Jade Jones: Diagnosis ADHD Jadi Kunci Sukses dan Transisi ke Tinju
Baca dalam 60 detik
- Mantan juara Olimpiade taekwondo Jade Jones mengungkapkan diagnosis ADHD membantunya memahami perjuangan dan kesuksesannya.
- Jones beralih ke tinju setelah pensiun dari taekwondo, dan menganggap ADHD sebagai 'superpower' yang memungkinkannya fokus penuh.
- Ia akan bertanding lagi pada 13 Juni melawan influencer Argentina, sambil belajar menikmati tantangan baru tanpa tekanan berlebih.

Jade Jones, peraih dua medali emas Olimpiade di cabang taekwondo, justru menemukan penjelasan atas naik-turun kariernya setelah didiagnosis dengan attention deficit hyperactivity disorder (ADHD). Atlet asal Wales berusia 33 tahun itu kini menjadikan diagnosis tersebut sebagai senjata rahasia dalam transisinya ke dunia tinju profesional.
Jones mencuri perhatian saat merebut emas di London 2012 sebagai remaja, lalu mempertahankan gelarnya di Rio 2016. Namun, masa karantina Covid-19 dan kegagalan di Tokyo serta Paris membuatnya sadar ada sesuatu yang berbeda. "Saya selalu berjuang dengan cara yang tidak dialami orang lain," ujarnya. Diagnosis ADHD yang diterima setelah Olimpiade menjadi titik terang: "Semua orang bilang 'tentu saja!'βdan saya bilang mereka bisa bilang dari dulu!"
Alih-alih melihat ADHD sebagai hambatan, Jones justru menyebutnya sebagai "superpower". Kemampuan hiperfokus yang menyertainya, kata dia, menjadi fondasi kesuksesan di taekwondo. "Jika saya tidak punya ADHD, saya yakin tidak akan berhasil sejauh ini," tegasnya. Keyakinan ini diperkuat oleh atlet lain seperti pesepakbola Lucy Bronze dan pemain rugby Hannah Botterman yang juga terbuka soal kondisi serupa.
Keputusan Jones beralih ke tinju pada 2024 bukan tanpa risiko. Setelah bertahun-tahun total mengabdikan diri pada taekwondo, ia mengaku tidak punya rencana pensiun dan khawatir "gagal total di pekerjaan biasa". Namun, tinju menjadi "distraksi sempurna" yang membantunya mengatasi kecemasan pasca-Olimpiade. Berlatih di 4 Corners Gym Liverpool di bawah arahan mantan petinju profesional Stephen 'Swifty' Smith, Jones menjalani debut gemilang pada Maret lalu dengan kemenangan knockout ronde kedua melawan bintang realitas AS, Egypt Criss.
Meski sukses di awal, Jones sadar bahwa status Olimpiadenya tetap membawa ekspektasi. "Sejak menang Olimpiade pertama, tekanan tidak pernah hilang. Saya pikir ganti olahraga berarti mulai dari nol, tapi kenyataannya Anda tetap juara Olimpiade dengan tekanan itu," ungkapnya. Kini ia berusaha menikmati proses tanpa dibebani target jangka panjang. "Saya harus menahan diri karena meski fokus penuh pada tinju, saya datang ke sini untuk tantangan baru dan bersenang-senang."
Fenomena Jones mencerminkan tren atlet top yang memanfaatkan neurodivergensi sebagai keunggulan kompetitif. Di Indonesia, kesadaran akan ADHD di kalangan olahragawan masih terbatas, namun kisah Jones bisa menjadi inspirasi bagi atlet muda untuk lebih terbuka terhadap kondisi mental mereka. Pertanyaan besarnya: mampukah Jones mengulang kesuksesan taekwondo di atas ring tinju, atau justru tekanan masa lalu akan kembali menghantuinya?



