Tewasnya WN Australia dan Dua Anak di Bali: Panggilan Terakhir yang Mengungkap Tragedi
Baca dalam 60 detik
- Seorang pria warga negara Australia berinisial SDJ (56) ditemukan tewas bersama dua anaknya di sebuah bungalo di Legian, Bali, diduga setelah melakukan pembunuhan dan bunuh diri.
- Istri korban yang berada di Jakarta sempat mendengar teriakan 'stop, Daddy' dari anak perempuannya saat menelepon, sebelum komunikasi terputus dan korban tak dapat dihubungi.
- Peristiwa ini menyoroti pentingnya deteksi dini kesehatan mental dan pengawasan keluarga, terutama di kawasan wisata yang rentan tekanan psikologis.

Warga negara Australia berinisial SDJ (56) ditemukan tewas bersama dua anaknya, ADS (6) dan LKS (4), di sebuah bungalo di Legian, Kuta, Badung, Bali, pada Minggu (13/9/2026). Polisi menduga pria tersebut membunuh kedua anaknya lalu mengakhiri hidupnya sendiri. Peristiwa ini terungkap setelah istrinya yang berada di Jakarta tidak dapat menghubungi suaminya dan meminta bantuan pemilik bungalo untuk mengecek kondisi keluarganya.
Kabid Humas Polda Bali Kombes Ariasandy mengungkapkan bahwa istri SDJ telah berada di Jakarta sejak empat hari sebelumnya, sementara SDJ dan kedua anaknya tinggal di bungalo tersebut. Pada Minggu pagi sekitar pukul 08.30 Wita, istri korban sempat menelepon suaminya. Dalam sambungan itu, ia mendengar suara anaknya menangis dan kemudian suara anak perempuannya, LKS, yang memohon 'stop, Daddy'. Tak lama setelah itu, komunikasi terputus dan SDJ tidak dapat dihubungi lagi.
Merasa ada yang tidak beres, istri SDJ menghubungi pengelola bungalo untuk memeriksa keadaan. Beberapa jam kemudian, petugas menemukan SDJ dan kedua anaknya dalam kondisi tak bernyawa. Polisi hingga kini masih menyelidiki motif di balik peristiwa tragis ini, termasuk kemungkinan adanya tekanan psikologis yang dialami pelaku.
Kasus ini menambah daftar panjang insiden yang melibatkan warga asing di Bali, yang sering kali terkait dengan masalah kesehatan mental. Bali sebagai destinasi wisata utama memang menawarkan ketenangan, tetapi juga dapat menjadi tempat pelarian yang menyembunyikan beban psikologis. Tekanan hidup, isolasi, dan dinamika keluarga menjadi faktor yang perlu diwaspadai.
"Saat komunikasi tersebut terdengar suara anak perempuan korban yang mengatakan 'stop, Daddy'," ujar Kombes Ariasandy.
Bagi masyarakat Indonesia, khususnya pelaku industri pariwisata dan penyedia akomodasi, peristiwa ini menjadi pengingat akan pentingnya kepekaan terhadap tanda-tanda krisis mental. Para pengelola vila dan bungalo di kawasan wisata dapat dilatih untuk mengenali situasi darurat dan bertindak cepat. Selain itu, keluarga dan kerabat diharapkan lebih proaktif dalam menjaga komunikasi, terutama ketika ada anggota keluarga yang berada jauh dari rumah.
Dari perspektif kesehatan mental, kasus ini menegaskan bahwa depresi dan gangguan psikologis tidak memandang status sosial atau kewarganegaraan. Akses terhadap layanan konseling dan dukungan psikologis masih menjadi tantangan, baik bagi warga lokal maupun asing. Pemerintah dan lembaga terkait perlu memperkuat sistem deteksi dini, termasuk di lingkungan ekspatriat dan wisatawan.
Ke depan, penyelidikan polisi diharapkan mengungkap motif dan latar belakang psikologis pelaku. Apakah ada peringatan yang terlewat? Bagaimana peran lingkungan sekitar dalam mencegah tragedi serupa? Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini akan menjadi bahan evaluasi bagi semua pihak untuk menciptakan lingkungan yang lebih aman dan peduli terhadap kesehatan mental.



