Api Misterius di Sleman Meluas, Warga Mengungsi di Ruko Sebelah
Baca dalam 60 detik
- Kebakaran spontan di rumah Fia, Sleman, kini merembet ke bangunan ruko tempat keluarganya mengungsi, dengan total 81 titik api dalam 11 hari.
- Tim peneliti UGM dan UPN Yogyakarta masih berbeda pendapat soal pemicu: gas hidrogen versus gas metana, sementara pemetaan geofisika akan dilakukan.
- BPBD Sleman menyiagakan APAR, relawan, dan damkar 24 jam, namun warga mulai kelelahan karena harus terus waspada.

Fenomena kebakaran spontan yang melanda kediaman Mutfiana alias Fia di Seyegan, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, kian meluas. Titik api tak lagi hanya muncul di dalam rumah, tetapi sudah merembet ke bangunan ruko di sebelah utara yang selama ini dijadikan tempat mengungsi oleh keluarga korban.
Agus, ayah Fia, menuturkan bahwa pada Senin (1/6) sore dan petang, api muncul dua kali di luar bangunan. Pertama, api menyulut triplek di samping utara ruko, lalu membakar kayu di bagian belakang. Beruntung, kedua titik api berhasil dipadamkan sebelum membesar. "Itu kalau (menyulut) kain mungkin udah gede apinya," ujarnya saat ditemui Selasa (2/6) malam.
Hingga hari kesebelas sejak kejadian pertama, Agus mencatat sudah 81 kali api muncul, dengan sebaran lebih dari 65 lokasi. Ruangan belakang rumah yang sebelumnya steril dari api kini mulai "terinvasi". Waktu kemunculan pun acak, kadang satu titik bisa terbakar hingga tiga kali. "Kasihan mereka, udah sebelas hari tidur nggak nyenyak," kata Kepala Pelaksana BPBD Sleman, Bambang Kuntoro.
Pemerintah Kabupaten Sleman melalui BPBD telah menyiagakan 4-5 tabung alat pemadam api ringan (APAR) di lokasi. Selain itu, linmas, relawan, regu Tim Reaksi Cepat (TRC), serta masyarakat sekitar turut berjaga secara bergilir. Unit pemadam kebakaran (Damkar) juga standby setiap saat. Meski demikian, ketegangan warga tak surut karena api bisa muncul kapan saja.
Dua tim peneliti dari Universitas Gadjah Mada (UGM) dan Universitas Pembangunan Nasional (UPN) "Veteran" Yogyakarta telah beberapa kali turun ke lapangan. Pakar UGM sementara menduga gas hidrogen (H2) sebagai pemicu, sementara tim UPN mensinyalir gas metana (CH4). Guru Besar dan Dekan Fakultas Teknologi Mineral dan Energi UPN, Basuki Rahmat, mengatakan kemunculan api di luar rumah semakin menguatkan hipotesis metana. "Molekul CH4 suka nempel pada molekul H2O (air), seperti kelembaban. Daerah yang lembab-lembab itu seneng gas metana," jelasnya di lokasi.
Tim geofisika UPN dijadwalkan melakukan pemetaan lapisan batuan bawah permukaan pada Rabu (3/6) pagi untuk mendeteksi keberadaan gas metana. Langkah ini diharapkan bisa mengungkap misteri yang telah meresahkan warga selama lebih dari sepuluh hari. Pertanyaan besarnya, akankah pemetaan ini memberikan jawaban pasti, atau justru membuka teka-teki baru?



