Antonelli Bebas Tekanan di GP Italia: Hukuman Grid Justru Jadi Peluang Eksperimen
Baca dalam 60 detik
- Pembalap Mercedes, Kimi Antonelli, mengaku hukuman mundur grid di GP Italia justru membuatnya lebih rileks dan menikmati balapan kandang.
- Dengan keunggulan 59 poin di klasemen, target realistis Antonelli di Monza adalah finis di posisi 5-6, menurut prediksi internal tim.
- Start dari belakang memberi kesempatan bagi Antonelli untuk menguji strategi dan metode kerja baru, yang bisa menjadi modal berharga di sisa musim.

Pembalap muda Mercedes, Kimi Antonelli, mengaku beban psikologisnya justru berkurang menjelang Grand Prix Italia di Sirkuit Monza, akhir pekan ini. Meski harus memulai balapan dari posisi belakang akibat penalti pergantian komponen mesin, ia menilai situasi ini memberinya ruang untuk bernapas dan menikmati balapan di hadapan publik sendiri.
Antonelli, yang baru berusia 20 tahun, akan menjadi pembalap Italia pertama dalam 73 tahun terakhir yang memimpin klasemen saat tiba di Monza. Namun, alih-alih merasa tertekan, ia justru melihat penalti sebagai kesempatan untuk mencoba pendekatan berbeda. "Dalam beberapa hal, ini membantu melepas tekanan, meski saya lebih suka memperebutkan pole," ujarnya dalam konferensi pers, Kamis (3/9). "Tapi ini membuat saya lebih santai dan bisa lebih menikmati balapan."
Musim ini, Antonelli telah mengoleksi enam kemenangan dan unggul 59 poin atas rekan setimnya George Russell serta Lewis Hamilton yang kini membela Ferrari. Dengan keunggulan sebesar itu, balapan di Monza lebih bersifat membatasi kerugian daripada mengejar kemenangan. Pertanyaan besarnya kini bukan apakah ia bisa menang, melainkan berapa banyak mobil yang bisa ia lewati dan berapa poin yang bisa ia kumpulkan.
Lewis Hamilton, yang pernah menjadi mentor Antonelli di Mercedes, memperkirakan pembalap muda itu bisa menembus barisan tengah dengan mudah dan finis di posisi keenam. Sementara itu, sumber internal Mercedes menyebut target lima besar masih masuk akal. Antonelli sendiri mengakui trek Monza bisa cocok dengan mobilnya, tetapi ia tetap waspada terhadap kekuatan McLaren yang tampil impresif dalam dua balapan terakhir, serta potensi Ferrari dengan mesin barunya.
Yang menarik, Antonelli mengaku tahun lalu ia datang ke Monza dengan kondisi mental yang jauh berbeda. Sebagai rookie, ia merasa harus membuktikan diri dan tampil tegang. "Saya datang dari periode sulit dan merasa harus membuktikan bahwa saya layak di F1. Itu membuat saya mengemudi dengan sangat kaku," kenangnya. Kini, setelah membuktikan kemampuan menang dan tampil konsisten, ia merasa tidak perlu lagi membuktikan apa pun. "Saya sudah membuktikan bisa menang, sudah membuktikan bisa tampil," tegasnya.
Bagi penggemar F1 di Indonesia, performa Antonelli di Monza juga menarik disimak karena ia adalah bagian dari generasi baru pembalap yang mulai mendominasi. Jika ia mampu finis di posisi lima besar dari posisi belakang, itu akan menjadi sinyal bahwa Mercedes kembali kompetitif setelah sempat tertinggal. Namun, jika ia gagal, celah poinnya bisa menyusut dan persaingan juara dunia akan kembali memanas.
Dengan start dari belakang, Antonelli juga berpeluang untuk menunjukkan kemampuan overtaking dan manajemen ban yang matang. Ini bisa menjadi ajang pembuktian lain bagi dirinya, sekaligus memberikan tontonan menarik bagi para penggemar. Pertanyaannya, akankah ia mampu memanfaatkan peluang ini untuk memperbesar keunggulannya di klasemen, atau justru kehilangan poin berharga? Balapan Minggu nanti akan menjadi jawabannya.



