Upaya rekonsiliasi yang diajukan oleh Bahar bin Smith terkait kasus dugaan penganiayaan tampaknya menemui jalan buntu. Pada Jumat, 13 Februari 2026, Barisan Ansor Serbaguna (Banser) Kota Tangerang secara tegas menolak permohonan maaf dan tawaran damai yang disampaikan oleh penceramah kontroversial tersebut. Penolakan ini menegaskan sikap organisasi yang menginginkan proses hukum tetap berjalan tanpa kompromi, meskipun Bahar sebelumnya telah merilis video permintaan maaf secara terbuka kepada korban dan institusi GP Ansor.
Kekecewaan Korban dan Status Penahanan
Ketegangan ini bermula dari insiden penganiayaan terhadap Rida, anggota Banser, di wilayah Cipondoh. Kasatkorcab Banser Kota Tangerang, Slamet Purwanto, menyatakan bahwa pihaknya belum menerima permintaan maaf secara langsung dari Bahar dan tetap mendesak kepolisian untuk melakukan penahanan. Kekecewaan pihak Banser semakin memuncak setelah mengetahui adanya penangguhan penahanan terhadap Bahar oleh Polres Metro Tangerang Kota.
Rida, selaku korban, menyoroti alasan penangguhan penahanan yang dinilai tidak adil. Jika Bahar ditangguhkan karena alasan sebagai tulang punggung keluarga dan pengajar, Rida menegaskan bahwa dirinya pun memiliki tanggung jawab yang sama sebagai tulang punggung keluarganya. Pernyataan ini menjadi kontra-narasi yang kuat terhadap upaya Bahar untuk mendapatkan keringanan hukum, memperlihatkan bahwa dampak fisik dan psikologis yang dialami korban menuntut keadilan yang setara di mata hukum.
Desakan Penegakan Hukum Tanpa Pandang Bulu
Sikap keras Banser ini mengirimkan sinyal kepada aparat penegak hukum bahwa penyelesaian di luar pengadilan (restorative justice) mungkin tidak dapat diterapkan dalam kasus ini jika salah satu pihak menolak berdamai. Tuntutan "Penjarakan Bahar" yang digemakan oleh Banser Kota Tangerang menempatkan Polres Metro Tangerang Kota dalam posisi yang diawasi ketat oleh publik. Kelanjutan kasus ini akan menjadi ujian bagi integritas kepolisian dalam menangani perkara yang melibatkan tokoh publik dengan basis massa yang signifikan.




