Konflik Iran-AS Dongkrak Harga Aspal di Cirebon hingga 45%, Proyek Perbaikan Jalan Terpangkas
Baca dalam 60 detik
- Ketegangan geopolitik antara Iran dan Amerika Serikat memicu lonjakan harga aspal di Cirebon hingga 45 persen, memaksa pemerintah kota mengurangi volume perbaikan jalan.
- Kenaikan harga bahan baku, termasuk beton dan material lainnya, diperkirakan memangkas realisasi proyek infrastruktur sebesar 20-30 persen dari target awal.
- Pemerintah daerah tengah mengajukan penyesuaian standar harga satuan untuk mengantisipasi fluktuasi lebih lanjut, namun dampaknya sudah terasa pada keterlambatan perbaikan jalan.

Konflik yang memanas antara Iran dan Amerika Serikat tidak hanya mengguncang pasar minyak global, tetapi juga merembet ke sektor infrastruktur di Indonesia. Di Kota Cirebon, harga aspal melonjak hingga 45 persen, memaksa pemerintah daerah memangkas volume perbaikan jalan secara signifikan.
Wali Kota Cirebon, Effendi Edo, mengungkapkan bahwa solusi sementara yang ditempuh adalah mengurangi panjang ruas jalan yang diperbaiki. Misalnya, proyek yang semula direncanakan sepanjang 400 meter kini hanya dikerjakan 200 meter. Kebijakan ini diambil karena lonjakan harga bahan baku yang tidak terduga, terutama aspal dan material konstruksi lainnya.
Sekretaris Daerah Kota Cirebon, Iing Daiman, menambahkan bahwa situasi geopolitik yang tidak stabil menjadi pemicu utama kenaikan harga. Pemerintah daerah kini tengah mengajukan perubahan standar harga satuan yang akan direviu oleh Inspektorat. Standar harga yang disusun pada Maret 2025 dianggap tidak lagi relevan karena eskalasi konflik yang melampaui prediksi awal.
Kepala Bidang Bina Marga DPUTR Kota Cirebon, Totong, menjelaskan bahwa survei harga satuan terakhir pada Mei 2026 menunjukkan kenaikan bahan baku aspal dan material lain berkisar 30 hingga 45 persen. Pihaknya sengaja menggunakan harga tertinggi dari beberapa produsen sebagai langkah antisipasi jika kenaikan berlanjut. Akibatnya, volume pekerjaan perbaikan jalan diperkirakan berkurang 20 hingga 30 persen dari total panjang 39 kilometer yang dianggarkan Rp5,3 miliar.
Salah satu contoh konkret adalah Jalan Cipto, yang semula akan diperbaiki sepanjang 920 meter, kini hanya 780 meterโberkurang 140 meter. Totong menambahkan bahwa tingkat kemantapan jalan di Cirebon saat ini mencapai 94 persen, namun 6 persen sisanya mengalami kerusakan ringan hingga berat. Keterlambatan perbaikan juga dipicu oleh proses penyesuaian standar harga yang masih berlangsung.
Hingga saat ini, belum ada solusi jangka panjang untuk mengatasi kenaikan harga bahan baku. Metode micro surfacing, yang menutup pori-pori aspal agar air tidak merusak jalan, dinilai terlalu mahal. Pemerintah daerah berharap situasi geopolitik segera mereda agar harga bahan baku kembali stabil dan proyek infrastruktur dapat berjalan sesuai rencana.



