Badai Tropis Jangmi Hantam Jepang: 15 Luka, Puluhan Ribu Rumah Mati Listrik
Baca dalam 60 detik
- Badai tropis Jangmi melanda Jepang barat daya, menyebabkan 15 orang cedera dan memutus aliran listrik ke puluhan ribu rumah.
- Pemerintah Jepang mengimbau evakuasi terhadap 390.000 warga Miyazaki dan membatalkan 600 penerbangan maskapai utama.
- Badai diperkirakan mendekati Tokyo dalam waktu dekat, berpotensi mengganggu transportasi publik dan aktivitas ekonomi.

Badai tropis Jangmi menerjang kawasan barat daya Jepang, menyebabkan setidaknya 15 orang terluka dan memutus pasokan listrik bagi puluhan ribu rumah tangga. Otoritas setempat juga mengeluarkan perintah evakuasi bagi hampir 400.000 warga di Kota Miyazaki, Pulau Kyushu, seiring pergerakan badai yang terus bergerak ke utara.
Badan Meteorologi Jepang (JMA) memperingatkan potensi gelombang tinggi, tanah longsor, dan banjir akibat curah hujan ekstrem yang dibawa Jangmi. Badai yang sebelumnya berstatus topan ini telah meluluhlantakkan wilayah subtropis Okinawa pada Senin lalu, dengan angin kencang yang merobohkan pohon setinggi 10 meter dan menerbangkan benda-benda ke arah kendaraan.
Juru Bicara Pemerintah Jepang, Minoru Kihara, mengonfirmasi bahwa 15 orang di Okinawa mengalami luka-luka akibat insiden tersebut. Menurut laporan NHK, cedera terjadi ketika benda-benda beterbangan menghantam mobil atau angin kencang membuat orang kehilangan keseimbangan. Hingga Selasa pagi, sekitar 17.000 rumah tangga di Okinawa dan lebih dari 30.000 di wilayah Kagoshima masih gelap gulita tanpa listrik.
Kihara juga memperingatkan bahwa transportasi umum di Tokyo dan kota-kota sekitarnya bisa terganggu pada hari ini seiring mendekatnya badai. βBagi Anda yang tinggal di daerah yang mungkin terdampak, harap perhatikan informasi evakuasi dari pemerintah setempat dan jangan ragu untuk mengungsi lebih awal,β ujarnya dalam konferensi pers. βTetap waspada dan ambil langkah untuk melindungi diri.β
Dua maskapai terbesar Jepang, All Nippon Airways (ANA) dan Japan Airlines, telah membatalkan total 600 penerbangan yang dijadwalkan sejak Senin hingga hari ini. Langkah ini diambil demi keselamatan penumpang dan kru, meskipun berdampak pada ribuan penumpang yang terdorong mengubah jadwal perjalanan.
Bagi Indonesia, peristiwa ini menjadi pengingat akan pentingnya kesiapsiagaan menghadapi bencana hidrometeorologi. Dengan posisi geografis yang rawan siklon tropis, Indonesia perlu memperkuat sistem peringatan dini dan infrastruktur kelistrikan agar mampu merespons cepat saat badai serupa melanda. Kerugian ekonomi akibat gangguan transportasi dan listrik di Jepang juga menjadi pelajaran berharga bagi sektor pariwisata dan logistik Tanah Air yang kerap bergantung pada konektivitas regional.
Ke depan, intensitas badai tropis diperkirakan meningkat akibat perubahan iklim. Jepang, yang memiliki standar keselamatan tinggi, masih kewalahan menghadapi dampak Jangmi. Pertanyaannya, apakah negara-negara di kawasan Asia Tenggara, termasuk Indonesia, sudah cukup siap menghadapi ancaman serupa?



