Prabowo di EEF ke-11: Indonesia Ingin Jadi Jembatan Kerja Sama Kawasan Asia Pasifik
Baca dalam 60 detik
- Presiden Prabowo Subianto menegaskan komitmen Indonesia memperkuat kemitraan strategis dengan Rusia saat menjadi tamu kehormatan di EEF ke-11, Vladivostok.
- Kunjungan ini menyoroti peningkatan perdagangan bilateral sebesar 12 persen dan potensi kerja sama di bidang energi nuklir, pertanian, serta teknologi.
- Langkah ini dinilai sebagai upaya Indonesia menyeimbangkan hubungan dengan kekuatan besar di tengah dinamika geopolitik Asia Pasifik.

Presiden Prabowo Subianto memanfaatkan undangan Eastern Economic Forum (EEF) ke-11 di Vladivostok untuk menegaskan posisi Indonesia sebagai mitra strategis Rusia di Asia Pasifik, sekaligus membuka peluang baru bagi kerja sama ekonomi kawasan yang selama ini belum tergarap maksimal.
Dalam jamuan santap siang bersama Presiden Rusia Vladimir Putin, Kamis (3/9), Prabowo menyebut forum tahunan itu bukan sekadar ajang seremonial, melainkan potensi besar untuk menjembatani konektivitas antarnegara. Pernyataan itu disampaikan di tengah peningkatan volume perdagangan kedua negara yang tumbuh 12 persen pada tahun lalu—angka yang menjadi sinyal penguatan hubungan bilateral setelah puluhan tahun berjalan.
Kunjungan kepala negara ke kota pelabuhan Rusia itu merupakan yang pertama sejak Prabowo menjabat, dan langsung diberi status tamu kehormatan utama. Pilihan Vladivostok sebagai lokasi forum bukan kebetulan: kota ini adalah gerbang Rusia menuju Asia Timur, dan kehadiran Prabowo di sana mengirim pesan bahwa Indonesia serius memperluas akses pasar di kawasan yang tengah bergeser poros ekonominya.
Putin, dalam sambutannya, menyebut Indonesia sebagai "mitra paling kunci" bagi Rusia di Asia Pasifik—sebuah pengakuan yang jarang diberikan Moskow kepada negara non-blok. Ia juga menyoroti kerja sama yang sudah berjalan di bidang pertanian, teknologi, dan energi, khususnya nuklir. Pernyataan tersebut mengindikasikan adanya ruang bagi Indonesia untuk menarik investasi di sektor energi bersih, di tengah kebutuhan domestik akan sumber daya listrik yang terus meningkat.
Bagi Indonesia, langkah ini memiliki makna strategis yang lebih luas. Di tengah ketegangan global antara Amerika Serikat dan Tiongkok, Jakarta mencoba menjaga keseimbangan dengan tetap menjalin hubungan erat bersama Moskow. Diversifikasi mitra dagang menjadi prioritas, dan Rusia menawarkan pasar yang belum banyak dijamah pengusaha Indonesia—mulai dari produk kelapa sawit hingga kebutuhan industri pertahanan.
Meski demikian, tantangan tetap ada. Sanksi Barat terhadap Rusia masih membayangi sektor keuangan dan logistik, sehingga realisasi kerja sama dagang membutuhkan skema pembayaran alternatif dan jalur distribusi yang tidak konvensional. Pemerintah Indonesia perlu memastikan bahwa setiap kesepakatan yang diteken di forum ini memiliki payung hukum yang jelas dan tidak menimbulkan risiko bagi stabilitas ekonomi domestik.
Kehadiran Prabowo di Vladivostok juga menjadi momentum untuk memperkuat peran Indonesia di kawasan. Dengan posisi geografis yang strategis, Jakarta dapat bertindak sebagai penghubung antara Asia Tenggara dan Timur Jauh Rusia—sebuah peran yang selama ini lebih banyak dimainkan oleh Tiongkok dan Jepang. Pertanyaannya, apakah Indonesia mampu menangkap peluang itu sebelum aktor lain bergerak lebih cepat?



