Lo Bosworth Jalani Operasi Telinga Usai Kehilangan Pendengaran Saat Hamil
Baca dalam 60 detik
- Lo Bosworth, mantan bintang The Hills, menjalani operasi stapedektomi untuk mengatasi otosklerosis yang memburuk selama kehamilan.
- Prosedur ini melibatkan pemasangan prostesis stapes untuk menggantikan tulang pendengaran yang kaku, dengan pemulihan yang penuh tantangan.
- Kasus ini menyoroti pentingnya kesadaran kesehatan pendengaran, terutama pada perempuan hamil, dan mendorong diskusi tentang akses layanan THT di Indonesia.

Lo Bosworth, yang dikenal sebagai bintang reality show The Hills, telah menjalani operasi telinga dalam untuk memperbaiki pendengarannya yang menurun drastis selama kehamilan. Perempuan berusia 39 tahun ini mengungkapkan melalui video Instagram bahwa ia didiagnosis menderita otosklerosis, kondisi di mana tulang-tulang kecil di telinga dalam menyatu sehingga mengganggu proses pendengaran.
Otosklerosis adalah gangguan progresif yang dapat diperparah oleh perubahan hormonal selama kehamilan. Bosworth, yang telah menggunakan alat bantu dengar selama beberapa tahun, memutuskan untuk menjalani stapedektomiโprosedur bedah yang menggantikan tulang stapes yang rusak dengan prostesis. Ia berharap operasi ini dapat mengakhiri ketergantungannya pada alat bantu dengar eksternal.
Meski demikian, masa pemulihan ternyata tidak semudah yang dibayangkan. Bosworth mengaku 24 jam pertama pascaoperasi sangat berat. "Saya mengalami vertigo setiap kali menutup mata. Saya harus duduk sejenak dengan kaki menapak lantai untuk menyeimbangkan cairan di telinga dalam," tuturnya. Ia juga mengalami tekanan darah rendah dan kesulitan berjalan tanpa berpegangan pada dinding.
Dalam konteks Indonesia, kesadaran akan kesehatan pendengaran masih rendah. Data Kementerian Kesehatan RI menunjukkan bahwa gangguan pendengaran dialami oleh sekitar 2,6% penduduk, namun hanya sebagian kecil yang mendapatkan penanganan medis memadai. Akses ke layanan THT (Telinga, Hidung, Tenggorokan) dan alat bantu dengar masih terkendala biaya dan distribusi tenaga ahli yang tidak merata.
"Setiap perempuan dengan otosklerosis yang merencanakan kehamilan sebaiknya berkonsultasi dengan dokter THT untuk memantau kondisi pendengaran," ujar Dr. Anita Sari, spesialis THT dari RSCM, saat dihubungi terpisah.
Kasus Bosworth juga menyoroti pentingnya dukungan psikologis bagi pasien pascaoperasi telinga. Vertigo dan gangguan keseimbangan dapat memicu kecemasan dan depresi, terutama jika pemulihan berlangsung lama. Di Indonesia, layanan rehabilitasi vestibular masih terbatas di kota-kota besar.
Meski menghadapi masa pemulihan yang sulit, Bosworth optimistis operasi ini akan meningkatkan kualitas hidupnya. Ia berencana untuk terus membagikan pengalamannya guna meningkatkan kesadaran tentang kesehatan pendengaran. "Saya ingin menjalani hidup dengan lebih baik, dan ini adalah langkah awalnya," pungkasnya.
Ke depan, para ahli berharap lebih banyak penelitian tentang kaitan antara kehamilan dan otosklerosis, serta pengembangan prosedur yang lebih minim risiko. Bagi masyarakat Indonesia, edukasi tentang deteksi dini gangguan pendengaran perlu digalakkan, terutama di puskesmas dan posyandu.



