Nenek Moyang Manusia Ternyata Hidup Berpasangan, Bukan Penyendiri: Studi 15.000 Jurnal Ungkap Fakta Baru
Baca dalam 60 detik
- Analisis terhadap 806 spesies mamalia modern menunjukkan bahwa mamalia purba, termasuk nenek moyang manusia 160 juta tahun lalu, tidak selalu soliter; sebagian hidup berpasangan.
- Temuan ini membantah asumsi lama yang menyamakan perilaku mamalia awal dengan celurut (shrew) yang dianggap penyendiri, padahal hanya 16 dari 400 spesies celurut yang benar-benar diteliti.
- Perubahan dari hidup berpasangan menjadi berkelompok terjadi setelah kepunahan dinosaurus 66 juta tahun lalu, didorong oleh kebutuhan perlindungan dari predator.

Selama ini, para ilmuwan membayangkan nenek moyang mamalia, termasuk manusia, hidup menyendiri seperti celurut modern. Namun, sebuah studi komprehensif yang menelusuri 15.000 publikasi ilmiah selama sepuluh tahun membalik asumsi tersebut: sekitar 160 juta tahun lalu, mamalia berplasenta pertama justru kerap membentuk pasangan stabil jantan-betina, bukan hidup soliter.
Penelitian yang dipublikasikan di jurnal bergengsi ini menganalisis data perilaku sosial dari 806 spesies mamalia yang masih hidup, mewakili sekitar 14 persen dari total 5.740 spesies yang ada. Hasilnya, hanya 24 persen spesies yang benar-benar soliter, sementara 17 persen hidup berpasangan dan 59 persen hidup dalam kelompok. Temuan ini memberikan petunjuk penting tentang bagaimana kehidupan sosial mamalia—termasuk manusia—berevolusi jauh lebih awal dari perkiraan sebelumnya.
Ketua peneliti, yang memimpin tim berisi mahasiswa dan peneliti selama satu dekade, mengungkapkan bahwa asumsi lama tentang perilaku soliter mamalia awal didasari oleh penelitian yang dangkal terhadap celurut. Dari sekitar 400 spesies celurut yang diklasifikasikan soliter, hanya 16 yang benar-benar diteliti, dan sebagian besar dari mereka ternyata hidup berkelompok atau berpasangan. "Jika celurut saja tidak selalu soliter, maka nenek moyang kita yang mirip celurut pun mungkin lebih sosial dari dugaan," ujarnya.
Dengan menggunakan model statistik yang memperhitungkan hubungan evolusioner antar spesies, tim peneliti mampu memperkirakan pola sosial nenek moyang mamalia berplasenta. Mereka menemukan bahwa sekitar seperempat populasi mamalia purba hidup berpasangan, dan variasi dalam organisasi sosial—baik soliter, berpasangan, maupun berkelompok—sudah ada sejak awal. Ini menunjukkan bahwa fleksibilitas perilaku sosial bukanlah penemuan baru, melainkan warisan kuno.
Implikasi temuan ini sangat luas. Selama puluhan tahun, para ilmuwan berdebat tentang mengapa mamalia berevolusi untuk hidup berpasangan. Namun, studi ini menunjukkan bahwa pertanyaan tersebut keliru. "Yang menjadi ciri khas evolusi sosial mamalia adalah hidup berkelompok, sementara berpasangan adalah sifat kuno," tegas peneliti. Setelah kepunahan dinosaurus 66 juta tahun lalu, mamalia yang selamat menemukan lingkungan tanpa predator besar, memungkinkan mereka tumbuh lebih besar dan semakin sosial. Hidup berkelompok menjadi strategi utama untuk bertahan dari ancaman.
Bagi Indonesia, temuan ini memiliki resonansi tersendiri. Kepulauan Nusantara adalah rumah bagi berbagai mamalia endemik, seperti orangutan, anoa, dan babirusa, yang menunjukkan beragam pola sosial. Penelitian ini mengingatkan bahwa konservasi tidak bisa hanya berfokus pada spesies individual, tetapi juga pada struktur sosial mereka yang kompleks. Memahami sejarah evolusi sosial mamalia dapat membantu para konservasionis merancang strategi yang lebih efektif untuk melindungi spesies yang terancam punah, terutama di tengah tekanan deforestasi yang masih tinggi.
Ke depan, penelitian ini membuka pintu untuk pertanyaan yang lebih dalam: bagaimana mamalia berevolusi menjadi begitu toleran sehingga beberapa jantan dan betina bisa hidup bersama? Apakah kemampuan ini yang menjadi fondasi bagi masyarakat manusia yang kompleks? Dengan semakin canggihnya analisis genetik dan data perilaku, mungkin kita akan segera mengungkap misteri lain tentang asal-usul sosialitas kita.



