Perebutan Tuan Rumah Duel Fury vs Joshua: London Menggoda, New York Mengancam
Baca dalam 60 detik
- Wali Kota London secara terbuka mengundang promotor untuk membawa duel Fury-Joshua ke Wembley, menyusul kontak dari penyelenggara asal Saudi.
- Netflix dan Sela dikabarkan lebih condong ke Madison Square Garden demi pasar Amerika, memicu tarik-ulur negosiasi venue.
- Nasib pertarungan kelas berat ini akan menentukan apakah Inggris kembali menjadi panggung tinju dunia atau harus merelakannya ke AS.

Langkah politik dan komersial mulai memanas di balik layar duel kelas berat yang telah lama dinanti antara Tyson Fury dan Anthony Joshua. Wali Kota London, Sadiq Khan, secara eksplisit menyatakan kesiapannya menjadi tuan rumah pertarungan tersebut di Stadion Wembley, bahkan mendesak para promotor untuk segera membuka komunikasi. Pernyataan ini muncul setelah kabar bahwa penyelenggara asal Arab Saudi, Sela, telah menghubungi kantor wali kota dalam beberapa pekan terakhir untuk menjajaki kemungkinan menggelar laga di stadion nasional Inggris itu.
Namun, di balik antusiasme Khan, terdapat dinamika yang lebih rumit. Sumber internal menyebutkan bahwa Sela dan platform streaming Netflix justru lebih cenderung memilih Madison Square Garden di New York untuk pertarungan yang dijadwalkan pada November mendatang. Akibatnya, pembicaraan mengenai venue di London belum menunjukkan kemajuan berarti; belum ada diskusi detail mengenai tanggal maupun jam pertandingan. Kondisi ini menciptakan ketegangan antara ambisi lokal dan kepentingan komersial global yang mengincar pasar Amerika Utara.
Khan, dalam pernyataannya kepada BBC Sport, menegaskan bahwa dirinya sangat serius ingin menghadirkan laga ini di ibu kota Inggris. "Pesan saya kepada para promotor: kami ingin menjadi tuan rumah di London. Hubungi kami, kami sangat antusias," ujarnya. Baginya, Joshua dan Fury adalah dua petinju Inggris yang telah mengharumkan nama bangsa dan layak tampil di hadapan penggemar sendiri. Wembley sendiri bukanlah venue asing bagi keduanya; berbagai momen bersejarah telah terukir di stadion berkapasitas 90.000 tersebut.
Salah satu kendala teknis yang menjadi sorotan adalah kebijakan jam malam Wembley yang biasanya berakhir pukul 23.00 waktu setempat. Khan sebelumnya telah mengindikasikan dukungannya untuk memperpanjang jam tersebut, dengan pertimbangan bahwa laga yang dimulai larut malam dapat menarik lebih banyak penonton televisi di Amerika Serikat. Namun, Dewan Brent, otoritas lokal yang berwenang memberikan persetujuan, menegaskan bahwa perpanjangan jam malam harus melalui kajian ketat dari kelompok penasihat keselamatan Wembley. Hingga kini, belum ada kepastian seberapa jauh jam malam bisa dimundurkan.
Di sisi lain, promotor Joshua, Eddie Hearn, menyatakan bahwa kontrak yang telah ditandatangani kliennya secara spesifik mencantumkan venue di Inggris. Jika pertarungan dipindahkan ke Amerika, kontrak tersebut harus dinegosiasikan ulang. Hearn mengaku telah menyodorkan sejumlah persyaratan agar Matchroom Boxing setuju dengan perubahan tersebut, namun negosiasi masih berlanjut. Sementara itu, Sela dan Netflix dikabarkan lebih mengutamakan pasar Amerika untuk menjangkau audiens yang lebih luas, sebuah pertimbangan bisnis yang sulit diabaikan.
Bagi penggemar tinju di Indonesia, pertarungan ini bukan sekadar tontonan; ia adalah simbol bagaimana olahraga kelas dunia mampu menyatukan pasar global. Jika laga digelar di London, jam tayang akan lebih bersahabat bagi penggemar Asia, termasuk Indonesia, yang bisa menyaksikan secara langsung di waktu prime time. Sebaliknya, jika jatuh ke New York, laga berpotensi tayang dini hari, menguji kesetiaan penggemar setia. Lebih dari itu, keputusan venue akan mencerminkan arah strategis industri tinju: apakah tetap berpijak pada tradisi Eropa atau melayani logika bisnis Amerika.
"Saya berharap para promotor memahami bahwa mereka tidak hanya akan mendapatkan 100.000 orang yang menyaksikan pertarungan ini secara langsung, tetapi juga jutaan pasang mata di seluruh dunia yang akan mendukung kedua petinju," ujar Sadiq Khan.
Hingga saat ini, belum ada kepastian kapan venue final akan diumumkan. Hearn optimistis pengumuman dapat dilakukan dalam pekan ini, namun kerumitan negosiasi ulang kontrak dan perbedaan kepentingan antar pihak masih menjadi ganjalan. Sela sendiri belum memberikan komentar resmi. Satu hal yang pasti: semakin lama keputusan ditunda, semakin besar spekulasi yang berkembang, dan semakin tinggi pula ekspektasi publik yang harus dipenuhi. Pertanyaannya, akankah London berhasil merebut hati para promotor, atau justru New York yang akan menjadi saksi sejarah baru tinju kelas berat?



