Sam Smith Akui Menyesal Tak Membalas Surat Tom Petty soal Kontroversi 'Stay With Me'
Baca dalam 60 detik
- Pelantun 'Stay With Me' mengaku menyesal tidak pernah membalas surat dari Tom Petty terkait tudingan kemiripan lagu, yang berujung pada pembagian royalti.
- Dalam wawancara terbaru, Sam Smith mengungkapkan bahwa saat itu ia masih muda dan hanya mendengarkan penyanyi diva, sehingga tidak mengenal karya Petty.
- Kini, setelah Tom Petty wafat, Sam Smith justru menemukan kedamaian lewat lagu-lagunya, termasuk 'It Will All Work Out' yang menjadi teman di masa sulit.

Penyanyi asal Inggris, Sam Smith, membuka luka lama tentang perseteruan dengan mendiang Tom Petty terkait kemiripan lagu 'Stay With Me' dengan 'I Won't Back Down'. Dalam sebuah pengakuan jujur, Smith menyesali sikapnya yang tidak pernah membalas surat pribadi dari Petty, sebuah keputusan yang hingga kini masih menghantuinya.
Kontroversi bermula pada 2014 ketika 'Stay With Me' yang ditulis Smith bersama James Napier dan William Phillips dituding memiliki kemiripan dengan lagu Tom Petty yang dirilis pada 1989. Alhasil, Petty dan rekannya Jeff Lynne harus dicantumkan sebagai penulis lagu dan mendapat 12,5 persen royalti. Saat itu, Smith bersikeras tidak pernah mendengar lagu tersebut, namun belakangan mengakui ada kelalaian dalam proses kreatifnya.
Dalam wawancara dengan Alchemy With Anthony Mason, Smith mengungkapkan bahwa dirinya tumbuh dengan mendengarkan penyanyi-penyanyi diva seperti Stevie Wonder dan George Michael, dan jarang mendengarkan musisi pria lain. "Saya sebagai anak muda jujur saja tidak mendengarkan musik pria. Saya hanya suka diva dan pop perempuan," ujarnya. Pernyataan ini menjadi sorotan karena menunjukkan betapa terbatasnya referensi musik yang dimilikinya saat itu.
Puncak konflik terjadi sehari sebelum Grammy Awards 2015, ketika Smith menerima surat dari Tom Petty. Awalnya, ia merasa marah dan kesal, apalagi saat itu adalah album pertamanya dan peluang sukses yang besar. "Saya sangat marah saat membacanya, itu jujur," kenang Smith. Namun seiring berjalannya waktu, ia mulai memahami maksud Petty yang sebenarnya. "Dia bilang di suratnya, hanya ada beberapa nada di piano, dan itu sebabnya saya kesal. Tapi sekarang saya paham, dia mencoba mengatakan bahwa dia melihat saya dan mengerti apa yang saya alami," tambahnya.
Penyesalan terbesar Smith adalah tidak pernah membalas surat Petty. "Saya sangat menyesal tidak pernah membalasnya. Saya hanya anak queer berusia 22 tahun yang sassy, tapi seharusnya saya membalas," tuturnya. Kini, di usia 34 tahun, Smith melihat kejadian itu sebagai pelajaran berharga tentang kerendahan hati dan pentingnya menghargai proses orang lain.
Di tengah penyesalan itu, ada hikmah yang tak terduga. Konflik tersebut justru memperkenalkan Smith pada karya-karya Tom Petty. Salah satu lagu yang paling berkesan adalah 'It Will All Work Out', yang menurut Smith menjadi teman di saat-saat tergelapnya. "Sejak kejadian itu, saya mendengarkan musiknya. Ada lagu berjudul 'It Will All Work Out' yang sangat menyentuh dan menjadi lagu yang saya putar di masa-masa sulit," ungkapnya.
Kisah ini menjadi pengingat bahwa di industri musik, perselisihan hak cipta sering kali berujung pada solusi hukum, tetapi di balik itu ada dimensi manusiawi yang tak kalah penting. Bagi musisi muda Indonesia, kasus ini relevan sebagai pelajaran tentang pentingnya memahami referensi musik secara luas dan menjaga hubungan baik antar kreator, meski dalam situasi konflik.
Ke depannya, pertanyaan yang muncul adalah apakah pengakuan Sam Smith ini akan membuka ruang rekonsiliasi dengan keluarga Tom Petty, atau justru menjadi penutup yang manis atas sebuah babak kelam dalam kariernya. Yang jelas, kisah ini mengajarkan bahwa penyesalan selalu datang terlambat, tetapi tidak pernah sia-sia jika dijadikan pelajaran.



