Lisa BLACKPINK: Tekanan Ketenaran dan Transformasi Karier di Industri Hiburan
Baca dalam 60 detik
- Lisa BLACKPINK mengungkapkan bahwa tekanan ketenaran sejak remaja membentuk kepribadiannya menjadi lebih kuat.
- Perjalanan audisi dan kehilangan rekan sesama trainee menjadi pelajaran berharga tentang ketahanan mental di industri K-pop.
- Transisi ke dunia akting dalam serial The White Lotus menjadi langkah segar untuk mencari inspirasi baru setelah lebih dari satu dekade berkarier di musik.

Lisa, personel grup K-pop BLACKPINK, mengungkapkan bahwa tekanan ketenaran yang ia alami sejak usia belia telah membentuk karakter dan ketangguhannya. Dalam wawancara dengan Variety, penyanyi berusia 29 tahun itu menyatakan bahwa meskipun masa-masa awal kariernya tidak mudah, pengalaman tersebut justru menjadi fondasi jati dirinya.
Lisa mengawali karier sebagai trainee di bawah naungan YG Entertainment dan debut bersama BLACKPINK pada 2016. Grup tersebut kemudian menjelma menjadi salah satu girl group terlaris sepanjang masa, dengan jutaan album terjual dan tur dunia yang selalu sold out. Namun, di balik gemerlap panggung, Lisa mengakui bahwa proses audisi yang ketat dan kompetitif menjadi ujian mental tersendiri. Ia menyaksikan beberapa teman harus meninggalkan grup, sebuah pengalaman yang menyakitkan namun mengajarkannya tentang realitas industri hiburan.
"Saya bersyukur pernah melewati semua itu. Melihat teman-teman harus pergi memang menyedihkan, tetapi itu bukan akhir dari segalanyaโhanya bagian dari perjalanan hidup. Kita semua tumbuh dan belajar dari pengalaman tersebut," ujar Lisa, seperti dikutip dari Variety.
Lisa juga merasa bangga bisa melewati serangkaian audisi untuk bergabung dengan BLACKPINK. Ia mengenang momen ketika harus tampil di depan banyak orang dan menghadapi kemungkinan tersisih. "Saya tahu itu terdengar gila karena harus tampil di depan banyak orang dan bisa saja tereliminasi, tapi itu menyenangkan. Saat menonton kembali video-video lama, saya berpikir, 'Wow, luar biasa kita bisa menciptakan koreografi itu sendiri,'" tuturnya.
Di tengah kesuksesan sebagai penyanyi, Lisa memutuskan untuk mengeksplorasi dunia akting. Ia mengaku merasa stagnan secara kreatif setelah lebih dari satu dekade berkecimpung di industri musik. Keputusan ini diambilnya untuk mencari inspirasi baru. Dalam wawancara dengan Vanity Fair, Lisa menjelaskan bahwa terkadang setelah melakukan hal yang sama selama bertahun-tahun, seseorang perlu menemukan tantangan baru.
Meski kini sukses sebagai aktris, Lisa mengaku tidak selalu tertarik pada akting. Ibunya sempat mendorongnya untuk menjadi aktor cilik dan mengirimnya ke sekolah akting. "Akting adalah salah satu hal yang tidak pernah saya ingin coba. Waktu kecil, ibu ingin saya menjadi aktor cilik, dan dia mengirim saya ke sekolah akting," kenangnya.
Perjalanan karier Lisa mencerminkan dinamika industri hiburan Korea Selatan yang kompetitif, di mana para idola sering kali harus menghadapi tekanan psikologis sejak dini. Fenomena ini juga terjadi di Indonesia, di mana industri musik dan hiburan lokal mulai mengadopsi sistem pelatihan ala K-pop. Banyak agensi di Tanah Air yang merekrut anak-anak muda untuk dididik menjadi idola, dengan jadwal latihan padat dan ekspektasi tinggi. Hal ini memunculkan pertanyaan tentang perlindungan kesehatan mental para calon bintang muda.
Pengalaman Lisa menunjukkan bahwa ketahanan mental dan dukungan keluarga menjadi faktor penting dalam menghadapi tekanan industri. Ia berhasil melewati masa-masa sulit dan kini menjadi salah satu ikon global. Ke depannya, apakah industri hiburan Indonesia siap memberikan perlindungan serupa bagi talenta mudanya? Pertanyaan ini relevan seiring semakin banyaknya ajang pencarian bakat dan grup idola lokal yang bermunculan.



