Prefektur Aichi Ciptakan Varietas Hydrangea Pertama, Siap Dikirim Tahun Depan
Baca dalam 60 detik
- Aichi, produsen hydrangea terbesar Jepang, meluncurkan varietas asli pertama bernama Hydra Aichi No. 1 setelah hampir lima tahun riset.
- Bunga ini memiliki kelopak biru atau merah muda dengan tepi putih tegas, termasuk jenis populer 'temari yaezaki' yang berbentuk bola ganda.
- Pengiriman perdana direncanakan musim semi 2027, membuka peluang ekspor ke negara tropis seperti Indonesia yang permintaan hydrangea terus naik.

Prefektur Aichi, Jepang, yang selama ini menjadi pemasok hydrangea terbesar di negeri Sakura, akhirnya memiliki varietas unggulan hasil pengembangan sendiri. Varietas bernama Hydra Aichi No. 1 ini memiliki keunikan pada kelopak bunganya yang berwarna biru atau merah muda dengan tepi putih yang tegas. Pengiriman perdana dijadwalkan mulai musim semi tahun depan.
Varietas baru ini lahir dari hasil riset bersama antara Pusat Penelitian Pertanian Aichi dan kelompok peneliti hydrangea dari Asosiasi Petani Bunga Aichi. Proses pengembangan memakan waktu empat tahun delapan bulan, dimulai dari persilangan 3.893 kandidat varietas. Para peneliti kemudian menyortir berdasarkan warna, bentuk, dan ketahanan terhadap cuaca panas. Hasilnya, Hydra Aichi No. 1 mampu tumbuh subur meski di musim panas yang terik dan menghasilkan rangkaian bunga yang stabil.
Menurut data tahun 2023, Aichi menduduki peringkat pertama nasional dalam luas tanam, volume pengiriman, dan nilai produksi hydrangea. Namun, hingga kini prefektur tersebut belum memiliki varietas asli sendiri. Keberhasilan ini menjadi tonggak sejarah bagi industri florikultura setempat, sekaligus menjawab permintaan petani akan bunga yang siap panen menjelang Hari Ibu di bulan Mei.
Bagi Indonesia, inovasi ini membuka peluang impor hydrangea berkualitas tinggi. Selama ini, permintaan hydrangea di Indonesia cenderung meningkat, terutama untuk dekorasi pernikahan dan acara formal. Namun, produksi lokal masih terbatas karena iklim tropis yang kurang mendukung pembungaan optimal. Varietas tahan panas seperti Hydra Aichi No. 1 bisa menjadi alternatif pasokan yang lebih stabil, meski harus melalui proses karantina dan adaptasi.
Ke depan, keberhasilan Aichi diharapkan mendorong daerah-daerah penghasil bunga lain di Jepang untuk mengembangkan varietas unggul sendiri. Pertanyaan yang muncul: akankah petani Indonesia tertarik menjalin kerja sama riset atau lisensi untuk mengadaptasi varietas ini di tanah air? Mengingat tren pasar bunga hias yang terus tumbuh, kolaborasi semacam itu bisa menjadi langkah strategis memperkuat industri florikultura nasional.



