Jepang Cetak Rekor: 107.677 Warga Berusia 100 Tahun, Sinyal Krisis Demografi Asia
Baca dalam 60 detik
- Populasi centenarian Jepang melampaui 100 ribu jiwa untuk pertama kalinya, dengan total 107.677 orang per September 2026.
- Perempuan mendominasi 87,6 persen, sementara rata-rata 87,51 centenarian per 100 ribu penduduk menandakan beban fiskal dan tenaga kerja yang membengkak.
- Tren ini memicu diskusi kebijakan pensiun dan perawatan jangka panjang di seluruh Asia, termasuk Indonesia yang mulai menua pada 2045.

Jepang menorehkan tonggak sejarah yang jarang terjadi: untuk pertama kalinya, jumlah penduduk berusia 100 tahun atau lebih menembus 100 ribu jiwa. Data Kementerian Kesehatan, Tenaga Kerja, dan Kesejahteraan Jepang per 1 September 2026 mencatat 107.677 centenarian, naik 7.914 orang dari tahun sebelumnya. Ini adalah kenaikan tahunan ke-56 secara berturut-turut sejak pencatatan dimulai pada 1963, ketika hanya ada 153 orang berusia seabad.
Lonjakan ini bukan sekadar angka. Jepang kini memiliki rata-rata 87,51 centenarian per 100 ribu penduduk, dengan perempuan menyumbang 87,6 persen dari total. Pada tahun fiskal 2026, diperkirakan 54.294 orang akan genap berusia 100 tahun, bertambah 1.984 dari periode sebelumnya. Perempuan tertua Jepang, Fuyo Kishimoto (114 tahun, lahir 20 Desember 1911), dan pria tertua, Hikaru Kato (112 tahun, lahir 2 Mei 1914), menjadi simbol betapa panjangnya usia harapan hidup di sanaโ87,33 tahun untuk perempuan dan 81,35 tahun untuk laki-laki pada 2025.
Pencapaian ini mencerminkan keberhasilan sistem kesehatan dan gizi Jepang, tetapi juga mempertegas tekanan demografis yang kian berat. Rasio ketergantungan lansia membengkak, sementara angkatan kerja produktif menyusut. Pemerintah Jepang telah menaikkan usia pensiun dan mendorong partisipasi lansia di pasar kerja, namun biaya perawatan jangka panjang dan pensiun tetap membebani anggaran negara. Fenomena ini bukan eksklusif Jepang; Korea Selatan, Taiwan, dan Singapura menuju arah serupa dengan kecepatan berbeda.
"Ledakan centenarian adalah cermin keberhasilan pembangunan, tetapi juga ujian bagi fondasi fiskal dan sosial suatu bangsa," ujar seorang analis demografi dari lembaga riset independen, seperti dikutip dalam laporan Kyodo News.
Bagi Indonesia, sinyal ini bukan sekadar berita internasional. Badan Pusat Statistik memproyeksikan Indonesia akan memasuki fase aging population pada 2045, ketika lebih dari 20 persen penduduk berusia di atas 60 tahun. Artinya, persiapan sistem jaminan sosial, layanan kesehatan lansia, dan reformasi pensiun tidak bisa ditunda. Investor dan profesional perlu mencermati sektor perawatan kesehatan, asuransi jiwa, dan properti ramah lansia sebagai lanskap bisnis masa depan.
Pertanyaannya, apakah Indonesia akan meniru Jepang dalam memperpanjang usia produktif melalui teknologi dan kebijakan inklusif, atau justru terjebak dalam jebakan pendapatan menengah sebelum sempat menua? Waktu terus berjalan, dan setiap tahun yang terlewat membuat biaya adaptasi demografis semakin mahal.



