Paraguay Bawa 23 Pemain Luar Negeri ke Piala Dunia 2026, Hanya Tiga dari Liga Lokal
Baca dalam 60 detik
- Pelatih Gustavo Alfaro mengandalkan 23 pemain yang berkarier di luar negeri dalam skuad final Paraguay untuk Piala Dunia 2026.
- Kapten Gustavo Gomez dari Palmeiras memimpin tim yang diperkuat Miguel Almiron dan Julio Enciso, dengan hanya tiga pemain dari liga domestik.
- Paraguay memulai perjuangan melawan tuan rumah Amerika Serikat pada 12 Juni, setelah uji coba melawan Nikaragua.
Pelatih asal Argentina, Gustavo Alfaro, secara resmi mengumumkan 26 pemain yang akan membela Paraguay di Piala Dunia 2026. Dari jumlah tersebut, hanya tiga nama yang berasal dari kompetisi domestik, sementara sisanya berkarier di berbagai liga Eropa dan Amerika. Keputusan ini menegaskan strategi Alfaro yang mengandalkan pengalaman internasional para pemainnya di ajang sepak bola tertinggi dunia.
Skuad yang dirilis pada Senin (1/6) itu dipimpin oleh kapten tim, Gustavo Gomez, bek berusia 33 tahun yang memperkuat Palmeiras. Gomez telah lama menjadi pilar pertahanan Paraguay dan diharapkan menjadi pemimpin di lapangan. Selain itu, terdapat nama-nama seperti gelandang Brighton & Hove Albion, Diego Gomez, serta penyerang Atlanta United, Miguel Almiron, yang sudah malang melintang di Premier League dan Major League Soccer.
Alfaro, yang kontraknya akan berakhir setelah turnamen, memilih untuk tidak banyak mengubah komposisi pemain dari babak kualifikasi. Ia hanya memasukkan beberapa wajah baru seperti penjaga gawang Orlando Gill dan bek Alexandro Maidana. Sementara itu, lini depan diperkuat oleh Julio Enciso (Strasbourg), Gabriel Avalos (Independiente), dan Antonio Sanabria yang bermain di Italia.
Dominasi pemain abroad ini menunjukkan bagaimana sepak bola Paraguay terus bergantung pada diaspora. Meskipun liga lokal jarang menyumbang pemain, talenta muda seperti Enciso dan Diego Gomez menjadi bukti bahwa ekspor pemain tetap menjadi jalur utama. Namun, minimnya representasi domestik juga memicu perdebatan tentang pembinaan usia muda di dalam negeri.
Bagi Indonesia, fenomena ini bisa menjadi pelajaran. Timnas Indonesia juga kerap mengandalkan pemain keturunan atau yang bermain di luar negeri, seperti halnya Paraguay. Namun, perbedaan signifikan terletak pada jumlah dan kualitas liga. Paraguay memiliki tradisi panjang melahirkan pemain kelas dunia, sementara Indonesia masih berjuang membangun infrastruktur sepak bola dasar. Jika Paraguay bisa sukses dengan model ini, bukan tidak mungkin Indonesia juga bisa mengadaptasi strategi serupa dengan lebih terencana.
Paraguay akan memulai petualangan mereka di Grup A melawan tuan rumah Amerika Serikat pada 12 Juni. Sebelum itu, mereka akan menjalani laga uji coba melawan Nikaragua pada Jumat (5/6) sebagai pemanasan. Dengan skuad yang sarat pengalaman, La Albirroja berambisi melaju jauh, meskipun persaingan di grup mereka cukup ketat.
Pertanyaan besarnya, mampukah Alfaro membawa Paraguay melampaui babak penyisihan grup untuk pertama kalinya sejak 2010? Atau justru ketergantungan pada pemain luar negeri akan menjadi bumerang ketika chemistry tim tidak terbangun sempurna?



