Pemerintah Siapkan 1.988 Puskesmas Baru pada 2027, Sasar Daerah Tanpa Fasilitas Kesehatan
Baca dalam 60 detik
- Kementerian Kesehatan menargetkan pembangunan 1.988 puskesmas baru pada 2027, prioritas untuk kecamatan yang belum memiliki fasilitas kesehatan.
- Program ini mencakup renovasi 8.001 puskesmas rusak sedang dan pembangunan 514 laboratorium kesehatan masyarakat, dengan total anggaran per puskesmas sekitar Rp4 miliar.
- Inisiatif ini diharapkan mendorong pemerataan layanan kesehatan primer dan mengurangi beban rumah sakit rujukan di daerah tertinggal.

Pemerintah berencana membangun 1.988 puskesmas baru secara bertahap mulai 2027, sebuah langkah yang dinilai mampu memperluas akses layanan kesehatan primer hingga ke pelosok negeri. Wakil Menteri Kesehatan Benjamin Paulus Octavianus mengungkapkan, program ini menjadi prioritas nasional untuk menjawab disparitas fasilitas kesehatan antarwilayah yang selama ini masih timpang.
Dalam pernyataannya di Bandarlampung, Jumat, Benjamin menjelaskan bahwa pembangunan tersebut menyasar tiga kategori utama: kecamatan yang sama sekali belum memiliki puskesmas, puskesmas dengan kerusakan berat hingga 65 persen, serta puskesmas yang melayani lebih dari 60 ribu penduduk. Dari total 1.988 unit, sebanyak 179 di antaranya akan mengisi kecamatan yang masih kosong, 813 unit untuk daerah dengan beban penduduk tinggi, dan 996 unit untuk mengganti bangunan rusak berat.
Desain bangunan yang disiapkan pun tidak main-main. Untuk puskesmas satu lantai, luas tanah yang dibutuhkan sekitar 2.660 meter persegi dengan luas bangunan 954 meter persegi. Sementara untuk dua lantai, luas tanahnya 2.420 meter persegi dan luas bangunan 1.041 meter persegi. Standar ini, menurut Benjamin, dirancang agar puskesmas mampu menyediakan ruang perawatan, laboratorium sederhana, serta fasilitas pendukung lainnya secara memadai.
Selain pembangunan baru, pemerintah juga menyiapkan renovasi besar-besaran. Sebanyak 8.001 puskesmas dengan kerusakan sedang akan diperbaiki, ditambah 4.962 unit yang membutuhkan prasarana seperti ambulans dan peralatan penunjang. Secara keseluruhan, program perbaikan puskesmas se-Indonesia menargetkan renovasi 10 ribu unit yang tersebar di 7.285 kecamatan, dengan estimasi biaya Rp4 miliar per puskesmas. Jika ditotal, anggaran yang digelontorkan untuk program ini mencapai puluhan triliun rupiahโsebuah sinyal kuat bahwa kesehatan primer menjadi salah satu fokus utama pembangunan.
Langkah ini tidak bisa dilepaskan dari upaya transformasi sistem kesehatan nasional. Selama ini, banyak puskesmas di daerah terpencil beroperasi dengan bangunan tua dan peralatan minim, sehingga pasien kerap dirujuk ke rumah sakit kabupaten yang jaraknya jauh. Dengan adanya puskesmas baru yang representatif, diharapkan pelayanan promotif-preventif bisa berjalan optimal, dan beban rumah sakit rujukan dapat berkurang.
"Puskesmas ini merupakan program prioritas; pemerintah sangat menitikberatkan pada pelayanan kesehatan, pendidikan, dan kesejahteraan masyarakat yang tidak mampu," ujar Benjamin, menegaskan komitmen pemerintah dalam pemerataan akses kesehatan.
Bagi masyarakat Indonesia, kabar ini membawa angin segar, terutama bagi mereka yang tinggal di kawasan timur dan daerah perbatasan. Namun, tantangan terbesar bukan hanya pada pembangunan fisik, melainkan juga ketersediaan tenaga kesehatan. Pertanyaannya, apakah pemerintah telah menyiapkan strategi rekrutmen dokter, perawat, dan bidan untuk mengisi puskesmas-puskesmas baru tersebut? Tanpa itu, gedung megah hanya akan menjadi monumen kosong.
Program ini ditargetkan rampung pada 2030, sejalan dengan visi Indonesia Emas. Meski begitu, pengawasan terhadap kualitas bangunan dan transparansi anggaran menjadi kunci agar tidak terjadi penyimpangan di lapangan. Akankah realisasi di lapangan sesuai dengan janji? Publik tentu berharap program ini berjalan tepat sasaran dan membawa perubahan nyata bagi kesehatan masyarakat.



