Perez Hilton Dirawat Inap, Ibunya Dapat Hak Asuh Sementara Tiga Anak
Baca dalam 60 detik
- Perez Hilton menjalani perawatan inap di fasilitas kesehatan mental setelah insiden menyakiti diri sendiri yang disiarkan langsung di TikTok pada 4 Agustus.
- Ibunya, Teresita Lavandeira, kini mengasuh ketiga anaknya sehari-hari, sementara keluarga membantah laporan amnesia yang beredar.
- Kasus ini menyoroti tekanan psikologis di industri hiburan dan pentingnya dukungan kesehatan mental, termasuk di Indonesia.

Blogger selebritas Perez Hilton, yang bernama asli Mario Armando Lavandeira Jr., telah dimasukkan ke program perawatan residensial untuk masalah kesehatan mental setelah melakukan tindakan menyakiti diri sendiri dalam siaran langsung TikTok dari rumahnya di Miami pada 4 Agustus lalu. Ibunya, Teresita Lavandeira, diberikan hak asuh sementara atas ketiga anak PerezโMario (13), Mia (11), dan Mayte (8)โselama ia menjalani pemulihan.
Keluarga Perez mengonfirmasi melalui pernyataan di situs webnya pada Senin (14/09/26) bahwa ia telah dirawat inap sebagai pasien dan diperkirakan akan tinggal selama beberapa minggu ke depan. Langkah ini disebut sebagai "tahap penting berikutnya" dalam proses penyembuhannya. Selama dirawat, Perez tidak memiliki akses ke ponsel atau laptop, sehingga komunikasi dengan dunia luar dilakukan melalui keluarga dan teman-temannya agar ia dapat fokus sepenuhnya pada pemulihan.
Dalam pernyataan tersebut, keluarga menegaskan bahwa ketiga anak Perez tetap bersama, aman, dan dalam kondisi baik di bawah asuhan nenek mereka. "Prioritas keluarga kami adalah memberikan stabilitas, rutinitas, dan normalitas sebanyak mungkin sementara ayah mereka fokus pada pemulihannya," demikian bunyi pernyataan itu. Mereka juga menyampaikan rasa terima kasih yang mendalam atas peran sang nenek.
Keluarga juga membantah keras laporan yang menyebutkan Perez mengalami amnesia pasca-krisis. "Perez tidak kehilangan ingatan sepuluh tahun, tidak mengira sekarang tahun 2016, dan tidak bingung dengan keberadaannya. Ia sadar dan berkomunikasi dengan jelas dengan keluarganya. Tidak ada jahitan atau perban," tegas mereka. Mereka menambahkan bahwa tidak ada anggota keluarga atau perwakilan resmi yang memberikan klaim palsu tersebut.
"Tiga anak hampir kehilangan ayah mereka untuk selamanya. Tidak ada yang lucu atau menghibur tentang itu."
Kasus Perez Hilton menyoroti tekanan psikologis yang kerap dihadapi figur publik, terutama di industri hiburan yang serba cepat dan penuh ekspektasi. Di Indonesia, kesadaran akan kesehatan mental di kalangan selebritas dan pekerja kreatif juga semakin meningkat, namun masih menghadapi stigma. Beberapa artanah air telah secara terbuka membicarakan perjuangan mereka, mendorong dialog yang lebih terbuka tentang pentingnya dukungan kesehatan mental.
Pakar kesehatan mental menekankan bahwa perawatan inap seringkali menjadi langkah krusial bagi individu yang mengalami krisis. Dukungan keluarga dan lingkungan yang stabil, seperti yang diberikan oleh ibu Perez, dapat mempercepat proses pemulihan. Namun, akses terhadap layanan kesehatan mental yang memadai masih menjadi tantangan di banyak negara, termasuk Indonesia, di mana kesenjangan antara kebutuhan dan ketersediaan tenaga profesional masih lebar.
Ke depan, pemulihan Perez Hilton akan menjadi perhatian publik, tidak hanya sebagai berita hiburan tetapi juga sebagai cermin betapa rentannya kesehatan mental di balik gemerlap dunia selebritas. Apakah industri hiburan, baik di Amerika Serikat maupun Indonesia, akan lebih serius menyediakan sistem dukungan bagi para pekerjanya? Pertanyaan ini relevan mengingat semakin banyaknya kasus serupa yang mencuat ke permukaan.



