Mastantuono Pilih Fiorentina demi Menit Bermain: Saran Mourinho dan Inspirasi Batistuta
Baca dalam 60 detik
- Gelandang muda Argentina, Franco Mastantuono, memilih Fiorentina sebagai tempat peminjaman dari Real Madrid demi mendapatkan waktu bermain reguler.
- Keputusan ini dipengaruhi oleh proyek pelatih Fabio Grosso, sejarah klub dengan pemain Argentina, serta saran dari Jose Mourinho.
- Mastantuono menargetkan kembali memperkuat Timnas Argentina dan mengikuti jejak sukses Paulo Dybala di Serie A.

Franco Mastantuono, gelandang muda Argentina yang dibeli Real Madrid seharga 45 juta euro dari River Plate pada 2025, akhirnya memilih Fiorentina sebagai destinasi peminjaman. Keputusan ini diambil bukan tanpa pertimbangan matang: ia menilai Serie A sebagai liga yang kompetitif dan cocok untuk perkembangan kariernya, terutama setelah mendapat masukan dari pelatih Real Madrid, Jose Mourinho.
Dalam wawancara dengan La Gazzetta dello Sport, Mastantuono mengungkapkan bahwa ketertarikannya pada Serie A sudah lama tumbuh. "Saya memikirkan Serie A, liga kompetitif yang selalu menarik perhatian saya, pentingnya klub, dan banyaknya pemain Argentina yang menulis sejarah di sini," ujarnya. Fiorentina, yang tengah merayakan seratus tahun berdirinya, langsung memberikan kesan mendalam. Bahkan, ia sempat bertemu legenda klub dan Timnas Argentina, Gabriel Batistuta, dalam perayaan tersebut.
Pilihan jatuh ke Fiorentina meski ada tawaran dari klub lain yang berlaga di kompetisi Eropa. Mastantuono menegaskan bahwa faktor Eropa bukan prioritas utamanya. "Eropa tidak krusial bagi keputusan saya, saya memberi prioritas pada prospek. Fiorentina fokus pada pemain muda dan kualitas, jadi ini tempat terbaik untuk mengekspresikan ide sepak bola saya," katanya. Ia juga menyebut pengalaman pemain seperti David De Gea sebagai nilai tambah, meski mengakui tim masih perlu waktu untuk menemukan keseimbangan karena banyak pemain baru.
Peran Jose Mourinho dalam keputusan ini cukup signifikan. Meski belum memilih Fiorentina saat berbicara, Mastantuono mendapatkan nasihat berharga dari pelatih asal Portugal itu. "Dia pelatih hebat dengan energi luar biasa. Sudah diputuskan bersama dia dan Real Madrid bahwa dipinjamkan untuk bermain konsisten adalah pilihan terbaik," jelasnya. Mourinho, yang paham betul karakter Serie A, mendorong pemain berusia 19 tahun itu untuk mencari jam terbang di liga yang lebih menuntut secara fisik dan taktis.
Mastantuono juga mengomentari perbedaan antara sepak bola Italia dan Spanyol. "Sepak bola Italia lebih fisik dan taktis dibanding LaLiga, tapi dalam beberapa hal lebih dekat dengan Argentina. Semakin sulit, semakin Anda dipaksa untuk berkembang dan mencari cara melepaskan diri dari penjagaan. Itulah satu-satunya cara untuk terus tumbuh," tuturnya. Baginya, tantangan justru menjadi motivasi untuk meningkatkan kualitas permainan.
Soal karier internasional, Mastantuono tak bisa menyembunyikan ambisinya. Ia mengaku sedih dengan pensiunnya Lionel Messi dari Timnas, namun tetap termotivasi oleh pemain seperti Angel Di Maria dan Paulo Dybala. "Saya mengagumi Di Maria dan Dybala, terutama Dybala yang bermain di posisi saya, tapi tidak adil membandingkan dengan pemain yang kariernya luar biasa," ujarnya. Ia bahkan mengaku pernah bermain padel bersama Dybala di Argentina. "Saya tidak sabar menghadapi Lautaro Martinez dan Inter. Jersey Argentina adalah yang terbaik dan saya berharap segera memakainya lagi," tambahnya.
Mastantuono juga jujur menilai kelebihan dan kekurangannya. "Saya agresif menyerang, menekan lawan, dan menunjukkan karakter, tapi saya perlu lebih efisien di depan gawang. Saya tahu potensi saya untuk menjadi pemain hebat," katanya. Ia bertekad menghibur suporter dengan gol dan assist, termasuk untuk rekan setimnya, Mateo Pellegrino, yang dianggapnya hebat dalam duel udara.
Bagi pengamat sepak bola Indonesia, langkah Mastantuono bisa menjadi pelajaran berharga: memilih klub yang tepat demi pengembangan karier jangka panjang lebih penting daripada sekadar bermain di kompetisi Eropa. Fenomena pemain muda Argentina yang merantau ke Italia juga mengingatkan pada banyak pemain Asia yang sukses di Eropa setelah berani keluar dari zona nyaman.
Ke depan, publik akan menantikan apakah Mastantuono mampu membuktikan diri di Fiorentina dan kembali menembus skuad utama Argentina. Dengan dukungan Mourinho dan arahan Grosso, mampukah ia mengikuti jejak Batistuta yang menjadi legenda di Florence? Hanya waktu yang akan menjawab.


