Mengenang 70 Tahun Leslie Cheung: 'Days of Being Wild' Tayang dalam Restorasi 4K di Singapura
Baca dalam 60 detik
- Golden Village Singapura akan memutar film klasik 'Days of Being Wild' dalam versi 4K untuk memperingati ulang tahun ke-70 Leslie Cheung.
- Pemutaran berlangsung 11-13 September di empat lokasi, dengan tiket mulai dijual 2 September seharga S$22.
- Restorasi 4K ini menjadi momentum bagi penggemar di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, untuk bernostalgia dengan karya legendaris Wong Kar-wai.

Rangkaian peringatan 70 tahun kelahiran mendiang bintang Hong Kong, Leslie Cheung, akan diisi dengan pemutaran khusus film legendarisnya, Days of Being Wild, dalam format restorasi 4K. Rangkaian pemutaran ini digelar jaringan bioskop Golden Village di Singapura pada 11โ13 September mendatang, menghadirkan kembali salah satu mahakarya sinema Asia yang membekas hingga kini.
Film yang dirilis pertama kali pada 1990 ini merupakan garapan sutradara papan atas Wong Kar-wai. Kisahnya berpusat pada York, seorang pria muda yang kehilangan arah dan tengah mencari jati diri serta ibu kandungnya. Selain Cheung, film ini juga dibintangi deretan aktor dan aktris kenamaan Hong Kong, seperti Andy Lau, Maggie Cheung, Carina Lau, Jacky Cheung, dan Tony Leung. Kehadiran para bintang besar itu menjadikan film ini salah satu ikon budaya pop Asia yang tak lekang oleh waktu.
Golden Village akan menayangkan versi restorasi 4K dengan audio asli Kanton serta subtitle Inggris dan Mandarin. Pemutaran berlangsung di empat lokasi: VivoCity, Suntec City, Cineleisure, dan Century Square. Tiket dibanderol S$22 (sekitar Rp260 ribu) dan mulai dijual pada Rabu, 2 September, pukul 15.00 waktu setempat. Penonton yang membeli tiket juga berkesempatan mendapatkan poster A3 edisi terbatas selama persediaan masih ada.
Langkah Golden Village ini menjadi bagian dari tren restorasi film klasik Asia yang kian marak. Sebelumnya, sejumlah film lawas Hong Kong juga telah dipulihkan dalam format 4K, seiring tingginya minat generasi baru terhadap sinema era 1980-an dan 1990-an. Bagi penggemar di Indonesia, kabar ini tentu menarik, meski belum ada kepastian apakah film ini akan tayang di bioskop dalam negeri. Namun, para penggemar tetap bisa menantikan kemungkinan pemutaran di festival film atau platform streaming.
Bagi Leslie Cheung, peringatan ulang tahun ke-70 ini menjadi momen refleksi atas warisan artistiknya. Sepanjang kariernya, ia tidak hanya dikenal sebagai aktor berbakat, tetapi juga penyanyi legendaris yang mendunia. Hingga kini, para penggemar di berbagai negara rutin menggelar acara peringatan tahunan untuk mengenangnya. Di Indonesia, basis penggemar Leslie Cheung juga masih aktif, terutama di kalangan pencinta film dan musik Hong Kong klasik.
Kehadiran restorasi 4K ini juga menegaskan bahwa karya-karya Wong Kar-wai tetap relevan di tengah gempuran konten digital. Gaya sinematografinya yang khas, dengan pencahayaan dramatis dan narasi emosional, terus dipelajari dan diapresiasi oleh sineas muda. Bagi penonton yang belum sempat menonton film ini di layar lebar, pemutaran ini menjadi kesempatan langka untuk merasakan pengalaman sinematik yang autentik.
Langkah Golden Village ini juga menjadi indikasi bahwa pasar bioskop Asia Tenggara masih memiliki ruang bagi film-film klasik yang dipulihkan. Dengan harga tiket yang terjangkau dan edisi poster eksklusif, acara ini diharapkan mampu menarik tidak hanya penggemar lama, tetapi juga generasi baru yang ingin mengenal lebih dekat karya-karya legendaris. Pertanyaannya, akankah jaringan bioskop di Indonesia menyusul langkah serupa untuk menghadirkan restorasi film-film klasik Asia? Jika ya, para penggemar di Tanah Air tentu akan menyambutnya dengan antusias.



