Rupiah Tembus Rp14.000 per Dolar Singapura, Money Changer Mulai Pasang Harga Baru
Baca dalam 60 detik
- Nilai tukar rupiah terhadap dolar Singapura menembus level psikologis Rp14.000 untuk pertama kalinya dalam sejarah, dipicu oleh penguatan SGD sebagai mata uang safe haven regional.
- Sejumlah money changer di Jakarta telah menyesuaikan harga jual SGD di kisaran Rp13.900 hingga Rp14.025, namun permintaan penukaran masih terpantau normal dan belum terjadi aksi borong.
- Sepanjang tahun berjalan, rupiah telah terdepresiasi hampir 8% terhadap SGD, menekan daya beli masyarakat yang berencana liburan atau investasi di Singapura.

Untuk pertama kalinya dalam sejarah, nilai tukar rupiah terhadap dolar Singapura (SGD) menyentuh level Rp14.000 per dolar, menandai pelemahan terburuk mata uang Garuda di hadapan SGD. Fenomena ini langsung direspons oleh para pelaku jasa penukaran uang asing (money changer) di Jakarta yang mulai memasang harga jual di kisaran Rp13.900 hingga Rp14.025 per SGD.
Seorang pegawai money changer di kawasan Jatinegara, Jakarta Pusat, Alex, mengungkapkan bahwa harga beli SGD saat ini mencapai Rp13.910 dan harga jual Rp14.010. "Selain dolar AS, dolar Singapura juga lagi tinggi, sekarang hampir Rp14.000," ujarnya. Meski demikian, ia mengaku belum melihat lonjakan permintaan penukaran dari rupiah ke SGD. "Belum banyak yang tukar, mungkin masih wait and see," tambahnya.
Hal serupa disampaikan Sarni, pekerja money changer Valutama di Kwitang. Ia mencatat bahwa meskipun kurs SGD terus merangkak naik, aktivitas penukaran masih berjalan normal. "Dolar Singapura memang lagi naik, tapi belum ada yang borong, penukaran masih normal," katanya. Menurutnya, SGD kerap menjadi pilihan utama masyarakat Indonesia menjelang liburan sekolah, namun tahun ini dampak kenaikan kurs terhadap volume penukaran belum terlihat signifikan.
Pelemahan rupiah terhadap SGD tidak bisa dilepaskan dari posisi dolar Singapura yang selama ini dikenal sebagai salah satu mata uang paling stabil di Asia Tenggara. Dalam kondisi ketidakpastian global, SGD kerap dijadikan aset safe haven oleh investor regional, sehingga permintaannya cenderung meningkat. Sarni menilai bahwa kenaikan SGD justru bisa mendorong permintaan untuk tujuan investasi. "Kalau dampaknya pasti ada, ya paling diburu buat amanin aset, cuma jumlah yang tukar belum naik signifikan," ucapnya.
Bagi masyarakat Indonesia, tembusnya level Rp14.000 per SGD memiliki implikasi langsung pada biaya perjalanan ke Singapura, yang merupakan salah satu destinasi favorit wisatawan Tanah Air. Jika tren pelemahan berlanjut, ongkos liburan ke negara kota tersebut akan semakin mahal. Di sisi lain, investor yang ingin melindungi nilai asetnya mungkin akan mulai melirik SGD sebagai instrumen lindung nilai. Namun, para pengamat memperingatkan bahwa aksi borong besar-besaran belum terjadi karena banyak pelaku pasar masih menunggu arah kebijakan moneter Bank Indonesia dan perkembangan ekonomi global.
Ke depan, pergerakan rupiah terhadap SGD akan sangat bergantung pada stabilitas ekonomi domestik dan kebijakan moneter The Fed serta Bank Sentral Singapura. Apakah rupiah akan terus tertekan atau mulai menemukan titik keseimbangan? Jawabannya akan menentukan apakah Rp14.000 menjadi batas baru atau sekadar level psikologis yang bersifat sementara.