Aonishiki Kembali ke Ozeki dan Menegaskan Ambisi Menuju Yokozuna
Baca dalam 60 detik
- Pegulat asal Ukraina, Aonishiki, resmi kembali ke pangkat ozeki setelah meraih gelar ketiga di turnamen Nagoya.
- Meski cedera, ia memilih fokus pada pemulihan dan menegaskan tekadnya untuk terus naik ke level tertinggi sumo.
- Kembalinya Aonishiki memperkuat persaingan di divisi puncak dan menarik perhatian penggemar sumo global, termasuk di Indonesia.

Pegulat sumo asal Ukraina, Aonishiki, kembali menegaskan ambisinya untuk menembus pangkat tertinggi yokozuna setelah resmi dipulihkan ke posisi ozeki dalam daftar peringkat terbaru yang dirilis Senin (31/8). Di usianya yang baru 22 tahun, ia menjadi sorotan utama menjelang Turnamen Grand Sumo Musim Gugur yang akan digelar di Tokyo bulan depan.
Dalam konferensi pers di Tokyo, Aonishiki mengaku tidak merasakan euforia berlebihan atas kembalinya ia ke pangkat kedua tertinggi tersebut. "Tidak ada emosi khusus. Tekad saya untuk terus melangkah lebih tinggi tetap tidak berubah," ujarnya, menegaskan bahwa pencapaian ini hanyalah batu loncatan menuju target yang lebih besar.
Perjalanan Aonishiki musim ini penuh liku. Sebelum turnamen Nagoya, ia sempat diturunkan ke pangkat sekiwake akibat performa yang kurang konsisten. Namun, dengan catatan 12-3, ia tidak hanya memenuhi syarat 10 kemenangan untuk kembali ke ozeki, tetapi juga mengangkat Piala Kaisar untuk ketiga kalinya. Prestasi ini diraihnya meski harus berjuang melawan cedera pada pergelangan kaki kiri dan jempol kaki.
Menariknya, selama tur pameran regional yang berlangsung hingga akhir pekan lalu, pegulat berpostur 177 sentimeter ini memilih untuk tidak mengikuti latihan tanding. Ia lebih berkonsentrasi pada pemulihan kondisi fisik. "Situasinya berangsur membaik. Saya sudah melakukan semua yang bisa saya lakukan, jadi tidak ada kekhawatiran," jelasnya, memberikan sinyal bahwa ia akan tampil prima di turnamen mendatang.
Di luar persoalan teknis, Aonishiki juga membuat keputusan yang tidak biasa. Ia menolak untuk berfoto dengan lembar peringkat resmi dalam sesi foto seremonial yang lazim dilakukan. "Saya rasa itu tidak perlu. Saya sudah pernah melakukannya," katanya, menunjukkan sikap yang lebih fokus pada target jangka panjang daripada formalitas.
Bagi penggemar sumo di Indonesia, perkembangan ini menambah daya tarik untuk mengikuti turnamen mendatang. Meski sumo tidak sepopuler bulu tangkis atau sepak bola di Tanah Air, kehadiran atlet internasional seperti Aonishiki menunjukkan bahwa olahraga tradisional Jepang ini semakin mendunia. Kisah perjuangannya melawan cedera dan ambisinya yang tinggi bisa menjadi inspirasi, sekaligus membuka peluang bagi siaran langsung atau liputan yang lebih luas di kawasan Asia Tenggara.
Dengan kembalinya Aonishiki ke ozeki, persaingan di puncak sumo dipastikan semakin sengit. Pertanyaannya, akankah ia mampu menjaga konsistensi dan akhirnya dinobatkan sebagai yokozuna ke-74? Atau justru cedera yang masih membayangi akan menjadi penghalang terbesarnya? Semua akan terjawab dalam turnamen yang dimulai bulan depan.



