Como Pastikan Stadion Sinigaglia Layak Gelar Laga Perdana Liga Champions
Baca dalam 60 detik
- Klub promosi Serie A itu mengumumkan renovasi Stadio Sinigaglia telah memenuhi standar UEFA untuk laga kandang di Liga Champions 2026/27.
- Kepastian ini mengakhiri spekulasi bahwa Como harus pindah ke Mapei Stadium milik Sassuolo yang berjarak 200 km.
- Dengan venue tetap di tepi Danau Como, laga bersejarah itu akan menjadi magnet pariwisata dan ekonomi bagi kawasan tersebut.

Como 1907 akhirnya mengonfirmasi bahwa Stadio Giuseppe Sinigaglia akan menjadi markas mereka untuk partai kandang di Liga Champions musim 2026/27. Kepastian itu diumumkan langsung oleh klub melalui pernyataan resmi pada Kamis (waktu setempat), setelah serangkaian renovasi besar-besaran berhasil membawa stadion berusia hampir satu abad itu memenuhi standar UEFA.
Kabar ini sekaligus mengakhiri ketidakpastian yang menyelimuti skuat asuhan Cesc Fabregas sejak mereka memastikan tiket ke kompetisi antarklub tertinggi Eropa untuk pertama kalinya dalam sejarah klub pada akhir musim lalu. Sebelumnya, banyak pihak memperkirakan Como harus meminjam kandang Sassuolo, Mapei Stadium, yang berjarak sekitar 200 kilometer dari kota mereka. Namun, kerja keras renovasi yang dilakukan manajemen membuat skenario itu tidak perlu terjadi.
Stadion yang berdiri sejak 1927 ini memang memiliki nilai historis yang mendalam bagi Como. Selama hampir satu abad, Sinigaglia menjadi saksi bisu perjalanan klub dari kasta kedua Italia hingga menembus pentas terelite Eropa hanya dalam tiga musim. Namun, usia stadion yang tua sempat menjadi kekhawatiran utama, terutama terkait kapasitas, infrastruktur, dan fasilitas keselamatan yang disyaratkan UEFA.
Bagi Como, bermain di kandang sendiri bukan sekadar soal kenyamanan. Atmosfer Sinigaglia yang khas, dengan latar danau dan pegunungan, diyakini menjadi faktor pembeda yang bisa memberi tekanan psikologis bagi lawan. Apalagi, partai kandang pertama di Liga Champions selalu menjadi momen bersejarah yang dinanti suporter setia. Kehadiran tribun baru juga akan menambah kapasitas stadion, meski angka pastinya belum diumumkan secara resmi.
Di sisi lain, keputusan ini membawa dampak ekonomi yang signifikan bagi kota Como. Setiap laga kandang Liga Champions diprediksi akan menarik ribuan suporter tim tamu dari berbagai negara Eropa. Belum lagi liputan media global yang akan menyorot keindahan Danau Como, yang selama ini dikenal sebagai destinasi wisata kelas dunia. Kombinasi sepak bola dan pariwisata ini berpotensi meningkatkan okupansi hotel, restoran, dan sektor usaha kecil lainnya di sekitar stadion.
"Kami sangat senang bisa memainkan laga kandang pertama kami di kompetisi ini di hadapan suporter sendiri, di tepi Danau Como. Ini adalah buah dari kerja keras semua pihak," demikian bunyi pernyataan resmi klub yang juga menyampaikan terima kasih kepada para penggemar atas kesabaran mereka selama proses renovasi.
Bagi sepak bola Indonesia, kabar ini bisa menjadi pelajaran berharga. Klub-klub seperti Persija Jakarta atau Persib Bandung yang bermarkas di stadion bersejarah sering kali menghadapi dilema serupa ketika harus memenuhi standar AFC untuk kompetisi antarklub Asia. Alih-alih pindah kandang, renovasi bertahap dengan perencanaan matangโseperti yang dilakukan Comoโbisa menjadi solusi untuk mempertahankan identitas dan kedekatan dengan suporter. Namun, tentu saja hal ini membutuhkan komitmen finansial dan manajemen yang kuat dari pemilik klub.
Ke depan, pertanyaan yang muncul adalah sejauh mana Como mampu bersaing di Liga Champions dengan skuad yang relatif baru di level tersebut. Apakah mereka akan menjadi tim kejutan seperti Leicester City di Liga Inggris, atau justru kesulitan beradaptasi? Yang jelas, dengan kandang yang telah memenuhi standar, Fabregas dan anak asuhnya kini memiliki modal penting untuk menatap undian babak penyisihan grup yang akan digelar akhir tahun ini.



