Dolar AS Tembus Rp18.000 di Money Changer, Acuan Harga Cuma Google
Baca dalam 60 detik
- Sejumlah money changer di Jakarta sudah menjual dolar AS di level Rp18.000 per dolar AS, dengan kurs beli mendekati angka yang sama.
- Fluktuasi tinggi membuat beberapa pedagang valas mengaku kesulitan menetapkan harga sendiri dan hanya mengacu pada kurs internet, terutama Google.
- Kondisi ini mencerminkan tekanan pada rupiah yang kian terasa di pasar fisik, berpotensi memicu kenaikan biaya impor dan perjalanan ke luar negeri.

Harga dolar Amerika Serikat di sejumlah tempat penukaran uang (money changer) di Jakarta sudah mencapai Rp18.000 per dolar AS untuk harga jual, sementara harga beli juga merangkak naik mendekati level psikologis tersebut. Fenomena ini terjadi di tengah fluktuasi nilai tukar rupiah yang kian tajam, membuat para pedagang valas mengandalkan kurs internet sebagai patokan utama.
Berdasarkan pemantauan di lapangan, money changer di kawasan Jatinegara, Jakarta Timur, dan Kwitang, Jakarta Pusat, kompak menaikkan harga jual dolar AS ke angka Rp18.000 per dolar AS pada Jumat (29/5/2026). Kurs beli rata-rata berada di kisaran Rp17.900–Rp17.950 per dolar AS. Tak hanya dolar AS, dolar Singapura juga ikut melonjak dengan harga jual menembus Rp14.000 per dolar Singapura.
Kondisi ini menjadi sinyal bahwa tekanan terhadap rupiah tidak hanya terjadi di pasar antarbank, tetapi juga sudah merambah ke transaksi fisik yang langsung bersentuhan dengan masyarakat. Bagi warga yang hendak bepergian ke luar negeri atau bertransaksi dalam valas, beban biaya semakin berat. Di sisi lain, importir juga harus merogoh kocek lebih dalam untuk membayar barang dagangan.
Yang menarik, tidak semua money changer memiliki mekanisme penetapan harga sendiri. Sarni, penjaga money changer Valutama di Kwitang, mengungkapkan bahwa pihaknya tidak memiliki acuan internal dan hanya mengikuti kurs yang tertera di internet, khususnya Google. "Kami enggak ada acuan harga beli dan jual, seperti halnya money changer lainnya ya, acuannya berdasarkan yang ada di internet," ujarnya. Ia menambahkan, fluktuasi dolar AS dan Singapura yang tinggi membuat mereka kesulitan menetapkan patokan sendiri.
Fenomena ini mengindikasikan bahwa ekspektasi pasar terhadap pelemahan rupiah masih tinggi. Para pelaku money changer cenderung mengambil posisi aman dengan mengikuti acuan eksternal, bukan melakukan analisis sendiri. Hal ini berpotensi mempercepat penyesuaian harga di pasar fisik jika terjadi gejolak nilai tukar yang tiba-tiba.
Bagi Indonesia, pelemahan rupiah yang terus berlanjut membawa implikasi luas. Selain meningkatkan biaya impor bahan baku dan barang konsumsi, tekanan pada rupiah juga bisa memicu inflasi impor. Bank Indonesia pun dihadapkan pada dilema antara menaikkan suku bunga untuk menahan pelemahan rupiah atau menjaga pertumbuhan ekonomi. Belum ada kepastian kapan tekanan ini akan mereda, mengingat faktor eksternal seperti kebijakan suku bunga global dan ketidakpastian pasar keuangan masih dominan.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah level Rp18.000 per dolar AS ini akan menjadi batas atas baru atau justru menjadi pijakan menuju level yang lebih tinggi. Para pelaku pasar dan masyarakat perlu mencermati langkah Bank Indonesia serta perkembangan ekonomi global untuk mengantisipasi pergerakan rupiah selanjutnya.



