Warna Kotoran Penguin dari Luar Angkasa Ungkap Dampak Perubahan Iklim Antartika
Baca dalam 60 detik
- Ilmuwan menggunakan citra satelit NASA untuk menganalisis warna guano (kotoran) penguin Adélie, yang mencerminkan proporsi krill dalam makanan mereka.
- Penelitian terhadap 4.000 gambar sejak 1980-an menunjukkan bahwa berkurangnya es laut akibat pemanasan global membuat penguin beralih dari ikan ke krill, yang berdampak pada kelangsungan hidup anak penguin.
- Temuan ini menjadi peringatan bagi ekosistem laut global, termasuk perairan Indonesia, yang juga rentan terhadap perubahan iklim dan tekanan perikanan berlebihan.

Warna kotoran penguin yang terekam dari orbit Bumi kini menjadi alat baru bagi para ilmuwan untuk memantau perubahan ekologi dan lingkungan di Antartika. Sebuah studi multidisiplin yang dipimpin oleh peneliti dari Amerika Serikat menggunakan ribuan citra satelit NASA untuk mengungkap bagaimana pola makan penguin Adélie berubah seiring menyusutnya es laut akibat perubahan iklim.
Penguin Adélie, salah satu predator paling dominan di Samudra Selatan, bersarang di bebatuan di sekitar benua Antartika. Koloni mereka yang bisa mencapai ratusan ribu ekor menghasilkan guano dalam jumlah besar, sehingga mudah dikenali dari luar angkasa melalui satelit Landsat. Tim peneliti memanfaatkan sekitar 4.000 gambar yang diambil sejak dekade 1980-an untuk meneliti pola makan burung ini.
Metode yang digunakan terbilang unik: warna guano dikaitkan dengan proporsi krill dalam makanan penguin. Krill, krustasea kecil mirip udang, memiliki eksoskeleton merah muda yang tidak sepenuhnya dicerna, sehingga memberi warna merah muda pada kotoran penguin. Peneliti mengumpulkan sampel guano di beberapa lokasi, mengukur warnanya dengan spektrometer, lalu menganalisis kandungannya menggunakan kimia lingkungan untuk membangun model statistik yang menghubungkan warna dengan komposisi diet.
Hasilnya, seperti dipublikasikan dalam jurnal ilmiah, menunjukkan bahwa ketika es laut melimpah, penguin Adélie cenderung mengonsumsi lebih banyak ikan kecil. Sebaliknya, saat es laut berkurang, mereka lebih bergantung pada krill. Padahal, anak penguin yang diberi makan ikan memiliki bobot lebih berat dan peluang bertahan hidup lebih tinggi dibandingkan yang hanya diberi krill. Dengan kata lain, perubahan iklim yang mengurangi es laut secara tidak langsung mengancam populasi penguin.
Sejak 2010, es laut di Antartika mengalami penurunan drastis, bahkan beberapa kali mencatat rekor minimum terendah. Studi ini menemukan bahwa koloni penguin yang pola makannya lebih banyak ikan cenderung stabil atau meningkat, sementara yang lebih banyak krill mengalami penurunan jumlah. Sayangnya, tren penurunan es laut diperkirakan akan terus berlanjut, ditambah dengan meningkatnya kompetisi dari paus balin yang populasinya pulih, serta pergeseran wilayah penguin Gentoo dari sub-Antartika ke selatan.
Tekanan tambahan datang dari aktivitas manusia. Kapal pukat harian kini menangkap krill dalam jumlah besar untuk pakan ikan dan suplemen kesehatan, yang semakin mempersempit ruang gerak penguin dalam mencari makan. Di Semenanjung Antartika, populasi paus balin yang pulih setelah moratorium perburuan paus juga menjadi pesaing utama dalam memperebutkan krill.
Bagi Indonesia, temuan ini relevan sebagai pengingat bahwa perubahan iklim berdampak sistemik pada rantai makanan laut. Meski terpisah ribuan kilometer, dinamika es laut di kutub memengaruhi arus laut dan produktivitas perikanan global. Indonesia, sebagai negara kepulauan dengan ketergantungan tinggi pada sumber daya laut, perlu memperkuat kebijakan adaptasi iklim dan pengelolaan perikanan berkelanjutan untuk mencegah dampak serupa pada ekosistemnya sendiri.
Ke depan, teknologi satelit yang semakin canggih—dengan resolusi lebih tinggi dan interval pengambilan gambar lebih pendek—membuka peluang untuk memantau satwa liar di daerah terpencil secara real-time. Pertanyaannya, apakah dunia akan memanfaatkan informasi ini untuk mengambil tindakan nyata sebelum ekosistem laut mencapai titik kritis?



