Tiafoe Akhiri Kutukan Medvedev dan Guncang Arthur Ashe: Mimpi Petenis AS di US Open 2024
Baca dalam 60 detik
- Frances Tiafoe menaklukkan Daniil Medvedev di babak keempat US Open, membalikkan rekor buruk head-to-head menjadi 2-6.
- Kemenangan straight set ini menempatkan Tiafoe di perempat final, memperpanjang performa impresifnya di Lapangan Louis Armstrong.
- Publik Amerika berharap Tiafoe dapat mengakhiri paceklik gelar Grand Slam tunggal putra yang telah berlangsung 23 tahun.

NEW YORK โ Frances Tiafoe akhirnya memecahkan kebuntuan melawan Daniil Medvedev. Pada babak keempat US Open, Minggu (8/9) waktu setempat, petenis tuan rumah itu menang telak 7-6(1), 6-4, 7-6(6) di Lapangan Louis Armstrong. Kemenangan ini mengantarnya ke perempat final dan memberi harapan baru bagi publik Amerika yang sudah 23 tahun menanti gelar Grand Slam tunggal putra.
Sebelum laga ini, Tiafoe selalu kalah dari Medvedev dalam enam pertemuan, satu-satunya kemenangan diraih di ajang beregu Laver Cup. Namun, kali ini ia tampil dengan permainan berbeda. Tiafoe bermain agresif dengan banyak mendekati net, sebuah strategi yang terbukti efektif untuk meredam permainan defensif Medvedev. Ia juga tampil tenang di momen-momen krusial, seperti saat menyelamatkan set point di tiebreak ketiga.
"Pertandingan yang luar biasa. Banyak aksi balas-membalas dan break. Saya bermain baik hari ini, terutama saat-saat penting. Saya tahu apa yang harus dilakukan dan berhasil mengeksekusinya," ujar Tiafoe, yang kini berstatus unggulan ke-11, dalam konferensi pers usai laga.
Kemenangan ini terasa istimewa karena terjadi di hadapan pendukung sendiri. Tiafoe memang belum pernah kalah di Lapangan Louis Armstrong, dengan catatan sepuluh kemenangan beruntun. Lapangan yang kerap dianggap sebagai "adik" dari Arthur Ashe ini seolah menjadi kandang kedua baginya. "Energi di sini luar biasa. Ini seperti lapangan milik rakyat," kata Tiafoe, yang kerap dijuluki sebagai salah satu petenis paling karismatik di sirkuit.
Di sisi lain, Medvedev mengakui keunggulan lawannya. "Saya seharusnya membuat keputusan yang lebih baik. Di momen-momen penting, dia lebih baik dalam mengambil keputusan atau pukulan. Secara umum, saya punya peluang, tapi dia layak menang," tutur mantan juara US Open 2021 itu. Kekalahan ini menjadi pukulan telak bagi Medvedev yang musim ini sedang berusaha bangkit setelah tersingkir dini di beberapa turnamen.
Bagi pecinta tenis Indonesia, kemenangan Tiafoe menambah daya tarik US Open yang kerap diikuti lewat siaran langsung. Selain itu, performa konsisten Tiafoe bisa menjadi inspirasi bagi petenis muda Asia Tenggara yang bercita-cita menembus papan atas. Namun, yang lebih penting, laga ini menunjukkan bahwa persaingan di puncak tenis putra semakin terbuka, dengan munculnya nama-nama seperti Tiafoe, Jannik Sinner, dan Carlos Alcaraz yang siap menggusur dominasi generasi Medvedev.
Selanjutnya, Tiafoe akan berhadapan dengan Alex Michelsen, petenis muda Amerika yang sedang naik daun. Meski secara head-to-head Tiafoe unggul, Michelsen bukan lawan yang bisa diremehkan. Pertanyaan besarnya: dapatkah Tiafoe menjaga konsistensi dan akhirnya mengakhiri puasa gelar Grand Slam Amerika? Atau justru Michelsen yang akan menjadi kuda hitam? Jawabannya akan terjawab di perempat final nanti.



