itu memiliki rekam jejak mentransformasi pemain muda. Di Barcelona, ia turut mengembangkan Fermín López, Gavi, dan Xavi Simons. Di Toulouse, rata-rata usia starter di musim terakhirnya hanya 23,5 tahun—termuda di Ligue 1 setelah PSG dan Strasbourg. Hal ini sejalan dengan DNA Leverkusen yang dikenal sebagai klub pengembang bakat, seperti Kai Havertz dan Florian Wirtz.
Meski belum membeberkan strategi spesifik, Martínez memberi kode akan menerapkan sepak bola agresif dan penguasaan bola. “Di Spanyol, peran saya adalah aktif dan agresif. Kami selalu bicara tentang penguasaan bola. Anda lebih baik saat memegang bola,” katanya. Namun, ia enggan mengungkap detail taktik sebelum berdiskusi dengan pemain.
Direktur olahraga Leverkusen, Simon Rolfes, menegaskan bahwa Martínez adalah pilihan tepat untuk fase pengembangan berikutnya. “Sikap, semangat, keterbukaan, dan komunikasinya membuatnya cocok secara luar biasa. Mungkin ada yang terkejut, tapi jika melihat CV-nya dan mengenal Bayer Leverkusen, ini bukan kejutan,” ujar Rolfes. Ia menambahkan bahwa klub memiliki tradisi mengembangkan talenta muda menjadi pemain top internasional.
Martínez sadar bahwa catatan pengembangan pemain muda bukan satu-satunya ukuran kesuksesan. “Leverkusen adalah klub top, di antara tiga atau empat teratas di Bundesliga. Liga ini fantastis dan terus berkembang. Kami juga harus tumbuh. Setiap hari penting. Saya tidak sabar untuk memulai,” pungkasnya.
Pertanyaan besarnya, mampukah Martínez mengulang kesuksesan Alonso dan membawa Leverkusen kembali ke Liga Champions? Ataukah ia akan menjadi bagian dari siklus pergantian pelatih yang kerap dialami klub-klub Bundesliga di luar Bayern München?



