Gal Gadot Tutup Pintu untuk Wonder Woman 3: Prioritas Keluarga dan Kritik Halus pada DC Studios
Baca dalam 60 detik
- Aktris Gal Gadot mengisyaratkan tak akan lagi memerankan Wonder Woman karena ingin fokus mengurus empat anaknya.
- Ia menyoroti penanganan DC Studios terhadap para pemeran lama, seperti Henry Cavill dan Patty Jenkins, yang dinilainya kurang elegan.
- Di proyek terbarunya, film 'Bitcoin', Gadot justru merangkul AI untuk set dan pencahayaan, sembari memastikan performa aktingnya tetap murni manusiawi.

Gal Gadot, pemeran Wonder Woman di jagat DC, secara gamblang menyatakan enggan kembali memerankan pahlawan super tersebut. Bukan karena tawaran yang tak menarik, melainkan pertimbangan personal yang lebih dalam: kehadirannya untuk empat anaknya. Pernyataan ini disampaikan dalam podcast Happy Sad Confused, menegaskan bahwa prioritas hidupnya telah bergeser dari sorotan kamera ke meja makan keluarga.
Keputusan ini datang di tengah gejolak DC Studios yang kini dipegang James Gunn dan Peter Safran. Rencana sekuel ketiga Wonder Woman memang telah lama dibekukan, namun pengakuan Gadot menambah babak baru dalam narasi peralihan kekuasaan di studio tersebut. Ia tak ragu mengkritik cara DC memperlakukan para kreator dan bintang lamanya, menyebut penanganan terhadap Henry Cavill dan sutradara Patty Jenkins sebagai sesuatu yang kurang elegan.
โSaya melihat bagaimana orang lain diperlakukan. Situasi Henry Cavill tidak ditangani dengan baik, begitu juga Patty Jenkins. Kami semua dewasa dan baik-baik saja,โ ujar Gadot, seperti dikutip dari wawancaranya. Meski demikian, ia menegaskan tidak menyimpan dendam. Baginya, karakter Wonder Woman bukanlah miliknya pribadi; ia hanyalah โwadahโ yang kebetulan mendapat kehormatan menghidupkan sosok tersebut.
Di sisi lain, Gadot tengah bersiap membintangi film terbaru sutradara Doug Liman bertajuk โBitcoinโ. Proyek ini menarik perhatian karena penggunaan AI untuk membangun set dan pencahayaan. Gadot mengaku awalnya khawatir, tetapi ia memilih untuk beradaptasi daripada menolak arus zaman. โSaya takut pada AI, tapi apakah saya akan takut dan berpaling? Tidak. Saya takut, tapi saya bermain dengannya, mempelajarinya, dan mencoba mendidik diri sendiri,โ katanya.
Kekhawatiran Gadot bukan tanpa dasar. Ia bercerita bahwa butuh enam bulan bagi pengacaranya untuk meninjau setiap skenario terkait penggunaan AI dalam film tersebut. Ia bersikeras agar AI tidak menyentuh aspek performa aktingnya. Upaya protektif ini bahkan sampai menarik perhatian SAG-AFTRA, serikat aktor Hollywood, yang meminta masukan untuk memperbarui kontrak mereka demi melindungi aktor lain dari potensi penyalahgunaan AI.
Bagi penggemar di Indonesia, kabar ini mungkin mengecewakan. Wonder Woman telah menjadi ikon pop culture yang digemari banyak orang, termasuk di tanah air. Namun, keputusan Gadot juga bisa menjadi refleksi tentang pentingnya keseimbangan hidup, terutama bagi para pekerja kreatif yang kerap dituntut totalitas. Di sisi lain, sikapnya terhadap AI membuka diskusi tentang masa depan industri film global, yang juga relevan bagi sineas dan pekerja film Indonesia yang mulai mengeksplorasi teknologi serupa.
Langkah Gadot ini menegaskan bahwa di balik gemerlap Hollywood, ada pertimbangan personal yang kuat. Pertanyaannya, akankah DC Studios menemukan pengganti yang mampu mengangkat kembali popularitas Wonder Woman? Atau justru karakter ini akan diredefinisi total di bawah kepemimpinan baru Gunn dan Safran? Hanya waktu yang bisa menjawab, namun satu hal yang pasti: Gal Gadot telah menuliskan akhir yang manis untuk kisahnya sebagai putri Themyscira.



