Kejuaraan Dunia Meludahkan Biji Ceri: Tradisi Unik dari Negeri Sakura
Baca dalam 60 detik
- Sebanyak 926 peserta dari berbagai daerah di Jepang mengikuti lomba meludahkan biji ceri di Higashine, kota penghasil ceri terbesar negeri itu.
- Kompetisi tahunan ini terbagi dalam tiga kategori dan menggunakan ceri premium Sato Nishiki, dengan rekor dunia 20,05 meter yang belum terpecahkan.
- Pemenang kategori umum, Kentaro Sasahara, berhasil meludahkan biji sejauh 15,80 meter dan mengaku mengandalkan teknik putaran lidah.

Higashine, kota penghasil ceri terbesar di Jepang, kembali menjadi tuan rumah ajang unik yang memadukan olahraga dan tradisi: Kejuaraan Dunia Meludahkan Biji Ceri 2026. Sebanyak 926 orang dari dalam dan luar Prefektur Yamagata ambil bagian dalam kompetisi yang digelar pada 31 Mei lalu, menjadikan acara tahunan ini sebagai magnet wisata dan budaya.
Kompetisi yang diberi nama resmi Cherry Pit Spitting World Grand Prix ini telah menjadi agenda rutin di Higashine. Para peserta bertanding dalam tiga divisi: umum, wanita, dan anak-anak. Setiap kontestan mendapat satu buah ceri premium jenis Sato Nishiki—varietas unggulan setempat—untuk dimakan, lalu bijinya diludahkan sejauh mungkin dari atas panggung khusus. Teknik yang digunakan pun beragam, mulai dari mengatur posisi lidah hingga mengayunkan tubuh ke belakang untuk menghasilkan dorongan maksimal.
Meski rekor dunia sejauh 20,05 meter yang dicetak pada 2017 masih bertahan, semangat peserta tak surut. Kentaro Sasahara, pegawai perusahaan berusia 38 tahun asal Obanazawa, keluar sebagai juara divisi umum dengan ludahan sejauh 15,80 meter. “Saya memutar lidah dan berhasil meludahkannya dengan baik,” ujarnya penuh kegembiraan. Kemenangan ini menunjukkan bahwa teknik dan latihan menjadi kunci, bukan sekadar kekuatan fisik.
Bagi Indonesia, tradisi semacam ini mungkin terdengar asing, namun bisa menjadi inspirasi dalam mengemas potensi lokal menjadi atraksi wisata. Jepang telah lama menjadikan keunikan budaya sebagai daya tarik global, seperti halnya lomba sumo bayi atau festival salju. Di dalam negeri, beragam tradisi daerah seperti pacu jawi di Sumatera Barat atau karapan sapi di Madura sejatinya memiliki potensi serupa jika dikelola dengan promosi dan standarisasi yang baik. Higashine sendiri adalah kota dengan populasi sekitar 55.000 jiwa, namun mampu menyelenggarakan event berskala internasional berkat dukungan pemerintah daerah dan partisipasi masyarakat.
Ke depan, ajang ini diprediksi akan terus menarik minat peserta dari luar Jepang, seiring promosi pariwisata yang gencar dilakukan pemerintah setempat. Pertanyaannya, mampukah rekor 20,05 meter itu terpecahkan di tahun-tahun mendatang? Atau justru akan lahir teknik baru yang mengubah cara pandang terhadap olahraga unik ini?



