Pete Davidson Serukan Empati di Tengah Sorotan Publik: 'Kita Perlu Berhenti Menuang Bensin ke Api'
Baca dalam 60 detik
- Pete Davidson menekankan pentingnya empati dan kasih sayang terhadap sesama, terutama bagi mereka yang sedang menghadapi masalah.
- Ia mengkritik kecenderungan publik menambah beban orang yang sudah kesulitan, bukan membantu.
- Pengalaman pribadinya disorot karena kehidupan asmara membuatnya merasa trauma dan ingin dikenal lewat karya komedi.

Komedian dan aktor Pete Davidson menyuarakan keprihatinannya tentang kurangnya empati di masyarakat modern. Dalam wawancara dengan majalah Interview, pria 32 tahun itu menegaskan bahwa sudah saatnya berhenti memperburuk keadaan orang lain yang sedang menghadapi masalah. "Kita perlu berhenti menuang bensin ke api," ujarnya, seraya menambahkan bahwa tindakan tersebut hanya membuat hidup orang yang sedang berjuang menjadi lebih sulit.
Davidson, yang dikenal lewat penampilannya di Saturday Night Live dan kini membintangi film komedi perampokan "How to Rob a Bank", menilai bahwa perilaku seseorang sering kali memiliki alasan mendalam. "Ketika saya melihat orang bertindak di luar kebiasaan atau sedang dalam masa sulit โ dan saya pernah di posisi itu โ saya tahu ada lapisan-lapisan yang melatarbelakanginya," jelasnya. Baginya, pemahaman semacam ini krusial untuk membangun masyarakat yang lebih manusiawi.
Ia menekankan bahwa sebagian besar orang tidak sengaja menciptakan masalah. "Memang ada pengecualian, tetapi kita perlu berempati secara umum. Jika melihat seseorang kesulitan atau berperilaku tidak seperti biasanya, hal pertama yang harus dilakukan adalah memastikan mereka baik-baik saja, karena pasti ada penyebabnya," tambah Davidson. Ia berharap sikap ini tidak hanya berlaku dalam interaksi sehari-hari tetapi juga tercermin dalam cara publik menyikapi figur publik.
Pernyataan Davidson ini muncul di tengah budaya daring yang kerap menghakimi dan memperbesar kesalahan seseorang. Di Indonesia, fenomena serupa juga marak, terutama di media sosial, di mana figur publik sering menjadi sasaran cemoohan tanpa mempertimbangkan konteks pribadi mereka. Kesehatan mental menjadi isu yang semakin relevan, dan seruan Davidson sejalan dengan kampanye global untuk lebih memahami kondisi psikologis orang lain.
"Jika Anda melihat seseorang berjuang atau berperilaku di luar karakter, hal pertama yang harus Anda lakukan adalah memastikan mereka baik-baik saja, karena ada alasan di balik tindakan mereka." - Pete Davidson
Lebih lanjut, Davidson mengungkapkan frustrasinya terhadap perhatian publik yang lebih menyoroti kehidupan asmaranya ketimbang karyanya di dunia komedi. Dalam wawancara dengan The Breakfast Club, ia mengaku lelah karena kariernya selalu dikaitkan dengan hubungan pribadi. "Saya sangat lelah jika seluruh karier saya hanya tentang kehidupan pribadi. Menjalani itu sungguh traumatis. Bukan berarti saya lemah, tetapi hidup terus-menerus dalam masalah sendiri itu traumatis," tuturnya. Pengalaman ini membuatnya semakin vokal tentang pentingnya empati, terutama bagi mereka yang terus-menerus menjadi bahan pembicaraan.
Bagi Indonesia, pesan Davidson dapat menjadi cermin. Budaya gotong royong dan tenggang rasa yang menjadi identitas bangsa seakan tergerus oleh budaya komentar pedas di dunia maya. Masyarakat perlu kembali menumbuhkan rasa peduli terhadap sesama, termasuk kepada mereka yang berbeda atau sedang dalam kesulitan. Industri hiburan Tanah Air pun tak lepas dari tekanan serupa; banyak artis yang mengalami gangguan kesehatan mental akibat tekanan publik. Seruan Davidson bisa menjadi pemicu untuk merefleksikan kembali cara kita berinteraksi, baik di dunia nyata maupun daring.
Ke depan, apakah seruan empati ini akan diikuti dengan perubahan nyata dalam perilaku publik, atau hanya menjadi wacana sesaat? Davidson berharap film barunya dapat dinikmati, tetapi lebih dari itu, ia menginginkan dunia yang lebih pengertian. Tantangan bagi kita semua adalah menerjemahkan kata-kata menjadi tindakan, mulai dari hal-hal kecil di sekitar kita.



