Kelinci Belang Sumatera: Spesies Misterius yang Terancam Punah Sebelum Dikenal
Baca dalam 60 detik
- Dua anakan kelinci sumatera ditemukan warga di kebun dekat TNKS, kemudian dikembalikan ke alam setelah intervensi tim patroli siber.
- Spesies endemik ini berstatus Data Deficient di IUCN, dengan minim penelitian dan ancaman dari perdagangan ilegal lintas negara.
- Keterlibatan masyarakat dan penguatan patroli digital menjadi kunci mencegah kepunahan spesies yang nyaris tak dikenal ini.

Dua ekor anakan kelinci belang sumatera (Nesolagus netscheri) yang ditemukan warga di kebun dekat Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS) akhirnya dikembalikan ke habitat aslinya setelah tim konservasi melakukan pendekatan persuasif. Temuan langka ini sekaligus mengungkap betapa rentannya spesies endemik yang masih diselimuti misteri ilmiah.
Peristiwa bermula dari unggahan Facebook pada 26 April 2026 yang menampilkan dua kelinci kecil bergaris khas dengan keterangan "Mainan Anak di Kebun β Kelinci Hutan". Tim patroli siber Yayasan Scents (Science for Endangered and Trafficked Species) yang memantau perdagangan satwa liar di media sosial segera mengidentifikasi postingan tersebut. Dwi Nugroho Adhiasto, Senior Advisor Scents, mengatakan bahwa setelah ditelusuri, pengunggah mengaku menemukan anak kelinci itu di kebunnya dan berniat memelihara. Tim kemudian memberikan penjelasan tentang status perlindungan dan risiko hukum jika satwa tersebut dipelihara atau diperdagangkan.
Maruf Erawan, Direktur Scents, menambahkan bahwa perdagangan ilegal satwa dilindungi semakin kompleks dan lintas negara. Data Scents mencatat pada April dan Juni 2025 terjadi tiga kasus penyelundupan dengan total enam kelinci sumatera di India dan Thailand. Pada 15 Juli 2025, di Pune, India, sebanyak 20 spesies langka disita dari bagasi penumpang asal Bangkok, termasuk kelinci sumatera. "Ancaman terhadap satwa liar tidak hanya terjadi di hutan, tetapi juga di ruang digital dan lanskap sekitar permukiman. Tanpa kesadaran masyarakat, spesies langka seperti kelinci sumatera bisa hilang sebelum kita benar-benar memahaminya," ujar Maruf.
Wido R. Albert, Biodiversity Manager Fauna & Flora Internasional di Kerinci Seblat, mengungkapkan bahwa kamera jebak yang dipasang untuk memantau gajah dan harimau secara tidak sengaja menangkap kemunculan kelinci sumatera di beberapa titik. Namun, peralatan yang terbatas dan belum adanya studi khusus menyebabkan data persebaran spesies ini sangat terbatas. "Status kelinci sumatera di IUCN Red List berupa Data Deficient karena informasinya begitu sedikit," jelas Wido.
Risky Ananda Putri, Polisi Hutan Balai TNKS, menambahkan bahwa sifat pemalu dan habitat tersembunyi membuat kelinci ini jarang terlihat. Tahun 2025, kamera jebak untuk gajah dan harimau berhasil merekam beberapa individu, tetapi hasil pemantauan 2026 belum diketahui karena peralatan masih berada di kawasan. "Berbagai upaya seperti SMART Patrol, inventarisasi perubahan kawasan, dan penyadartahuan kepada generasi muda terus kami lakukan," ujarnya.
Kelinci sumatera adalah mamalia endemik yang hanya ditemukan di Pulau Sumatera. Minimnya informasi tentang ekologi, populasi, dan distribusinya menjadi ironi di tengah ancaman nyata dari degradasi habitat dan perdagangan ilegal. Di tingkat nasional, spesies ini dilindungi penuh melalui Peraturan Menteri LHK No. P.106/2018, yang melarang segala bentuk perburuan, pemeliharaan, dan perdagangan. Namun, tanpa data ilmiah yang memadai, upaya konservasi berjalan setengah hati. Pertanyaannya, akankah kelinci belang sumatera punah sebelum kita benar-benar mengenalnya?



