Enam Unggulan Tumbang di US Open: Tekanan Mental atau Musim yang Terlalu Padat?
Baca dalam 60 detik
- Enam dari sepuluh petenis putra unggulan tersingkir sebelum babak keempat US Open, membuka peluang kejutan di Flushing Meadows.
- Dominasi Sinner dan Alcaraz yang memenangi 10 dari 11 Grand Slam terakhir membuat persaingan di papan atas semakin timpang dan menambah beban psikologis lawan-lawannya.
- Berbeda dengan sektor putri yang lebih kompetitif dengan tujuh juara berbeda dalam tujuh Grand Slam terakhir, sektor putra justru menunjukkan kesenjangan kualitas yang makin lebar.

Flushing Meadows, New York โ Kegagalan enam dari sepuluh unggulan teratas putra untuk melaju ke babak keempat US Open 2025 menjadi sinyal bahwa persaingan tenis putra tengah memasuki fase yang tidak menentu. Taylor Fritz, petenis tuan rumah yang menjadi harapan besar, termasuk salah satu korban setelah menyia-nyiakan keunggulan dua set atas Francisco Cerundolo di babak ketiga.
Turnamen yang dihelat di tengah absennya Jannik Sinner karena cedera dan kembalinya Carlos Alcaraz setelah istirahat panjang justru tidak berjalan sesuai skenario. Alih-alih memanfaatkan peluang, para unggulan seperti Fritz, Novak Djokovic, dan Felix Auger-Aliassime malah tersingkir lebih awal. Kondisi ini memunculkan pertanyaan: apakah tekanan mental menjadi faktor utama, atau ada persoalan yang lebih sistemik di tubuh tenis putra?
Pat Cash, mantan juara Wimbledon, menilai dominasi Sinner dan Alcaraz yang memenangi 10 dari 11 gelar Grand Slam terakhir telah menciptakan semacam "balap dua kuda" yang tidak sehat bagi kelangsungan tur. Menurutnya, setiap kemenangan Alcaraz membuatnya semakin difavoritkan, bahkan setelah empat bulan tanpa bertanding pun ia tetap dianggap mampu menjuarai US Open. Situasi ini membuat para petenis lain merasa harus bermain sempurna sejak awal, sebuah beban yang kerap berujung pada performa buruk.
Tekanan mental memang bukan satu-satunya biang keladi. Musim yang panjang dan padat, plus kondisi fisik yang menurun, ikut berkontribusi. Djokovic, misalnya, harus mengakui keunggulan lawannya di babak pertama karena masalah pada tubuhnya yang mulai menua. Sementara Auger-Aliassime mengaku pusing saat kalah di babak kedua, dan Flavio Cobolli kehabisan energi di babak ketiga akibat akumulasi pertandingan dan panasnya New York. Petenis muda Rafael Jodar, yang memainkan lebih dari 50 laga di musim pertamanya, tampak kelelahan saat tersingkir di babak awal.
Alexander Blockx, petenis Belgia yang menyingkirkan Cobolli, menegaskan bahwa para petenis adalah manusia biasa, bukan robot. Ia menyoroti betapa sulitnya menjaga konsistensi mental dan fisik setiap pekan, terutama di turnamen sebesar Grand Slam. Pernyataan ini menggarisbawahi bahwa tuntutan tur yang berjalan hampir sepanjang tahun tanpa jeda menjadi tantangan tersendiri bagi para pemain papan atas.
Fenomena ini kontras dengan sektor putri yang justru memperlihatkan stabilitas. Sebelas dari enam belas unggulan teratas melaju ke babak keempat, dengan Aryna Sabalenka dan Elena Rybakina tampil dominan tanpa kehilangan satu set pun. Tujuh Grand Slam terakhir di putri menghasilkan tujuh juara berbeda, menunjukkan bahwa persaingan di sana lebih terbuka. Jessica Pegula menilai kedalaman kompetisi di putri membuat siapa pun berpeluang menang, tidak seperti di putra yang didominasi satu atau dua pemain super.
Bagi penggemar tenis di Indonesia, kondisi ini menarik untuk disimak karena menunjukkan bahwa regenerasi petenis papan atas tidak semulus yang dibayangkan. Ketergantungan pada segelintir nama seperti Sinner dan Alcaraz membuat turnamen menjadi mudah ditebak, sekaligus menekan petenis lain untuk tampil di luar batas kemampuan. Jika tren ini berlanjut, bukan tidak mungkin kita akan melihat lebih banyak kejutan di turnamen-turnamen berikutnya, sekaligus memunculkan nama-nama baru yang siap bersaing di panggung terbesar.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah para petenis putra mampu beradaptasi dengan tuntutan musim yang semakin berat, atau justru semakin banyak yang meniru jejak Zverev yang baru bisa tampil lepas setelah meraih gelar pertamanya di Prancis Terbuka. Sementara itu, persaingan di puncak klasemen putri yang semakin ketat โ dengan Sabalenka yang mulai goyah dan Rybakina, Pegula, serta Gauff yang mengintai โ akan menjadi tontonan menarik yang layak dinantikan.



