Smriti Mandhana Ukir Sejarah: Pemain Kricket Wanita dengan Run Terbanyak Sepanjang Masa
Baca dalam 60 detik
- Smriti Mandhana mencetak 124 run dari 64 bola, melampaui rekor Mithali Raj dan menjadi pemain dengan run internasional terbanyak di kriket wanita.
- Prestasi ini menegaskan dominasi India di Asia Cup dan menginspirasi generasi baru, termasuk di Indonesia yang tengah mengembangkan kriket.
- Dengan 18 century, Mandhana kini memimpin sebagai pencetak century terbanyak, menggeser nama-nama besar seperti Meg Lanning dan Laura Wolvaardt.

Smriti Mandhana, wakil kapten tim nasional India, resmi mencatatkan namanya dalam buku rekor kriket dunia. Pada laga Women's Asia Cup melawan Hong Kong, Kamis (4/9), ia melesakkan 124 run hanya dari 64 bola, melampaui total karier Mithali Raj yang selama ini menjadi patokan. Dengan tambahan tersebut, total run internasional Mandhana kini mencapai 10.880, angka tertinggi yang pernah diraih seorang pemain wanita di semua format.
Pencapaian ini bukan sekadar angka. Mandhana juga mencatat century internasionalnya yang ke-18, melewati Meg Lanning dari Australia dan Laura Wolvaardt dari Afrika Selatan yang sama-sama mengoleksi 17. Ia kini menjadi pemegang rekor century terbanyak dalam kriket wanita internasional. Rentetan pukulannya yang agresif—14 four dan 7 six—membawa India ke total 193/5 setelah sebelumnya kesulitan menghadapi disiplin bowling Hong Kong di awal inning.
"Saya tidak menyadari semua ini terjadi," ujar Mandhana usai pertandingan, seperti dikutip media internasional. "Saya hanya menikmati batting dan senang bisa berkontribusi. Ada hari ketika bola meleset dari stumps, ada hari ketika saya terkena edge. Ini sangat tidak terduga." Pernyataan itu mencerminkan filosofi pemain berusia 30 tahun yang memulai debut internasionalnya pada 2013 dan kini menjadi ikon olahraga di India.
Bagi Indonesia, torehan Mandhana memiliki resonansi tersendiri. Meski kriket belum sepopuler sepak bola atau bulu tangkis di Tanah Air, prestasi pemain Asia Selatan ini menjadi bukti bahwa kerja keras dan konsistensi mampu menembus batas. Federasi Kriket Indonesia (Forki) sendiri tengah giat mengembangkan olahraga ini, terutama di kalangan wanita. Capaian Mandhana bisa menjadi inspirasi bagi atlet muda Indonesia yang mulai menekuni kriket, sekaligus mendorong perhatian publik dan sponsor terhadap olahraga yang kerap terpinggirkan ini.
Perjalanan Mandhana tidak selalu mulus. Dalam laga melawan Hong Kong, ia mengakui bahwa tekanan dari bowler lawan sempat menyulitkan. "Mereka disiplin di powerplay, bowling mereka bagus, dan energi yang mereka tunjukkan adalah sesuatu yang bisa kami pelajari," katanya. Sikap rendah hati ini justru menegaskan kematangan mentalnya, kualitas yang membedakan pemain hebat dari sekadar pemain berbakat.
Dengan statusnya sebagai pemegang rekor dunia, Mandhana kini memasuki fase baru kariernya. Pertanyaannya, akankah ia mampu mempertahankan konsistensi di tengah semakin ketatnya persaingan global? Atau justru rekor ini akan memicu generasi baru pemain wanita—termasuk dari Indonesia—untuk berani bermimpi lebih tinggi? Satu hal yang pasti: nama Smriti Mandhana telah mengukir sejarah yang akan dikenang lama dalam dunia kriket.



