Boban: Milan Belum Berkembang, Arsenal Kandidat Keempat Liga Champions
Baca dalam 60 detik
- Zvonimir Boban menilai AC Milan belum menunjukkan progres signifikan meski telah menghabiskan dana besar di bursa transfer.
- Ia mengkritik sepak bola Italia yang dinilai kurang ofensif dan tertinggal dari Eropa dalam hal kecepatan dan ide permainan.
- Boban memprediksi Barcelona, PSG, dan Bayern Munich sebagai favorit juara Liga Champions, dengan Arsenal sebagai pilihan keempatnya.

Legenda AC Milan, Zvonimir Boban, melontarkan kritik tajam terhadap klub yang pernah dibelanya. Dalam wawancara dengan Gazzetta dello Sport, ia menegaskan bahwa Milan belum menunjukkan kemajuan berarti, kecuali dalam keberanian memainkan sepak bola menyerang. Pernyataan ini muncul di tengah ekspektasi tinggi setelah Milan menjadi klub dengan belanja pemain terbesar di Serie A pada musim panas lalu.
Milan menggelontorkan dana sekitar 165 juta euro untuk merekrut pemain anyar, termasuk Gonçalo Ramos dari PSG dengan nilai transfer 75 juta euro dan Diego Moreira senilai 65 juta euro. Namun, Boban menilai investasi sebesar itu belum sebanding dengan kualitas yang dihasilkan. "Selama bertahun-tahun, Milan tidak melakukan hal-hal yang sesuai dengan identitasnya," ujarnya. Ia mencontohkan kekalahan dari Cagliari musim lalu sebagai bukti bahwa pendekatan defensif yang diterapkan sepanjang musim justru menjadi bumerang saat dibutuhkan dominasi permainan.
Kritik Boban tidak berhenti di situ. Ia juga menyoroti harga Gonçalo Ramos yang dinilai tidak proporsional. Meskipun Ramos memiliki naluri gol yang baik, Boban menilai kualitasnya belum mampu mengubah dimensi permainan tim. Sebaliknya, ia justru terkesan dengan kisah Cisse, pemain muda yang muncul dari ketiadaan berkat bakatnya. Kritik ini menjadi pukulan telak bagi manajemen Milan yang berharap investasi besar dapat membawa tim bersaing di level tertinggi.
Lebih jauh, Boban mengkritik kondisi sepak bola Italia secara umum. Menurutnya, Serie A tertinggal dari Eropa dalam hal kecepatan dan ide permainan. "Sepak bola Italia tidak terlalu menyerang, semakin fisik, dan kurang proaktif," tegasnya. Ia membandingkan dengan era setelah Sacchi, di mana 90% tim pemenang menggunakan empat bek dan dua pemain sayap, sementara di Italia justru banyak yang menerapkan catenaccio modern dengan tiga bek. Boban menilai perubahan harus datang dari klub-klub, bukan dipaksakan oleh federasi.
Di tengah kritiknya, Boban menemukan secercah harapan di Serie A, yaitu proyek Como yang ditangani Cesc Fàbregas. Ia mengaku sebagai penggemar proyek tersebut dan memuji cara Fàbregas melatih tim. Selain itu, ia juga menyebut Baturina, pemain muda asal Dinamo Zagreb yang kini bersinar di Como, sebagai contoh talenta yang berkembang.
Menjelang kembalinya Liga Champions pekan depan, Boban memberikan pandangannya tentang calon juara. Ia menempatkan Barcelona, PSG, dan Bayern Munich sebagai tim terbaik, dengan Lamine Yamal sebagai pilihannya untuk Ballon d'Or. "Dia memiliki bakat yang absurd; masih muda, tapi naturalitas bermainnya unik," pujinya. Di antara tim Inggris, ia menjagokan Arsenal sebagai kandidat keempat. Boban juga mengomentari keputusan Manchester City yang menunjuk Enzo Maresca sebagai pengganti Pep Guardiola, yang dinilainya logis karena gaya bermain Maresca yang proposional.
Boban juga memberikan apresiasi tinggi kepada Luis Enrique, pelatih Paris Saint-Germain, yang dianggapnya telah melakukan keajaiban. Ia terkesan dengan cara Enrique menemukan peran yang tepat bagi Ousmane Dembélé, yang sebelumnya gagal di Barcelona. Menurut Boban, Enrique layak disejajarkan dengan pelatih-pelatih hebat seperti Kovacs, Sacchi, Cruijff, Guardiola, dan Capello.
Bagi pengamat sepak bola Indonesia, kritik Boban terhadap Milan dan sepak bola Italia menjadi pengingat bahwa investasi besar tidak selalu berbanding lurus dengan kesuksesan. Hal ini relevan dengan perkembangan Liga 1 yang juga mulai gencar mendatangkan pemain asing berkualitas. Pertanyaannya, mampukah klub-klub Indonesia belajar dari pengalaman Milan untuk membangun fondasi yang lebih solid daripada sekadar belanja pemain mahal?



