Kafe Tangis Malam Hari di Jepang: Oase bagi Ibu yang Lelah Menghadapi Malam Sendirian
Baca dalam 60 detik
- Kafe khusus malam yang menerima ibu dan bayi menangis bermunculan di Jepang, mengubah ide dari komik daring menjadi ruang aman nyata.
- Inisiatif ini digerakkan oleh komunitas dan relawan, namun keberlanjutannya terancam oleh keterbatasan dana dan dukungan pemerintah.
- Fenomena ini menyoroti isolasi pengasuhan anak di malam hari, sebuah masalah yang juga relevan bagi ibu di Indonesia.

Di tengah sunyinya malam di Memuro, Hokkaido, sebuah toko roti Prancis memancarkan cahaya hangat meski sudah lewat pukul sembilan malam. Di dalamnya, seorang ibu berbaring santai bersama anaknya, menikmati jeda dari rutinitas mengurus bayi yang tak kunjung berhenti menangis. Tempat itu bukan sekadar kedai biasa—ia adalah 'kafe tangis malam', ruang perlindungan bagi para ibu yang kewalahan menghadapi malam sendirian.
Konsep yang pertama kali muncul dalam komik daring hampir satu dekade lalu ini kini menjadi gerakan nyata di sejumlah kota Jepang. Madoka Nozawa, pemilik toko roti berusia 28 tahun, membuka tempatnya setiap Minggu malam mulai pukul 21.00 hingga 06.00 tanpa biaya sepeser pun. Ia menamainya 'Oyako no Koya' atau 'Rumah Orang Tua dan Anak'. Dengan bantuan staf relawan perempuan, ia mengawasi anak-anak dan mendengarkan keluh kesah para ibu. Di dalamnya tersedia tikar untuk bayi merangkak dan tidur, serta area khusus untuk menyusui dan mengganti popok.
Seorang ibu cuti melahirkan berusia 34 tahun yang datang bersama dua putrinya mengaku lega bisa berbagi cerita. "Datang ke sini memberi saya kesempatan bicara dengan seseorang dan membuat pikiran saya lebih tenang," ujarnya. Pengalaman pribadi Nozawa menjadi pendorong utama: saat anak pertamanya masih bayi, ia kerap menghabiskan malam sendirian sambil menggendong buah hatinya yang menangis hingga pagi, karena suaminya harus bekerja keesokan harinya.
Gagasan ini sebenarnya lahir dari imajinasi seorang kartunis dan ibu yang membagikan idenya di media sosial pada 2017. Respons positif yang meluas kemudian mendorongnya untuk membuat serial manga berjudul 'Yonakigoya' (Rumah Tangis Malam) pada 2023. Banyak pembaca yang mengaku sangat membutuhkan ruang semacam itu. Sang kartunis mengatakan bahwa rasa isolasi dalam mengasuh anak masih sangat terasa hingga kini.
Di Tokushima, kelompok pendukung pengasuhan anak mengoperasikan dua kafe serupa dengan petugas pengasuh anak yang menjaga si kecil selama sesi bulanan. Direktur perwakilannya berharap tempat itu bisa menjadi pelarian bagi para ibu. Sementara di Niigata, kelompok perempuan yang fokus pada revitalisasi daerah juga menjalankan kafe serupa setiap pekan sejak Juli tahun lalu.
Namun, di balik antusiasme, keberlanjutan inisiatif ini masih dipertanyakan. Hampir semua bergantung pada sumbangan individu dan perusahaan, serta tenaga relawan. Biaya operasional semalaman dan tuntutan fisik menjadi beban berat. Kaori Ichikawa, profesor di Tokyo University of Information Sciences yang ahli dalam perawatan pascapersalinan, menekankan perlunya dukungan yang lebih luas. "Dukungan pemerintah sering terbatas pada malam hari, akhir pekan, atau hari libur. Sektor publik dan swasta harus bekerja sama menciptakan tempat seperti kafe tangis malam, di mana orang bisa mencari bantuan kapan pun mereka membutuhkannya," katanya.
Fenomena ini relevan bagi Indonesia, di mana budaya pengasuhan anak seringkali membebani ibu secara tunggal, terutama di malam hari. Minimnya ruang publik yang ramah ibu dan bayi, serta terbatasnya layanan konsultasi parenting di luar jam kerja, membuat banyak ibu merasa terisolasi. Inisiatif seperti kafe tangis malam bisa menjadi inspirasi bagi komunitas atau pemerintah daerah untuk menghadirkan ruang serupa, meski tantangan pendanaan dan regulasi pasti akan muncul. Akankah Indonesia memiliki 'posko ibu tangguh' yang buka 24 jam?



