Musim Kemarau Ekstrem 2026: Lima Kecamatan di Tangerang Krisis Air Bersih
Baca dalam 60 detik
- BPBD mencatat lima kecamatan di Kabupaten Tangerang mengalami krisis air bersih akibat kemarau ekstrem 2026.
- Sebanyak 20 kecamatan masuk zona rawan kekeringan, berpotensi memperluas dampak jika kemarau berlanjut.
- Bantuan air bersih mulai disalurkan, dengan koordinasi bersama Perumda Tirta Kerta Raharja untuk antisipasi meluasnya krisis.

Musim kemarau ekstrem yang melanda sebagian besar wilayah Indonesia pada pertengahan 2026 mulai menimbulkan dampak serius di Kabupaten Tangerang, Banten. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat mencatat lima kecamatan telah mengalami krisis air bersih, memicu langkah darurat penyaluran bantuan dan koordinasi lintas instansi.
Kepala BPBD Kabupaten Tangerang, Achmad Taufik, mengonfirmasi bahwa wilayah terdampak meliputi Kecamatan Curug, Panongan, Legok, Jambe, dan Tigaraksa. Namun, ia menekankan bahwa tidak seluruh desa dan kelurahan di kelima kecamatan tersebut mengalami kondisi yang sama. "Saat ini baru lima kecamatan. Tapi tidak seluruh desa/kelurahan dari lima kecamatan itu mengalami krisis air bersih," ujarnya, Rabu (22/7).
Fenomena ini bukanlah kejutan. Berdasarkan hasil kajian kebencanaan yang dilakukan BPBD, kelima kecamatan tersebut sebelumnya telah masuk dalam zona rawan kekeringan. Lebih mengkhawatirkan, Taufik mengungkapkan bahwa sekitar 20 kecamatan di Kabupaten Tangerang memiliki potensi terdampak kekeringan selama puncak musim kemarau. "Dari hasil kajian memang potensi-potensi itu sudah dibuat. Kejadian yang terjadi di Kabupaten Tangerang adalah bencana kebanjiran, bencana puting beliung, termasuk di dalamnya adalah kekeringan. Kurang lebih sekitar 20 kecamatan mengalami rawan kekeringan," jelasnya.
Untuk mengatasi krisis yang sudah terjadi, BPBD mulai menyalurkan bantuan air bersih ke wilayah-wilayah yang membutuhkan. Proses penyaluran dilakukan berdasarkan permohonan dari pemerintah desa maupun kelurahan, dengan tujuan agar distribusi bantuan tepat sasaran dan tidak tumpang tindih. Selain itu, BPBD juga terus berkoordinasi dengan sejumlah organisasi perangkat daerah terkait, termasuk Perumda Air Minum Tirta Kerta Raharja (TKR). Langkah ini diambil untuk memastikan ketersediaan pasokan air bersih apabila dampak kekeringan semakin meluas. "Kita antisipasi sambil berkoordinasi dengan Organisasi Perangkat Daerah terkait. Contohnya dengan Perumdam agar nanti bisa bantu menyiapkan air bersih sebagai bantuannya," kata Taufik.
Dalam upaya memperkuat respons darurat, BPBD juga menyiagakan personel dan armada di 14 pos pemadam kebakaran yang beroperasi secara bergiliran selama 24 jam. Pusat Pengendalian Operasional (Pusdalops) pun siaga penuh menerima laporan darurat, baik dari pos lapangan maupun laporan langsung dari masyarakat. "Pusdalops siaga penuh menerima laporan darurat 24 jam, baik dari pos lapangan maupun laporan langsung dari masyarakat," ujar Taufik.
Krisis air bersih ini menjadi pengingat akan kerentanan wilayah penyangga ibu kota terhadap perubahan iklim dan pola cuaca ekstrem. Kabupaten Tangerang, yang sebagian besar wilayahnya merupakan daerah permukiman dan industri, sangat bergantung pada pasokan air tanah dan air permukaan. Musim kemarau yang berkepanjangan tidak hanya mengancam kebutuhan rumah tangga, tetapi juga sektor pertanian dan industri kecil. Jika kemarau terus berlanjut tanpa turun hujan yang signifikan, jumlah kecamatan yang terdampak diprediksi akan bertambah, menguji kesiapan pemerintah daerah dalam mengelola sumber daya air dan logistik bantuan.
Ke depan, pertanyaan mendasar yang perlu dijawab adalah apakah sistem peringatan dini dan infrastruktur air baku di Tangerang sudah cukup tangguh menghadapi siklus kemarau yang semakin ekstrem? Ataukah krisis ini akan menjadi pola tahunan yang membutuhkan solusi struktural jangka panjang, seperti pembangunan waduk, optimalisasi danau retensi, atau penerapan teknologi panen hujan? Tanpa langkah antisipatif yang lebih masif, warga di zona rawan kekeringan akan terus bergantung pada bantuan air bersih yang sifatnya sementara.



