Keputusan Tottenham Bawa Mudryk, Mikey Moore Terpinggirkan: Sinyal Salah Arah di Lini Serang?
Baca dalam 60 detik
- Tottenham Hotspur memilih merekrut Mykhailo Mudryk yang sudah lama tidak bermain, sementara binaan akademi Mikey Moore justru dipinjamkan ke FC Köln.
- Keputusan ini memicu pertanyaan tentang strategi jangka panjang klub, terutama dengan catatan pinjaman pemain seperti Timo Werner yang kurang meyakinkan.
- Jika Mudryk gagal bersinar, tekanan pada manajemen Tottenham akan meningkat, dan publik bisa menuntut kembalinya Moore lebih cepat.

Langkah Tottenham Hotspur di bursa transfer musim panas ini kembali menjadi sorotan. Keputusan untuk memboyong Mykhailo Mudryk dari Chelsea, yang sudah nyaris dua tahun tidak merumput, berpotensi menggeser posisi pemain muda berbakat, Mikey Moore, yang justru dipinjamkan ke FC Köln. Langkah ini menimbulkan tanda tanya besar: apakah Tottenham benar-benar memiliki rencana matang di lini serang, atau sekadar memenuhi hasrat belanja tanpa arah yang jelas?
Di bawah arahan Roberto De Zerbi, Spurs memang gencar merekrut pemain baru. Namun, komposisi lini depan yang dibayangkan—Savio, Omar Marmoush, dan Mudryk—masih jauh dari kata meyakinkan. Savio baru mencetak dua gol dalam 53 penampilan di Premier League, Marmoush hanya tiga gol di musim 2025/26, sementara Mudryk tercatat tidak bermain dalam laga kompetitif sejak November 2024. Dengan catatan tersebut, publik mulai mempertanyakan kualitas tim yang tengah dibangun.
Keputusan mendatangkan Mudryk terbilang berisiko. Pemain asal Ukraina itu sempat diprediksi De Zerbi bisa meraih Ballon d'Or saat masih di Shakhtar Donetsk pada 2022. Namun, empat tahun berselang, performanya di Chelsea jauh dari harapan—hanya sembilan gol dan assist dalam 53 laga Premier League. Meski lingkungan Chelsea saat itu tidak stabil, risiko yang diambil Tottenham tetap terlihat janggal, terutama jika dikaitkan dengan harga yang mungkin mencapai £75 juta untuk pembelian permanen.
Yang lebih menggelitik, Tottenham sebenarnya memiliki aset muda potensial di sisi kiri: Mikey Moore. Pemain berusia 19 tahun yang sempat dijuluki "English Neymar" oleh pencari bakat Jacek Kulig ini menunjukkan performa impresif saat dipinjamkan ke Rangers musim lalu. Ia mencetak gol di dua laga Old Firm melawan Celtic, dan tampil memukau di laga kandang yang berakhir 2-2 pada Maret lalu. Totalnya, tujuh gol dan tiga assist di Scottish Premiership—sebuah kontribusi yang tidak bisa dianggap remeh untuk usianya.
Kembali ke Tottenham, Moore tampil reguler di pramusim, termasuk dua gol ke gawang Hoffenheim. Ia juga mencetak gol spektakuler dengan kaki kiri—yang dianggap lemah—melawan Charlton Athletic di Carabao Cup. Namun, alih-alih diberi kesempatan, ia justru dipinjamkan ke FC Köln. Sementara itu, Mudryk yang belum terbukti apa-apa di Inggris justru mendapat tempat. Situasi ini terasa tidak adil bagi pemain binaan sendiri yang sudah menunjukkan progres nyata.
Konteks Indonesia: Keputusan Tottenham ini menarik untuk dicermati para penggemar sepak bola di Indonesia, yang kerap menjadikan Premier League sebagai liga utama. Kasus Moore vs Mudryk bisa menjadi pelajaran tentang pentingnya memberi ruang pada pemain muda lokal. Di Indonesia, fenomena serupa sering terjadi ketika klub lebih memilih pemain asing ketimbang mengorbitkan talenta muda. Padahal, investasi jangka panjang pada pemain akademi sering kali lebih menguntungkan, baik secara finansial maupun sportivitas.
Sejumlah analis menilai bahwa kebijakan transfer Tottenham musim ini seperti "membeli demi membeli". Contohnya, pembelian Jan Paul van Hecke seharga £52 juta di posisi bek tengah, sementara Luka Vuskovic yang masih belia dianggap layak diberi kesempatan. Pola ini menunjukkan kecenderungan manajemen yang lebih percaya pada pemain mahal daripada mengembangkan potensi internal. Padahal, sejarah membuktikan bahwa pemain akademi seperti Harry Kane bisa menjadi legenda klub.
Jika Mudryk gagal menunjukkan performa apik, bukan tidak mungkin para pendukung Tottenham akan merindukan kehadiran Moore. Pemain muda itu memiliki kecepatan, keberanian, dan naluri gol yang sudah teruji di laga-laga besar. Sebaliknya, Mudryk yang lama absen akan membutuhkan waktu untuk kembali ke ritme permainan. Apakah Tottenham bersedia bersabar? Atau justru akan menyesali keputusan ini di akhir musim?
Keputusan Tottenham untuk meminjamkan Moore ke FC Köln bisa menjadi bumerang. Jika Moore bersinar di Bundesliga, kritik terhadap manajemen akan semakin tajam. Sebaliknya, jika Mudryk gagal, pertanyaan besar akan muncul: mengapa klub tidak memberi kesempatan pada pemain sendiri yang sudah terbukti? Musim ini akan menjadi ujian bagi De Zerbi dan para pengambil keputusan di Tottenham untuk membuktikan bahwa strategi mereka benar, atau justru menjadi awal dari kegagalan yang lebih besar.



