Gibbs-White Makin Tak Terbendung: Mampukah Tuchel Melihatnya Sekarang?
Baca dalam 60 detik
- Morgan Gibbs-White tampil impresif bersama Nottingham Forest, dengan 13 gol di Premier League sepanjang 2026, terbanyak di antara semua pemain.
- Penampilannya yang konsisten memunculkan pertanyaan besar: apakah Thomas Tuchel akan memanggilnya untuk memperkuat Timnas Inggris di laga Nations League mendatang?
- Dengan kepergian Elliot Anderson, peran Gibbs-White sebagai motor serangan The Forest semakin krusial, dan performanya akan menentukan nasib tim di musim ini.

Morgan Gibbs-White sepertinya sedang berada dalam misi pribadi. Setelah dicoret dari skuad Inggris untuk Piala Dunia oleh Thomas Tuchel pada Mei lalu, gelandang serang Nottingham Forest itu merespons dengan cara yang paling fasih: gol dan assist. Pekan ini, ia kembali menjadi sorotan setelah mencetak gol penalti dalam hasil imbang 2-2 melawan Liverpool di Anfield, sekaligus memberi assist untuk gol pembuka Dan Ndoye. Pertanyaannya kini, akankah konsistensi musim ini membuat Tuchel tak punya alasan lagi untuk mengabaikannya?
Kiprah Gibbs-White musim lalu sebenarnya sudah menjadi sinyal. Ia mengakhiri musim dengan 18 gol di semua kompetisi, termasuk gol krusial ke gawang Tottenham pada Maret lalu yang membantu Forest mengamankan status di Premier League. Namun, semua itu belum cukup untuk meyakinkan Tuchel. Kini, dengan tiga laga Nations League melawan Spanyol, Kroasia, dan Republik Ceko di depan mata, tekanan terhadap pelatih asal Jerman itu semakin besar untuk memberikan kesempatan kepada pemain berusia 26 tahun tersebut.
Kepergian Elliot Anderson ke Manchester City dengan nilai transfer fantastis ยฃ116 juta pada bursa musim panas lalu jelas mengubah dinamika Forest. Anderson selama ini menjadi pengatur tempo permainan, dan kepergiannya membuat beban kreativitas tim semakin bertumpu pada pundak Gibbs-White. Pelatih anyar Oliver Glasner, yang menggantikan Nuno Espรญrito Santo, telah menegaskan bahwa Gibbs-White tidak akan dijual. "Tidak pernah ada sedikit pun tanda tanya. Itu adalah komitmen penuh dan keselarasan bahwa Morgan tetap di sini, juga dari pihaknya," ujar Glasner, seperti dikutip BBC.
Glasner, yang sebelumnya menukangi Crystal Palace, tampak sangat mengagumi Gibbs-White. Ia bahkan menyebut pemainnya itu seperti "Adonis" karena postur tubuhnya yang atletis. "Saya selalu melihatnya sebagai pemain top, pemain yang bisa membuat perbedaan, pemain yang bisa menciptakan peluang dan mencetak gol sendiri. Itu sudah dia tunjukkan sejak hari pertama. Dia sangat profesional, sangat pekerja keras. Dia terlihat seperti Adonis - penuh otot," puji Glasner. Pelatih asal Austria itu juga menekankan bahwa Gibbs-White memiliki kebebasan penuh di lini serang, dan ia tidak terkejut dengan performa impresif anak asuhnya itu.
Statistik membuktikan betapa tajamnya Gibbs-White sepanjang tahun kalender 2026. Ia terlibat langsung dalam 20 gol klub di semua kompetisi (15 gol, 5 assist), menyamai catatan Erling Haaland sebagai yang tertinggi di antara pemain Premier League. Namun, yang lebih mencengangkan, Gibbs-White justru mengungguli Haaland dalam hal jumlah gol. Dengan 13 gol di Premier League sepanjang 2026, ia menjadi pencetak gol terbanyak, mengalahkan striker Manchester City yang baru mencetak 10 gol. Rata-rata, ia mencetak gol setiap 129 menit, termasuk hat-trick senior pertamanya melawan Burnley pada April lalu.
Penampilan Gibbs-White di Anfield akhir pekan lalu juga menunjukkan kontribusinya yang tak hanya soal gol. Ia menempuh jarak 11,4 kilometer, tertinggi ketiga di timnya, dan melakukan 16 sprint, terbanyak bersama rekan setimnya. Expected goals (xG) miliknya mencapai 0,79, juga tertinggi di tim. Ini membuktikan bahwa ia adalah pemain yang bekerja keras untuk tim, tidak hanya ketika menguasai bola. "Dia tidak hanya didefinisikan oleh jumlah gol atau assist yang dia cetak," tegas Glasner. "Saya tahu bagaimana dia bekerja untuk tim tanpa bola, bagaimana dia menciptakan ruang dengan beberapa lari dan pergerakan. Itu sama pentingnya dengan mencetak gol. Ketika Anda membutuhkan momen spesial dalam pertandingan, Anda biasanya membutuhkan pemain spesial, dan Morgan jelas pemain spesial."
Bagi pengamat sepak bola Indonesia, performa Gibbs-White ini menarik untuk disimak, terutama karena gaya bermainnya yang dinamis dan agresif bisa menjadi inspirasi bagi gelandang serang lokal. Liga Inggris memang selalu menjadi barometer utama bagi para pemain Asia Tenggara, dan melihat bagaimana seorang pemain seperti Gibbs-White bisa berkembang dari sekadar pemain muda berbakat menjadi tulang punggung tim adalah pelajaran berharga. Terlebih, dengan semakin banyaknya pemain Asia yang merumput di Eropa, konsistensi seperti yang ditunjukkan Gibbs-White menjadi kunci untuk bisa bersaing di level tertinggi.
Glasner sendiri telah mengingatkan Gibbs-White untuk tidak terlalu memikirkan panggilan timnas. "Pada akhirnya, tidak ada gunanya memikirkannya terlalu banyak. Semakin baik dia tampil, semakin baik pula kariernya, baik untuk klub maupun untuk Inggris," ujarnya. "Jika Anda tampil baik dan melakukan hal yang benar, Anda akan dipanggil. Setiap pelatih di dunia akan memanggil pemain terbaik, dan jika Anda termasuk di antara mereka, Anda akan dipanggil."
Dengan Tottenham yang akan datang ke City Ground pada akhir pekan ini, Gibbs-White punya kesempatan emas untuk kembali menunjukkan kelasnya. Tottenham adalah klub yang hampir berhasil memboyongnya tahun lalu, sebelum Forest menolak dan akhirnya memperpanjang kontraknya. Kini, dengan performa yang sedang menanjak, Gibbs-White bisa menjadi mimpi buruk bagi mantan pengejarnya itu. Pertanyaannya, mampukah ia menjaga konsistensi ini sepanjang musim dan akhirnya menembus skuad utama Inggris? Atau, mungkinkah Tuchel masih punya alasan lain untuk mengabaikannya?



