Ghost dan Hiatus Tanpa Batas: Tobias Forge Menolak Album Asal-asalan
Baca dalam 60 detik
- Vokalis Ghost, Tobias Forge, mengumumkan jeda berkarya tanpa target waktu, menolak memproduksi album tanpa dorongan kreatif yang jelas.
- Keputusan ini muncul setelah tur panjang Skeletour yang melelahkan, menandai pertama kalinya dalam karier band ia merasa kehilangan arah.
- Hiatus ini juga didorong kebutuhan pribadi untuk fokus pada keluarga, terutama kedua anaknya yang beranjak dewasa, serta mencari inspirasi baru.

Vokalis band rock asal Swedia, Ghost, Tobias Forge, memutuskan untuk mengambil jeda panjang dari industri musik. Ia menegaskan tidak akan kembali ke studio rekaman sebelum memiliki gagasan yang benar-benar matang, menolak membuat album sekadar untuk memenuhi tuntutan kontrak atau tren pasar.
Keputusan ini diumumkan setelah Ghost menuntaskan rangkaian tur dunia bertajuk Skeletour, yang merupakan bagian dari promosi album terbaru mereka, Skeletรก (2025). Tur tersebut berakhir di California pada Februari lalu. Bagi Forge, momen akhir tur menjadi titik refleksi yang tidak biasa: untuk pertama kalinya dalam sejarah band, ia merasa tidak tahu langkah selanjutnya.
Dalam wawancara dengan majalah Kerrang!, Forge mengungkapkan bahwa perasaan kehilangan arah itulah yang justru menjadi sinyal untuk berhenti sejenak. "Saya tidak akan memaksakan diri membuat album tanpa alasan. Saya harus benar-benar menginginkannya. Saya harus punya sesuatu untuk disampaikan," ujarnya. Ia menambahkan bahwa seluruh album Ghost sebelumnya lahir dari inspirasi dan tujuan yang jelas, bukan sekadar kewajiban kontraktual.
Hiatus ini juga dilatarbelakangi kebutuhan personal. Forge mengakui ingin menghabiskan lebih banyak waktu dengan kedua anaknya yang berusia 17 tahun, serta mencari inspirasi baru yang selama ini terkuras oleh rutinitas tur dan produksi. "Saya merasa lelah secara fisik dan mental. Anak-anak saya tidak akan selamanya berada di rumah," katanya dalam wawancara dengan program radio Full Metal Jackie.
Keputusan Forge ini menarik untuk dicermati, terutama di tengah industri musik yang kerap menuntut produktivitas tinggi. Bagi penggemar Ghost di Indonesia, kabar ini mungkin mengecewakan, tetapi juga bisa dimaklumi. Fenomena hiatus seperti ini sebenarnya bukan hal baru di dunia musik global. Banyak musisi besar yang mengambil jeda panjang untuk menjaga kualitas karya dan kesehatan mental, seperti yang dilakukan oleh band-band seperti Tool atau Rage Against the Machine.
Di sisi lain, keputusan ini juga mencerminkan tren yang lebih luas di industri hiburan, di mana para seniman mulai berani menolak tekanan untuk terus berkarya demi mengejar popularitas atau keuntungan finansial. Forge sendiri menegaskan bahwa ia tidak akan berhenti total; ia hanya butuh waktu untuk mengisi ulang energi kreatifnya. "Saya tidak punya ide sekarang, dan saya kehabisan bahan. Satu-satunya cara untuk mendapatkan inspirasi baru adalah dengan menjauh sejenak," jelasnya.
Bagi para penggemar, masa depan Ghost memang masih gelap. Namun, sejarah menunjukkan bahwa hiatus yang diambil dengan kesadaran penuh sering kali melahirkan karya-karya terbaik. Pertanyaannya, apakah Ghost akan kembali dengan album yang lebih matang, atau justru memilih untuk mengubah arah musiknya secara fundamental? Hanya waktu yang bisa menjawab.



