Derbi Old Firm Tanpa Suporter Tandang: Keputusan Kontroversial demi Keamanan
Baca dalam 60 detik
- Laga klasik Skotlandia antara Celtic dan Rangers musim ini akan berlangsung tanpa kehadiran suporter tim tamu, menyusul kesepakatan darurat kedua klub dengan liga.
- Keputusan ini dipicu oleh kerusuhan suporter pada perempat final Piala Skotlandia Maret lalu, yang melibatkan sekitar 8.000 fans Celtic di Ibrox.
- Langkah ini berpotensi menjadi preseden bagi liga lain, termasuk Indonesia, dalam mengelola rivalitas keras antar klub demi keamanan.

Laga sengit antara Celtic dan Rangers, yang dikenal sebagai Derbi Old Firm, dipastikan berlangsung tanpa suporter tim tamu sepanjang musim ini. Keputusan ini diambil setelah negosiasi alot antara dua raksasa Glasgow dan otoritas liga Skotlandia (SPFL), sebagai respons atas kerusuhan yang mencoreng pertandingan musim lalu.
Kebijakan yang bersifat sementara ini berlaku untuk ajang Scottish Premiership dan Premier Sports Cup. Imbasnya, atmosfer stadion dipastikan kehilangan salah satu elemen paling ikonik dalam sepak bola Skotlandia: nyanyian dan dukungan vokal dari kubu pendukung tamu yang kerap memanaskan tensi pertandingan.
Akar masalahnya bermula dari laga perempat final Piala Skotlandia di Ibrox pada 8 Maret lalu. Setelah Celtic menang dramatis lewat adu penalti, sekitar 8.000 suporter tamu yang hadir terlibat dalam insiden pelemparan benda dan invasi lapangan. Jumlah tersebut jauh lebih besar dibanding alokasi biasanya untuk laga liga, karena aturan tiket Piala Skotlandia memang berbeda.
Menanggapi hal itu, Federasi Sepak Bola Skotlandia (SFA) telah menjatuhkan sanksi berat: kedua klub harus menggelar laga kandang berikutnya di Piala Skotlandia tanpa penonton. Kini, sanksi diperluas dengan larangan total suporter tandang di semua kompetisi domestik musim ini.
Menariknya, Rangers sempat mengusulkan alokasi 300 tiket untuk suporter Celtic pada laga Premier Sports Cup yang akan digelar 13 September di Ibrox. Namun, proposal itu ditolak mentah-mentah oleh kubu Celtic, yang kemudian memicu kebuntuan dan akhirnya melahirkan keputusan radikal ini. Sepekan berselang, giliran Celtic Park yang menjadi tuan rumah laga liga, dan dipastikan juga tanpa kehadiran fans Rangers.
Bagi pengamat sepak bola, keputusan ini menjadi ujian besar bagi manajemen keamanan pertandingan. Di satu sisi, langkah tegas diperlukan untuk mencegah terulangnya kekerasan. Namun di sisi lain, menghilangkan suporter tandang dianggap menghilangkan esensi rivalitas yang telah berlangsung lebih dari satu abad. Beberapa pihak menilai ini sebagai kegagalan negosiasi antara kedua klub yang seharusnya bisa mencari solusi lebih elegan, seperti pembatasan ketat atau penggunaan teknologi identifikasi penonton.
Fenomena ini sebenarnya tidak asing di Asia, termasuk Indonesia. Rivalitas panas seperti Persija vs Persib atau Arema vs Persebaya kerap memicu kerusuhan. Pelajaran dari Skotlandia bisa menjadi bahan evaluasi bagi PSSI dan klub-klub Liga 1 untuk memperketat pengaturan suporter tandang, terutama di laga-laga berisiko tinggi. Alih-alih melarang total, pendekatan berbasis data dan dialog antar suporter bisa menjadi alternatif yang lebih berkelanjutan.
Ke depannya, keputusan ini akan dievaluasi secara berkala. Pertanyaannya, apakah larangan ini akan benar-benar mampu meredam agresivitas suporter, atau justru memicu resistensi yang lebih besar? Yang jelas, sepak bola Skotlandia tengah berjalan di atas tali tipis antara menjaga gengsi dan memastikan keselamatan semua pihak.



