Harga Minyak Dunia Menguat: Konflik Timur Tengah dan Selat Hormuz Kembali Panaskan Pasar
Baca dalam 60 detik
- Konflik AS-Iran dan ancaman Israel memicu kenaikan harga minyak mentah untuk hari keempat berturut-turut.
- Ketegangan di Selat Hormuz mengganggu arus pengiriman, dengan jumlah kapal yang melintas turun signifikan.
- Kenaikan harga berpotensi menekan inflasi global dan mempengaruhi kebijakan moneter, termasuk di Indonesia.

Harga minyak mentah dunia kembali mencatatkan penguatan pada perdagangan Kamis, didorong oleh eskalasi konflik di Timur Tengah yang memicu kekhawatiran gangguan pasokan dari kawasan penghasil utama. Serangan terbaru Amerika Serikat ke Iran serta pernyataan keras pejabat Israel soal potensi serangan balasan telah mengirim sinyal risiko yang langsung merespons ke pasar energi global.
Data pasar menunjukkan Brent crude naik 0,62 persen ke level 96,22 dolar AS per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) menguat 0,86 persen ke 91,79 dolar AS. Kedua kontrak tersebut telah menguat selama empat hari beruntun dan sempat menyentuh level tertinggi dalam enam pekan terakhir. Kondisi ini mencerminkan betapa sensitifnya pasar terhadap setiap perkembangan geopolitik di kawasan Teluk.
Kementerian Kesehatan Iran melaporkan sedikitnya 18 orang tewas dan 108 lainnya luka-luka akibat serangan AS pada Selasa malam. Di sisi lain, Bulan Sabit Merah Iran menyebut empat orang tewas dan 67 luka dalam sebuah acara pernikahan di dekat pesisir Selat Hormuz. Tiga pilot Angkatan Darat Iran juga dilaporkan tewas dalam serangan tersebut, seperti diberitakan kantor berita semi-resmi Tasnim.
Serangan ini merupakan baku tembak paling signifikan antara AS dan Iran sejak Juli lalu. Konflik yang dimulai dengan serangan gabungan AS-Israel pada akhir Februari itu kini memasuki bulan ketujuh. Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, kembali mengeluarkan peringatan bahwa Israel akan "melumpuhkan" infrastruktur militer dan sipil Iran, termasuk fasilitas energi, jika Teheran melancarkan serangan terhadap negaranya. Pernyataan ini, menurut analis Saxo Bank Ole Hansen, menjadi salah satu pemicu utama kenaikan harga minyak.
Gangguan di Selat Hormuz, jalur vital pengiriman minyak dunia, mulai terlihat nyata. Data pelayaran awal menunjukkan hanya enam kapal komoditas yang melintas pada Rabu, jauh di bawah rata-rata 10 hari sekitar 13 kapal. Iran juga memperluas daftar kapal yang dianggap tidak patuh dan dapat dikenakan denda, penyitaan, atau penahanan jika mencoba melintasi selat tersebut. Sementara itu, kapal-kapal Irak justru mendapat izin khusus untuk tetap melintas, yang mendorong peningkatan ekspor minyak Irak secara signifikan.
Analis energi UBS, Giovanni Staunovo, menggarisbawahi bahwa pasar minyak masih ketat dengan inventaris global yang terus menurun, sehingga harga cenderung naik. "Dukungan tambahan juga datang dari ketegangan yang sedang berlangsung di Timur Tengah," ujarnya. Kondisi ini diperparah dengan meningkatnya ekspor Irak yang mencapai 2,34 juta barel per hari pada Agustus, naik dari 1,35 juta barel per hari pada Juli, didorong diskon besar dan persetujuan Iran untuk kapal tanker Irak.
Bagi Indonesia, kenaikan harga minyak ini membawa implikasi ganda. Di satu sisi, negara net importir seperti Indonesia akan menghadapi beban impor energi yang lebih berat, yang dapat menekan nilai tukar rupiah dan mendorong inflasi. Di sisi lain, harga minyak yang tinggi juga berpotensi memperlebar defisit transaksi berjalan dan mempengaruhi subsidi energi dalam APBN. Pemerintah perlu mencermati perkembangan ini, terutama dalam merumuskan kebijakan harga BBM dan target penerimaan negara.
Eskalasi konflik juga memicu spekulasi bahwa Federal Reserve akan menaikkan suku bunga acuan lebih agresif untuk menahan inflasi yang dipicu oleh mahalnya energi. Jika itu terjadi, tekanan pada pasar keuangan global, termasuk Indonesia, akan semakin terasa. Investor dan pelaku pasar di Tanah Air perlu mengantisipasi volatilitas yang mungkin timbul di pasar obligasi dan nilai tukar.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah konflik ini akan terus berlanjut atau mereda. Jika Israel benar-benar menyerang infrastruktur energi Iran, gangguan pasokan bisa jauh lebih parah dan harga minyak berpotensi menembus level psikologis 100 dolar AS. Sebaliknya, jika ada tanda-tanda de-eskalasi, harga bisa kembali turun. Pasar akan terus memantau setiap perkembangan, sementara Indonesia harus siap menghadapi berbagai skenario.



