Capello Yakin Roma Mampu Goyang Inter di Perebutan Scudetto
Baca dalam 60 detik
- Legenda Serie A menilai skuad asuhan Gasperini punya kedalaman dan kualitas untuk bersaing di papan atas.
- Kemenangan comeback atas Atalanta menjadi bukti mentalitas dan efektivitas rotasi pemain Roma.
- Ujian sesungguhnya menanti di Liga Champions, yang bisa menentukan konsistensi mereka di musim ini.

Fabio Capello, pelatih terakhir yang membawa AS Roma meraih scudetto pada musim 2000-01, percaya bahwa tim ibu kota Italia itu memiliki peluang nyata untuk menantang Inter Milan dalam perebutan gelar Serie A musim 2026-27. Keyakinan ini muncul setelah Roma dan Inter menjadi dua-satunya klub yang meraih sembilan poin sempurna dari tiga laga perdana.
Dalam wawancara dengan La Gazzetta dello Sport, Capello menyoroti gaya bermain Roma yang agresif dan kolektif. Menurutnya, pendekatan satu-lawan-satu yang diterapkan Gian Piero Gasperini, dengan dukungan penuh antar pemain, menjadi fondasi utama. “Ketika Anda memiliki empat atau lima pemain berkualitas di sepertiga akhir lapangan yang mampu berkomunikasi di ruang sempit, cepat atau lambat sesuatu akan terjadi,” ujarnya. Gol kemenangan dramatis atas Atalanta akhir pekan lalu disebut sebagai bukti nyata efektivitas filosofi tersebut.
Capello juga mengapresiasi kebijakan Gasperini yang menuntut dua pemain starter di setiap posisi. Rotasi yang masif, terutama di babak kedua saat melawan Atalanta, menunjukkan kedalaman skuad yang sehat. “Mereka semua bermain dengan keinginan menang yang sama karena sadar bahwa mereka kompetitif,” tambah Capello. Ia bahkan mencatat tidak ada satu pun pemain pengganti yang menunjukkan kekecewaan berlebihan, sebuah indikator positif bagi keharmonisan ruang ganti.
Namun, Capello mengingatkan bahwa atmosfer di Roma seringkali fluktuatif—dari euforia tinggi hingga depresi mendalam. Ia menekankan pentingnya keseimbangan dan ketenangan, karakteristik yang ia lihat pada Gasperini dan dirinya sendiri. “Saya selalu yakin bahwa dibutuhkan pemain untuk menang,” tegasnya, menggarisbawahi bahwa kualitas individu tetap menjadi faktor penentu.
Dalam laga kontra Atalanta, Roma sempat tertinggal lebih dulu, namun berbalik menang 2-1 berkat gol telat Mario Hermoso dan Matias Soulé. Paulo Dybala, yang tampil penuh 90 menit, mendapat pujian khusus dari Capello. “Anda tidak bisa mengesampingkan Dybala ketika ia dalam kondisi fit,” katanya. Ia juga menyoroti peran Soulé yang meski hanya bermain 20 menit di babak kedua, mampu menjadi pembeda. Sementara itu, pemain yang akrab disapa Mora dinilai menunjukkan kelas dan ketajaman.
Bagi pengamat sepak bola Indonesia, persaingan di Serie A selalu menarik untuk diikuti, terutama dengan kehadiran pemain-pemain berdarah Indonesia atau keturunan yang mungkin merumput di liga tersebut. Meski belum ada nama yang menonjol, tren rotasi pemain dan manajemen skuad yang diterapkan Gasperini bisa menjadi pelajaran berharga bagi klub-klub Indonesia yang sedang membangun kedalaman tim.
Roma akan menghadapi ujian berat di pentas Eropa saat mengunjungi Fenerbahce di Istanbul pada Kamis. Capello optimistis performa Roma akan tetap konsisten, mengingat kualitas wasit di tiga laga awal dianggapnya baik. Setelah laga tersebut, Roma akan melawat ke markas Torino pada 14 September. Pertanyaannya, akankah Roma mampu mempertahankan laju sempurna mereka dan benar-benar menjadi penantang serius bagi Inter? Atau justru tekanan ganda di liga dan Eropa akan menguras energi mereka?



