Warisan Hattrick Hodak: Igor Tolic Hadapi Tekanan Berat di Persib
Baca dalam 60 detik
- Igor Tolic resmi menggantikan Bojan Hodak sebagai pelatih Persib setelah Hodak mundur karena alasan kesehatan dan keluarga.
- Warisan tiga gelar beruntun membuat Tolic harus menjaga motivasi tim dan menghadapi persaingan ketat dari Persija dan Persebaya.
- Pengamat sepak bola Tommy Welly menilai tantangan terbesar Tolic adalah mempertahankan mentalitas juara di internal tim.
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7731862/original/010252900_1780537314-igor_1.jpg)
Menggantikan pelatih yang membawa tiga gelar beruntun bukanlah tugas ringan. Itulah yang kini dihadapi Igor Tolic, juru taktik asal Kroasia yang resmi menakhodai Persib Bandung setelah Bojan Hodak memutuskan mundur dengan alasan kesehatan dan keluarga. Beban ekspektasi dari Bobotoh dan publik sepak bola nasional langsung membayangi langkah perdananya.
Hodak meninggalkan jejak yang nyaris sempurna: sejak menukangi Persib pada 2023, ia sukses mempersembahkan tiga trofi Liga 1 secara berturut-turut—sebuah hattrick yang langka di sepak bola Indonesia. Prestasi itu diperkuat dengan pencapaian membawa Maung Bandung lolos ke babak 16 besar AFC Champions League Two 2025/2026. Kini, Tolic yang sebelumnya menjadi asisten Hodak harus meneruskan estafet kepelatihan di tengah tekanan mempertahankan supremasi.
Pengamat sepak bola nasional, Tommy Welly—yang akrab disapa Bung Towel—menilai transisi kepelatihan ini tergolong mulus karena Tolic sudah memahami kultur dan sistem yang dibangun Hodak. Namun, ia mengingatkan bahwa mempertahankan gelar jauh lebih sulit daripada meraihnya. "Berat. Menangani tim sekelas Persib, apalagi dengan warisan hattrick, itu pasti berat," ujar Towel dalam kanal YouTube "HEAD to HEAD". Meski demikian, ia menilai momentum pergantian ini tepat karena Tolic merupakan bagian dari kesuksesan sebelumnya.
Towel menyoroti sejumlah tantangan yang harus dihadapi Tolic, terutama dalam menata ulang skuad dan kualitas pemain asing. Ia membandingkan lini depan Persib dengan rival utama seperti Borneo FC yang memiliki Mariano Peralta dan Juan Felipe Villa, serta Persija Jakarta dengan Maxwell Souza. Menurut Towel, hanya sedikit pemain asing yang benar-benar menonjol di Liga 1, sehingga Persib perlu selektif dalam memperkuat tim. "Kaitannya dengan Persib, kualitas pemain asing, larinya nanti ke situ," katanya.
Persaingan musim depan diprediksi semakin ketat. Persija Jakarta, misalnya, bertekad merebut gelar bertepatan dengan perayaan 500 tahun Jakarta pada 2027. Sementara Persebaya Surabaya, yang sudah lama puasa gelar, juga dipastikan akan tampil all-out. Towel menegaskan bahwa tim-tim lain tidak akan memberi jalan mudah bagi Persib. "Di Asia dan di Super League juga berat karena warisan tiga gelar juara berturut-turut ini. Berat tantangannya," ujarnya.
Namun, tantangan terbesar menurut Towel justru berasal dari internal tim. Ia mempertanyakan apakah para pemain masih memiliki "rasa lapar" yang sama setelah tiga musim berjaya. "Kebanyakan tim yang tidak punya mentalitas, sistem, dan struktur bagus, begitu sukses mereka lupa lagi. Ini persoalan mengelola manusia, bukan robot," katanya. Towel mencontohkan Sir Alex Ferguson yang mampu mempertahankan motivasi juara selama puluhan tahun di Manchester United. Pertanyaan kuncinya: mampukah Igor Tolic memelihara semangat juang para pemain, dirinya sendiri, dan seluruh klub?
Dengan warisan prestasi yang begitu gemilang, Igor Tolic tidak hanya dituntut mempertahankan gelar, tetapi juga membuktikan bahwa Persib bisa konsisten di puncak. Jika ia gagal menjaga motivasi tim, bukan tidak mungkin tahta yang sudah dibangun selama tiga tahun akan runtuh dalam satu musim. Akankah Tolic mampu menjawab keraguan itu? Atau justru tekanan warisan hattrick yang akan menguburnya?



