Ledakan Bisnis Riasan Kekaisaran: Generasi Muda China Berburu Foto Bergaya Dinasti
Baca dalam 60 detik
- Lebih dari 100 studio rias dan kostum kekaisaran bermunculan di dekat Kota Terlarang Beijing sejak 2020, melayani permintaan tinggi anak muda untuk pengalaman imersif.
- Tren ini didorong oleh drama sejarah populer dan kebangkitan minat terhadap warisan budaya Han, dengan biaya rata-rata 300 yuan per sesi.
- Fenomena serupa mulai terlihat di Indonesia lewat komunitas cosplay dan fotografi bertema kerajaan Nusantara, meski belum sebanyak di China.

Di Beijing, profesi perias wajah yang menyulap pengunjung menjadi permaisuri Dinasti Ming dan Qing bukan lagi sekadar pekerjaan pinggiran. Chen Jiao, salah satu perias di kawasan Kota Terlarang, mengaku bisa menangani dua lusin klien dalam sehari saat puncak musim liburan. Fenomena ini menandai ledakan bisnis tata rias kekaisaran yang tumbuh pesat dalam lima tahun terakhir.
Menurut laporan media lokal, jumlah studio kostum dan rias di sekitar Kota Terlarang melonjak dari hanya segelintir pada 2020 menjadi lebih dari 100 unit saat ini. Setiap akhir pekan dan hari libur nasional, antrean panjang pemuda rela menunggu untuk berdandan layaknya bangsawan China kuno. Biaya yang dikeluarkan rata-rata 300 yuan atau sekitar Rp650 ribu per orang, namun bisa mencapai 1.000 yuan untuk paket premium.
Para pengunjung biasanya berfoto di tembok dan parit Kota Terlarang, lalu mengunggahnya ke media sosial. Perpaduan antara busana tradisional dan aksesori modern seperti sepatu kets serta kacamata hitam menjadi pemandangan umum. "Tidak ada musim sepi bagi kami, hanya jeda singkat saat Kota Terlarang tutup," ujar Chen Jiao.
Tren ini tidak muncul begitu saja. Cai Zehong, pendiri Hanfu Beijing—komunitas penggemar busana tradisional Han—menilai bahwa generasi muda China mulai menemukan kembali daya tarik estetika pakaian leluhur. "Mereka belajar tentang warisan budaya sambil menikmati keindahan visual," katanya. Drama sejarah yang tayang di televisi dan platform streaming turut menjadi katalis. Chen Xiao, mahasiswa dari Shandong, mengaku terinspirasi setelah menonton serial berlatar Dinasti Qing. "Saya merasa jika berada di tempat bersejarah, harus berpakaian yang sesuai," ujarnya.
Fenomena serupa mulai terlihat di Indonesia, meski dalam skala lebih kecil. Komunitas cosplay dan fotografi bertema kerajaan Nusantara—seperti Majapahit atau Mataram—kerap menggelar acara di candi dan situs bersejarah. Namun, belum ada ledakan bisnis rias seperti di Beijing. Potensi pasar ini bisa menjadi peluang bagi pelaku industri kreatif Tanah Air, terutama jika didukung promosi wisata budaya yang lebih masif.
Ke depan, pertanyaan yang muncul adalah apakah tren ini akan bertahan lama atau hanya sekadar gelembung sesaat. Dengan semakin banyaknya anak muda yang tertarik pada sejarah dan budaya, bisnis rias kekaisaran di China tampaknya masih akan terus berkembang. Namun, persaingan ketat antarstudio bisa mendorong inovasi layanan dan harga yang lebih terjangkau.



