Coco Gauff Akui Beban Alexandra Eala Lebih Berat: 'Saya Tak Bisa Merasakannya'
Baca dalam 60 detik
- Petenis peringkat empat dunia, Coco Gauff, menilai tekanan yang diemban Alexandra Eala lebih besar karena statusnya sebagai pelopor tenis putri Filipina.
- Eala, yang baru berusia 21 tahun, telah menembus 18 besar dunia dan menjadi juara WTA 500 pertama dari Filipina, sebuah pencapaian yang belum pernah terjadi sebelumnya.
- Perbandingan dengan Manny Pacquiao muncul dari Gauff, menyoroti bagaimana Eala dianggap sebagai simbol harapan dan kebanggaan nasional yang membawa beban ekspektasi luar biasa.

Flushing Meadows, New York โ Petenis Amerika Serikat, Coco Gauff, mengakui bahwa ia tidak dapat sepenuhnya memahami besarnya tekanan yang ditanggung oleh bintang tenis asal Filipina, Alexandra Eala. Gauff, yang saat ini menempati peringkat keempat dunia, menyebut Eala menghadapi beban yang lebih berat daripada dirinya, terutama karena statusnya sebagai pelopor tenis putri Filipina. Pernyataan ini muncul setelah Eala tersingkir di babak ketiga US Open, sebuah momen yang membuat petenis berusia 21 tahun itu menangis saat membicarakan dukungan luar biasa dari publik Filipina.
Eala, yang tahun lalu menjadi petenis Filipina pertama yang memenangkan pertandingan di era Open di US Open, kini telah menembus peringkat 18 dunia. Prestasinya meroket setelah memenangkan gelar WTA 500 pertamanya di Washington Open, sebuah pencapaian yang belum pernah diraih oleh petenis Filipina mana pun. Sebelumnya, ia juga sukses menjuarai turnamen WTA 125 di Birmingham. Kesuksesan ini menjadikannya ikon nasional, bahkan disebut-sebut sebagai penerus jejak Manny Pacquiao dalam dunia olahraga Filipina.
Gauff, yang akan menghadapi Iva Jovic di babak keempat, mengaku tidak bisa berempati sepenuhnya dengan kondisi Eala. "Saya tidak bisa, karena dia adalah petenis Filipina pertama yang memecahkan banyak hambatan, terutama di sektor putri," ujar Gauff, yang telah dua kali menjadi juara Grand Slam. "Ketika Anda berbicara tentang atlet dari Filipina, dia melakukan hal yang mirip dengan apa yang dilakukan Manny Pacquiao untuk negaranya. Saya beruntung berasal dari AS, di mana kami memiliki banyak ikon untuk diteladani, orang-orang yang telah membuka pintu bagi saya untuk berada di posisi ini."
Perbedaan konteks ini menjadi sorotan menarik dalam dunia tenis profesional. Bagi Indonesia, kisah Eala memberikan gambaran tentang bagaimana seorang atlet dari negara berkembang dapat menginspirasi jutaan orang, namun juga memikul ekspektasi yang sangat besar. Di Indonesia, kita memiliki atlet-atlet seperti Greysia Polii dan Apriyani Rahayu yang pernah meraih emas Olimpiade, namun dalam tenis, belum ada figur yang mampu menembus papan atas dunia. Kisah Eala bisa menjadi pelajaran tentang pentingnya dukungan ekosistem olahraga yang kuat, termasuk pembinaan usia dini dan fasilitas yang memadai, untuk melahirkan atlet-atlet kelas dunia.
Eala sendiri mengaku terharu dengan dukungan yang ia terima. Setelah kekalahannya dari Jovic, ia sempat menangis saat berbicara tentang sorakan dan bendera Filipina yang memenuhi tribun. "Dukungan mereka luar biasa, saya tidak bisa mengungkapkannya dengan kata-kata," katanya. Namun, Gauff menggarisbawahi bahwa tekanan yang dirasakan Eala mungkin lebih besar dari yang terlihat dari luar. "Dari luar, dia memiliki lebih banyak tekanan. Saya sangat menghormati dia dan apa yang dia lakukan, tetapi saya tidak bisa benar-benar berempati. Saya merasa dia memiliki lebih banyak tekanan daripada saya," tambah Gauff.
Perjalanan Eala memang penuh dengan momen bersejarah. Pada debutnya di US Open tahun lalu, ia menjadi petenis Filipina pertama yang memenangkan pertandingan di era Open. Tahun ini, ia melaju hingga babak keempat Wimbledon sebelum akhirnya tersingkir. Setiap kemenangannya selalu disambut euforia di Filipina, dan kehadirannya di turnamen-turnamen besar selalu menarik perhatian media nasional. Hal ini menunjukkan betapa besar arti Eala bagi negaranya, namun juga menyoroti beban psikologis yang harus ia tanggung.
Pertanyaan yang kini mengemuka adalah: mampukah Eala terus mempertahankan performa puncaknya di tengah tekanan yang semakin besar? Atau justru tekanan tersebut akan menjadi motivasi baginya untuk melangkah lebih jauh? Yang jelas, Eala telah membuktikan bahwa ia bukan sekadar sensasi sesaat. Dengan dukungan penuh dari Filipina dan kerja kerasnya di lapangan, ia berpotensi menjadi salah satu kekuatan baru dalam tenis putri dunia. Namun, seperti yang diingatkan Gauff, beban yang dipikulnya tidaklah ringan. Akankah Eala mampu mengubah tekanan menjadi energi positif untuk meraih lebih banyak gelar? Hanya waktu yang akan menjawab.



