Video Dedi Mulyadi Menangis Bukan Permintaan Maaf ke Prabowo, Ini Fakta Sebenarnya
Baca dalam 60 detik
- Sebuah video yang diklaim memperlihatkan Dedi Mulyadi meminta maaf kepada Presiden Prabowo karena mendahului kunjungan ke NTT ternyata adalah rekaman lama terkait kasus Vina Cirebon.
- Video asli diunggah pada Juni 2024 di kanal YouTube Dedi Mulyadi, menampilkan momen haru saat seorang saksi mengakui kebohongannya dalam pemeriksaan kasus pembunuhan Vina.
- Klaim yang beredar di media sosial itu telah dibantah langsung oleh Dedi Mulyadi melalui akun Instagram resminya, menegaskan bahwa unggahan tersebut tidak terkait dengan kunjungannya ke NTT.

Beredar di media sosial sebuah video yang dinarasikan sebagai momen Dedi Mulyadi meminta maaf kepada Presiden Prabowo Subianto karena telah mendahului kunjungan kepala negara ke Nusa Tenggara Timur. Faktanya, rekaman itu adalah cuplikan lama dari tahun 2024 yang berkaitan dengan kasus pembunuhan Vina Cirebon, bukan ekspresi penyesalan atas agenda kemanusiaan di NTT.
Video yang beredar di Facebook itu memperlihatkan Dedi Mulyadi, yang akrab disapa KDM, tengah menyampaikan pernyataan dengan mata berkaca-kaca. Dalam narasi yang menyertainya, ia disebut menangis dan meminta maaf kepada Presiden Prabowo, Kapolri, Kapolda, hingga Direskrimum karena telah berangkat ke NTT lebih dulu. Padahal, menurut penelusuran redaksi, klaim tersebut tidak memiliki dasar faktual.
Penelusuran menunjukkan bahwa video tersebut identik dengan unggahan di kanal YouTube resmi KANG DEDI MULYADI CHANNEL pada 10 Juni 2024, dengan judul โTANGIS TEGUH TAK TERBENDUNG | MENYESAL PERNAH BERBOHONG SAAT DIPER1KSAโ. Dalam tayangan itu, Dedi Mulyadi berbincang dengan seorang saksi bernama Teguh yang menangis tersedu-sedu karena mengaku pernah memberikan kesaksian palsu saat diperiksa polisi dalam kasus pembunuhan Vina Dewi Arsita yang terjadi pada 27 Agustus 2016. Dedi Mulyadi pun ikut terharu dan meneteskan air mata, bukan karena persoalan kunjungan ke NTT.
Momen haru itu kemudian dipotong dan diedit ulang dengan narasi yang menyesatkan untuk mengaitkannya dengan kunjungan Dedi Mulyadi ke NTT pada 22 Agustus 2026. Saat itu, ia memang terbang ke NTT untuk menyerahkan bantuan senilai Rp4 miliar dari berbagai elemen masyarakat Jawa Barat bagi korban gempa bumi. Namun, tidak ada hubungan antara video tangis tersebut dengan agenda kemanusiaan itu.
Dedi Mulyadi sendiri telah angkat bicara melalui akun Instagram resminya. Ia menegaskan bahwa video yang beredar tidak ada kaitannya dengan kunjungannya ke NTT. Pernyataan ini sekaligus mematahkan narasi yang menyebut dirinya meminta maaf kepada Presiden Prabowo karena mendahului kunjungan presiden ke daerah tersebut.
Fenomena penyebaran hoaks seperti ini bukanlah hal baru di ruang digital Indonesia. Potongan video lama yang diberi konteks baru kerap digunakan untuk menyerang tokoh publik, terutama menjelang momen-momen sensitif seperti kunjungan presiden atau agenda politik. Kasus ini menjadi pengingat bahwa verifikasi fakta sebelum membagikan informasi adalah langkah krusial yang kerap diabaikan.
Bagi publik Indonesia, kejadian ini menyoroti betapa cepatnya informasi salah dapat menyebar dan memengaruhi persepsi terhadap figur publik. Di tengah maraknya konten manipulatif, kemampuan untuk menelusuri sumber asli dan membandingkan dengan fakta menjadi keterampilan yang tidak bisa ditawar. Pertanyaannya, akankah platform media sosial dan regulator semakin serius menangani konten semacam ini sebelum dampaknya meluas?



